Wah, Mahasiswa UGM Sulap Limbah Cangkang Telur Jadi Pupuk Gama Organic, Seperti Apa?

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Selasa, 10 Oktober 2023 10:37 WIB
Wah, Mahasiswa UGM Sulap Limbah Cangkang Telur Jadi Pupuk Gama Organic, Seperti Apa?

Sekelompok mahasiswa UGM menunjukkan hasil mengolah limbah cangkang telur menjadi pupuk organik yang diberi bnama Gama Organic, Selasa (10/10/2023). Ist/ugm

Harianjogja.com, SLEMAN—Sekelompok mahasiswa UGM berhasil mengolah limbah cangkang telur menjadi pupuk organik. Produk bernama Gama Organic. Seperti apa?

Kelompok mahasiswa UGM yang mengolah limbah cangkang telur menjadi pupuk organik terdiri dari Faris Ariwibowo (Fakultas Peternakan 2022), Rakha Arya Cahya (Sekolah Vokasi 2021), Amandira Dhirgandita (Fakultas Teknik 2021), Aurelia Nadiya Prayudanti (Fakultas Peternakan 2022), dan Arini Roisatul Baroroh (Fakultas Peternakan 2022).

Mereka memanfaatkan limbah cangkang telur yang jumlahnya cukup berlimpah di DIY menjadi pupuk organik. Inovasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan tanaman secara optimal. "Pembuatan Gama Organic ini bermula dari keprihatinan terhadap persoalan sampah di DIY yang belum efektif pengelolaannya," kata Faris, Selasa (10/10/2023).

BACA JUGA: Lahan Pertanian DIY Terus Berkurang, Pakar: Perlu Ada Kompensasi!

Bahkan, lanjutnya, tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan sempat kewalahan menerima sampah yang masuk karena overload hingga mencapai 700 ton sampah per harinya. Dampaknya, per tanggal 23 Juli 2023 kemarin TPA Piyungan tidak lagi dapat menerima pelayanan sampah dan saat ini sudah dibuka secara terbatas yakni menerima 200 ton sampah/hari.

Masalah sampah ini, lanjutnya, menyebabkan penumpukan dan bau yang tidak sedap karena sampah anorganik bercampur dengan sampah organik sehingga perlu ada inovasi pengelolaan sampah organik tersebut.

“Salah satu contoh sampah organik yang dihasilkan adalah cangkang telur dari industri peternakan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2022, DIY menghasilkan 168.303,00 ton telur/tahun,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, para mahasiswa muda ini pun memutar otak memanfaatkan limbah cangkang telur dan sampah organik lainnya menjadi sesuatu yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Merekapun mengolah limbah cangkang telur dengan sampah organik lainnya seperti leri, kulit pisang, dan kulit bawang untuk dijadikan pupuk organik cair.

“Bahan-bahan tersebut memiliki kandungan yang baik untuk tanaman seperti kalsium, nitrogen, fosfor, kalium, sulfur, vitamin B1, dan kandungan lainnya,”ungkapnya.

Rakha menambahkan kehadiran Gama Organic ini mendapat respon yang baik dari masyarakat. Setelah diaplikasikan ke tanaman hias dan sayuran mampu mendorong pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.

BACA JUGA: Siapkan Generasi Unggul di Era Digital, Gojek Roadshow GoCampus ke UGM

Hal ini merupakan hasil dari pupuk organik yang memiliki kandungan yang tinggi dan berbahan alami. Produk pupuk organik Gama Organic ini dijual di pasaran dalam dua bentuk yakni botol semprot dan botol biasa berukuran 1 liter dengan harga Rp35.000,00/pcs.

Perbedaan kedua bentuk ini hanya ada pada konsentrasinya. Botol biasa perlu dicairkan dalam pengaplikasiannya sedangkan botol semprot bisa langsung disemprotkan ke tanaman.

“Produk ini bisa didapat dengan melakukan pemesanan di IG: pkmk.gamaorganic.ugm, shoope: https://shp.ee/mhcmeij,” jelasnya.

Rakha berharap adanya inovasi produk pupuk organik ini bisa menjadi solusi pengelolaan smapah organik di tanah air. Selain itu juga diharapkan mampu menunjang kesehatan serta meningkatkan kualitas tanaman di Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online