Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Utusan Khusus Sekjen PBB untuk isu air, Retno Marsudi, saat ditemui media dalam penutupan Pionir UGM, di lapangan Pancasila UGM, Sabtu (16/8/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Dunia tengah menghadapi ancaman krisis air bersih di tengah berlangsungnya perubahan iklim. Semua pihak perlu turut mendukung upaya pelestarian air dengan melakukan efisiensi air sesuai kemampuan dan kewenangan masing-masing.
Hal ini disampaikan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk isu air, Retno Marsudi, saat ditemui media dalam penutupan Pionir Gajah Mada, yang merupakan masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru UGM, di lapangan Pancasila UGM, Sabtu (16/8/2025).
BACA JUGA: Pemkab Klaten Klaim Jumlah Desa Terdampak Krisis Air Bersih Berkurang
Menurutnya, tantangan dunia kedepan terkait ketersediaan air cukup berat karena adanya perubahan iklim. “Saat ini saja satu dari empat orang di dunia sudah kesulitan mendapatkan akses terhadap safe dringking water. Empat dari 10 orang di dunia kesulitan mendapatkan akases untuk sanitasi,” katanya.
Karena akses terhadap air dan sanitasi yang kurang memadai bagi sebagian daerah di dunia, maka setiap hari ada 1.200 anak di bawah lima tahun yang meninggal karena diare. “Dari situ kita lihat tantangan kedepan mengenai air sangat luar biasa,” ungkapnya.
Maka untuk menekan laju krisis air, semua pihak harus terlibat dalam upaya pelestarian air dari pemerintah hingga masyarakat. “Diperlukan manajemen air yang baik, efisiensi yang dilakukan semua pihak. Mulai dari kita kalau bisa melakukan efisiensi air, itu sudah membantu upaya dunia mengatasi tantangan air,” ujarnya.
Dalam bukunya yang berjudul The Unhabitable Earth, David Wallace-Wells, mengatakan pada 2020, sebanyak 250 juta orang di Afrika menghadapi kekurangan air akibat perubahan iklim. Pada 2050, diprediksi satu miliar orang Asia kekurangan air.
Pada tahun yang sama, Bank Dunia mendapati ketersediaan air tawar di kota-kota di seluruh dunia dapat menurun sampai dua pertiga. Secara keseluruhan, menurut PBB lima miliar orang dapat kesulitan mengakses air tawar pada tahun tersebut.
Padahal, selama tiga dasawarsa kedepan diprediksi kebutuhan air untuk sistem pangan dunia naik sekitar 50%, untuk industri naik 50%-70% dan untuk energi 85%. Perubahan iklim berikut kekeringan parah yang mengikutinya akan memperkecil pasokan air dunia.
Dalam penelitian berjudul High and Dry, Bank Dunia mengugkapkan terkait dampak perubahan iklim, efisiensi air sama mendesak dan pentingnya dengan efisiensi energi. Tanpa adaptasi berarti dalam distribusi sumber daya air, Bank Dunia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu kawasan dapat menurun 7%-14%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 24 perjalanan. Simak jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap beserta tipsnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja dari Palur pada Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkap tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarifnya Rp8.000.
Indonesia masih berpeluang menambah emas Asian Games 2026 lewat sepak takraw dan padel setelah mengoleksi 35 medali.
KBRI Bangkok mengimbau WNI di Thailand memantau cuaca dan kondisi jalan untuk mengantisipasi banjir hingga 7 Oktober 2026.