Atletico Madrid Tumbang di Kandang, Celta Vigo Menang Tipis 1-0
Atletico Madrid kalah 0-1 dari Celta Vigo di pekan 35 La Liga. Gol Borja Iglesias jadi penentu, posisi klasemen tak berubah.
Para pemenang YPTI Mastercam Competition 2024 yang diikuti belasan SMK di DIY, Jumat (16/8/2024). Ist
Harianjogja.com, SLEMAN—Untuk menghasilkan lulusan SMK yang kompeten, maka link and match antara sekolah vokasi dengan kalangan industri harus diperkuat. Salah satunya, dengan menggelar kompetisi sesuai dengan bidangnya.
Direktur Utama PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (YPTI) Petrus Tedja Hapsoro mengatakan selama ini perusahaannya yang bergerak di bidang manufaktur didukung oleh para alumni sekolah vokasi yang mumpuni di bidangnya. Sebuah perusahaan bisa maju, berkembang dan kompetitif, katanya, kalau didukung oleh alumni sekolah vokasi yang kompeten.
"Salah satu caranya, selain banyak bekerjasama dengan sekolah vokasi, kami juga menggelar YPTI Mastercam Competition 2024 untuk mencari talent-talent. Kedua, kami membuat kompetisi semenarik mungkin agar mereka tahu industri itu menarik," katanya usai kegiatan YPTI Mastercam Competition 2024, Jumat (16/8/2024).
BACA JUGA: Keluhkan BOP Tak Cukup untuk Gaji Guru, PKBM Mandiri Minta Bantuan Pemkab Bantul
Kegiatan YPTI Mastercam Competition 2024 digelar sejak Kamis (15/8/2024) hingga Jumat (16/8/2024). Kompetisi tersebut diikuti oleh 12 SMK di DIY dengan sejumlah tantangan. Mulai dari membuat desain mastercam, membuat program dan hasilnya bisa diaplikasikan pada teknik permesinan.
Dari 12 peserta, panitia menyaring tiga peserta sebagai juara. Hasilnya, Jovanta Nur Hidayat dari SMKN 2 Jogja meraih juara pertama, disusul Maylandri Bayu Dewaji dari SMK 2 Wonosari (juara 2) dan Ryan Catur Pambudi dari SMKN 2 Pengasih (juara 3). Selain mendapat uang pembinaan dan plakat para peserta juga mendapat sertifikat.
"Kesiapan mental para peserta masih perlu ditingkatkan. Perlu ada playground bagi siswa untuk berinteraksi secara fisik. Kalau secara pengetahuan bagus, tapi masih grogi. Jadi di sekolah perlu ada pelatihan supaya secara mental anak kuat," kata Petrus.
Diakui Petrus, tidak mudah mengajak pengusaha untuk memperkuat link and match dengan lembaga pendidikan. Pihaknya secara bertahap akan mendorong pelaku usaha lainnya yang tergabung dalam Apindo [Asosiasi Pengusaha Indonesia] maupun Kadin [Kamar Dagang Indonesia] untuk menggelar kegiatan serupa.
"Industri itu kan bermacam-macam dan tidak mudah mengajak pengusaha melakukan ini. Bagaimana industri mau terlibat menyiapkan peserta didiknya. Tidak hanya siap bekerja tetapi juga siap berwirausaha dan berkompetisi, ya pelan-pelan," katanya.
Ignatius Aris Indarianto, salah seorang juri YPTI Mastercam Competition 2024 yang juga Dosen Sekolah Vokasi UGM, ajang tersebut menjadi contoh yang baik untuk memperkuat link and match antara lembaga pendidikan dengan industri. Kalangan industri juga akan diuntungkan dengan ajang serupa. Mereka tidak akan susah-susah melakukan rekrutmen karena bisa melihat langsung talent-talent yang dibutuhkan.
"Jadi di ajang ini SMK seolah dibuka matanya bahwa tuntutan industri seperti ini loh. Harapannya kompetisi ini bisa meningkatkan proses pembelajaran di sekolah sesuai kebutuhan industri," katanya.
Menurut Aris, kondisi pendidikan vokasi di DIY sudah baik. Hanya saja sekolah-sekolah vokasi masih perlu terus beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhan industri. Untuk menjembatani kebutuhan sekolah vokasi dengan kebutuhan industri, katanya, maka sekolah perlu memaksimalkan program magang.
"Sekolah vokasi bisa menitipkan siswanya untuk magang di industri. Ini untuk mengatasi keterbatasan peralatan di sekolah. Karena tidak mungkin peralatan di sekolah vokasi bisa menyamai industri. Maka salah satu solusinya dengan program magang ini," katanya.
BACA JUGA: 20 Sekolah Dapat Bantuan Hibah Pendidikan Rp500 Juta dari Pemkab Sleman
Peraih juara pertama YPTI Mastercam Competition 2024, Jovanta Nur Hidayat dari SMKN 2 Jogja mengatakan, event tersebut banyak memberikan manfaat kepada peserta. Selain membangun jaringan antar siswa, ia juga banyak mencoba mesin-mesin yang biasa digubakan di industri.
"Materi yang dikompetisikan juga lumayan sulit. Sebelum event saya latihan juga. Kalau di sekolah gambar manual tanpa komputer, tapi kalau di sini sudah pakai komputer," katanya.
Menurutnya, kompetisi tersebut dinilai penting untuk terus digelar. Selain menambah pengetahuan, kompetisi serupa juga akan membuat para siswa SMK mengetahui kebutuhan kalangan industri. "Selain itu, mentalnya (kompetitif) juga bisa dibangun oleh siswa," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Atletico Madrid kalah 0-1 dari Celta Vigo di pekan 35 La Liga. Gol Borja Iglesias jadi penentu, posisi klasemen tak berubah.
Pemerintah menyiapkan aturan KPR tenor 40 tahun agar cicilan rumah lebih ringan dan akses rumah murah semakin mudah dijangkau masyarakat.
Bahlil Lahadalia mengaku sudah menjelaskan aturan baru harga patokan mineral kepada investor dan Kedubes China di tengah kekhawatiran regulasi tambang.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.