Sensus Ekonomi 2026 Mulai Digelar, BPS Jogja Data Usaha Digital
BPS Kota Jogja menggandeng RT/RW untuk mencegah penolakan saat Sensus Ekonomi 2026. Pendataan usaha digital jadi fokus utama.
Ilustrasi Sekolah/Ist-Riauonline
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY memastikan tidak ada kendala dalam penghapusan penjurusan di SMA DIY tahun 2024.
Wakil Kepala Disdikpora DIY, Suhirman mengatakan penghapusan penjurusan SMA merupakan bagian dari penerapan kurikulum merdeka. Menurutnya, sebagian sekolah di DIY telah menerapkan kurikulum merdeka sejak dua tahun lalu. Sehingga sejak saat itu, penghapusan penjurusan sudah mulai diberlakukan.
"Sekarang hampir semua sekolah [di DIY] sudah menerapkan kurikulum merdeka," ujarnya, Senin (22/7/2024).
Dengan begitu, menurut dia hampir seluruh SMA di DIY menghapuskan peminatannya. Penerapan kurikulum merdeka mengharuskan siswa mengikuti seluruh mata pelajaran saat duduk di kelas 10. Kemudian, siswa dapat memilih mata pelajaran yang disenangi saat kelas 11.
"Dalam dua tahun ini [penerapan penghapusan penjurusan SMA] kelihatannya lancar-lancar saja, karena [mata pelajaran] sesuai kebutuhan siswa," ujarnya.
Kepala Sekolah SMA N 1 Bantul, Ngadiya menyampaikan sekolahnya telah menerapkan kebijakan penghapusan penjurusan sejak dua tahun lalu. Saat kelas 10 siswa akan mengikuti seluruh mata pelajaran umum. Kemudian, ketika kelas 11 siswa akan diminta memilih beberapa mata pelajaran sesuai minat siswa.
Mata pelajaran pilihan tersebut sama dengan mata pelajaran yang dahulu digunakan sebagai mata pelajaran peminatan, antara lain biologi, fisika, dan geografis. "[Pilihan mata pelajaran] kelas 11 kemudian dilanjutkan kelas 12, siswa bisa memilih pelajaran [dulu peminatan] IPA, IPS atau campuran," ujarnya.
Sekolah mengorganisasi rombongan belajar setiap kelas yang memilih mata pelajaran tersebut. Dalam satu rombongan belajar menurutnya harus ada 36 siswa sehingga tidak ada rombongan belajar yang sepi peminat atau yang kelebihan peminat.
Bagi mata pelajaran yang sepi atau kelebihan peminat, pihaknya akan berkomunikasi dengan orang tua murid agar menyesuaikan dengan mata pelajaran yang ada.
"[Mata pelajaran] dengan pemilih sedikit akan kita gabung [siswanya] namun dengan sosialisasi lebih dahulu, karena satu kelas harus ada 36 orang," ucapnya.
BACA JUGA : Optimalkan Penerimaan Daerah Sektor PBB, Pemkot Jogja Beri Stimulus Wajib Pajak
Hal itu menurutnya lantaran guru, dan kelas yang ada terbatas. Sehingga meskipun siswa telah memilih mata pelajaran yang diminati, pihak sekolah akan menyesuaikan pemilihan tersebut dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang ada di sekolah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPS Kota Jogja menggandeng RT/RW untuk mencegah penolakan saat Sensus Ekonomi 2026. Pendataan usaha digital jadi fokus utama.
Lonjakan penumpang KA Daop 6 Yogyakarta naik hingga 91% saat libur panjang. KAI tambah 7 perjalanan kereta.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Jadwal SIM Keliling Jogja Mei 2026 lengkap di Alun-Alun Kidul, Sasono Hinggil, dan MPP. Cek lokasi, jam, dan syarat perpanjangan SIM A dan C terbaru.
DPRD DIY ungkap irigasi rusak, petani kesulitan air, hingga alih fungsi lahan yang ancam ketahanan pangan.