Pertama di Indonesia, Embarkasi Haji DIY Akan Berbasis Hotel
Untuk pertama kalinya di Indonesia, Embarkasi Yogyakarta akan mengganti konsep asrama haji menjadi penginapan berbasis hotel.
Prof Susetyowati saat menyampaikan pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam Bidang Gizi Kesehatan pada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Selasa (7/5/2024), di ruang Balai Senat UGM./ ugm.ac.id
Harianjogja.com, SLEMAN—Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Susetyowati mengembangkan alat skrining gizi untuk mendeteksi malnutrisi pada pasien di rumah sakit.
Dosen pada bidang gizi kesehatan ini mengatakan malnutrisi masih menjadi salah satu isu yang dihadapi tenaga kesehatan di rumah sakit. Angka malnutrisi yang ada di rumah sakit masih tergolong tinggi terutama pada negara berkembang.
Malnutrisi diartikan sebagai kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan zat gizi yang menghasilkan efek tidak baik pada komposisi tubuh, fungsi, dan outcome klinis. karena itu diperlukan skrining gizi untuk mendeteksi malnutrisi untuk mencegah penurunan kondisi gizi pasien selama perawatan di rumah sakit.
Susetyowati pun menemukan alat pendeteksi malnutrisi yang diberi nama "Simple Nutrition Screening Tool (SNST)". Alat tersebut disebut memiliki pola kerja sederhana yang bisa digunakan dalam waktu kurang dari lima menit.
"Alat skrining gizi ini sangat sederhana ini tanpa pengukuran antropometri yang menjadi hambatan selama ini dan dapat dilakukan dengan waktu yang singkat yaitu tiga hingga lima menit," kata dia dalam pengukuhan dirinyas ebagai guru besar di Balai Senat UGM seperti dilansir dari laman resmi UGM, Rabu (8/5/2024).
Alat skrining gizi SNST, kata dia, menggunakan enam pertanyaan untuk menilai status gizi seseorang. Susetyowati menyebut alat skrining gizi SNST yang dikembangkan telah dibandingkan dengan skrining gizi yang lain yang sudah terbukti valid dan reliabel sehingga memiliki nilai yang sama dengan alat skrining lainnya.
Menurut dia, munculnya kasus malnutrisi di rumah sakit disebabkan kurangnya pengukuran dan pencatatan rutin tinggi serta berat badan, serta kurangnya keterampilan menilai status gizi dengan antropometri dan biokimia.
"Kekurangan ini membuat catatan pada rekam medik terkait monitoring asupan makan pasien berkurang sehingga asupan gizi sebagian besar tidak terdeteksi dan tidak dilakukan monitoring status gizi secara rutin," ujar dia.
Karena itu, kata dia, skrining gizi sangat perlu dilakukan pada semua pasien rawat inap bertujuan untuk memprediksi probabilitas membaik atau memburuknya dampak yang berkaitan dengan faktor gizi dan mengetahui pengaruh intervensi gizi.
"Kehilangan berat badan, indeks massa tubuh, dan kurangnya asupan makanan merupakan elemen utama dalam mendefinisikan malnutrisi," kata Susetyowati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Untuk pertama kalinya di Indonesia, Embarkasi Yogyakarta akan mengganti konsep asrama haji menjadi penginapan berbasis hotel.
Donald Trump memperingatkan Oman terkait Selat Hormuz. AS tegaskan jalur pelayaran vital itu tidak boleh dikuasai pihak mana pun.
Jadwal SPMB Kulonprogo 2026 resmi diumumkan. Cek kuota SD-SMP terbaru, jalur domisili berubah dan pendaftaran kini full online.
Ferrari Luce 2027 resmi diperkenalkan sebagai mobil listrik pertama Ferrari dengan tenaga 772 kW, jarak tempuh 530 km, dan desain futuristik.
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca DIY 28 Mei 2026. Hujan lebat, petir, dan angin kencang berpotensi terjadi di Kulon Progo dan Sleman.
Tiga pelajar di Sragen diamankan polisi usai bikin konten pocong jadi-jadian di TikTok. Aksi demi viral ini sempat bikin heboh warga.