JABFEST 2026 Digelar Dua Pekan, Hadirkan Alissa Wahid hingga Saut Situmorang
JABFEST 2026 digelar 30 September-12 Oktober di The Ratan dengan menghadirkan Alissa Wahid, Martin Suryajaya hingga Saut Situmorang.
Mahasiswa KKN Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tengah mengabdi di Desa Jeporo, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, menghadirkan program unggulan berbasis lingkungan dan ekonomi yaitu budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
WONOGIRI – Mahasiswa KKN Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tengah mengabdi di Desa Jeporo, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, menghadirkan program unggulan berbasis lingkungan dan ekonomi yaitu budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Program ini tidak hanya dirancang sebagai solusi penanganan limbah organik, tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan ekonomi melalui teknologi pertanian berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, tim KKN IPB menggandeng Pondok Pesantren Baitul Izza sebagai mitra utama. Hal ini karena lembaga pendidikan berbasis pesantren dinilai memiliki potensi besar dalam mengadopsi inovasi yang produktif dan aplikatif.
Program budidaya maggot ini dilaksanakan melalui tiga tahap utama. Tahap pertama mencakup persiapan dan perencanaan teknis seperti identifikasi lokasi, koordinasi dengan pihak pesantren, serta persiapan alat dan bahan budidaya.
Tahap kedua, yang menjadi inti pelaksanaan, berlangsung pada 21 Juli 2025. Dalam tahap ini, mahasiswa bersama mitra membangun kandang maggot di lingkungan pesantren. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi edukasi mengenai manfaat dan teknik budidaya maggot yang mencakup pembuatan media, pemberian pakan organik, hingga simulasi pemanenan.
Para santri dan pengurus menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif terlibat dalam praktik langsung dan sesi diskusi.
Tahap ketiga berupa pendampingan dan pemantauan secara berkala. Tim KKN IPB secara rutin mengunjungi mitra untuk memastikan proses budidaya berjalan optimal serta membantu mengatasi kendala teknis. Pendampingan ini bertujuan membangun kemandirian pesantren dalam mengelola budidaya maggot secara berkelanjutan.
Pemilihan program budidaya maggot BSF bukan tanpa alasan. Maggot mampu mengurai sampah organik secara cepat dan efisien, sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai alternatif pakan ternak, khususnya ikan dan unggas. Dengan demikian, program ini tidak hanya menjadi solusi bagi persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang wirausaha.
“Program ini bukan sekadar budidaya larva, melainkan penanaman pola pikir inovatif dan berkelanjutan. Maggot adalah simbol perubahan dari sampah menjadi manfaat, dari masalah menjadi peluang” ujar Katiyo, selaku pimpinan Pondok Pesantren Baitul Izza.
Melalui program ini, mahasiswa IPB berharap kontribusi yang diberikan dapat terus berlanjut dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya oleh Pondok Pesantren Baitul Izza. Kedepannya, budidaya maggot ini diharapkan bisa menjadi proyek percontohan yang direplikasi di wilayah lain, sehingga memberikan manfaat lebih luas dalam mendukung ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan pemberdayaan ekonomi lokal. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JABFEST 2026 digelar 30 September-12 Oktober di The Ratan dengan menghadirkan Alissa Wahid, Martin Suryajaya hingga Saut Situmorang.
DPC Gerindra Gunungkidul mulai membangun kantor permanen di Baleharjo dengan anggaran sekitar Rp1 miliar dari iuran kader dan anggota.
Warga Padukuhan Karang menolak tambang pasir Sungai Progo. DPRD Kulonprogo mendesak Pemkab hadir, sementara Wabup mengaku sudah mediasi.
Wamenkes Dante Saksono menyebut layanan BPJS akan disetarakan dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal dan prioritas penyakit katastropik.
KPK mengecek aset glamping 1,5 hektare di Ciater, Subang, yang diduga milik polisi Yayat Sudrajat dan terkait kasus suap Pemkab Bekasi.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.