Pengguna BPJS PBI di Jogja: Bikin Tenang, Tak Perlu Pikir Biaya
Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengaku mendapatkan pelayanan yang sama dengan pasien umum saat menjalani perawatan di Rumah Sakit DKT
Prof I Putu Sugiartha Sanjaya (tengah) berfoto dalam pengukuhan Guru Besar, di gedung Slamet Rijadi Kampus II UAJY, Kamis (31/7/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
SLEMAN—I Putu Sugiartha Sanjaya dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ke-22, di Gedung Slamet Rijadi Kampus II UAJY, Kamis (31/7/2025).
Dosen Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UAJY ini menyampaikan pidato berjudul Urgensi Pengungkapan Kepemilikan Ultimat Sektor Non Perbankan di Indonesia.
Suasana pengukuhan yang dihadiri oleh keluarga dan kolega Prof I Putu Sugiartha Sanjaya itu berlangsung dengan khidmat dan haru. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UAJY itu berhasil menyelesaikan proses risetnya yang telah dimulai sejak 2013 silam, sempat terhenti pada 2017 dan tuntas di akhir 2024.
Atas kerja keras dan kesabarannya tersebut, Prof I Putu Sugiartha Sanjaya mendapatkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen sebagai Guru Besar pada Mei lalu.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan isu tentang kepemilikan ultimat bukan hal baru dalam akuntansi. Isu ini menjadi topik penelitian internasional dalam bidang akuntansi dan berkembang ke tanah air sebelum tahun 2005.
“Topik tentang riset kepemilikan terus berkembang sampai saat ini, tapi perkembangannya di Indonesia relatif melambat karena keterbatasan data karena pengungkapan kepemilikan ultimat ini baru terbatas pada sektor perbankan sementara sektor nonperbankan belum banyak dan bisa dikatakan sangat kecil jumlahnya,” katanya.
Jika ditelusuri, kepemilikan ini akan menemukan pemilik ultimat, dimana pemilik ultimat merupakan pihak yang mempunyai hak kontrol terbesar yang menjadi Pemegang Saham Pengendali. Kepemilikan ultimat ini bisa berdampak baik dan bisa juga buruk. Ini tergantung pada besaran perbedaan kedua hak ini.
BACA JUGA: Kecerdasan Emosional Bisa Ditingkatkan, Simak Kiatnya
Jika perbedaannya besar maka akan menjadi hal buruk atau entrenchment dan jika perbedaannya kecil dan bahkan bernilai nol, maka akan berdampak baik atau alignment pada kinerja perusahaan. “Semoga apa yang saya kerjakan ini dapat berkontribusi bagi dunia pendidikan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.
Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, mengucapkan selamat kepada Prof I Putu Sugiartha Sanjaya. Prof I Putu Sugiartha Sanjaya merupakan Guru Besar ke 22 di UAJY, yang akan disusul beberapa dosen lainnya yang sedang berproses.
“Guru besar harus diperjuangkan. Mudah-mudahan dosen lain terutama yang sudah menjadi Lektor Kepala bisa segera menyusul,” jelas Nurhartanto.
Saat ini FBE UAJY telah memiliki tiga Guru Besar, sehingga kedepan perlu dirintis program S3 ekonomi di fakultas ini. “FBE merupakan Fakultas tertua bersama dengan Fakultas Teknik yang sudah memiliki dua program doktor dan Hukum yang sudah memiliki satu program doktor,” ungkap Nurhartanto. (Advetorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengaku mendapatkan pelayanan yang sama dengan pasien umum saat menjalani perawatan di Rumah Sakit DKT
AHY memastikan penyesuaian tarif tiket pesawat dilakukan terukur di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.