IHSG Anjlok 1,72 Persen, Tertekan Bursa Global dan Saham Teknologi
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Situs Pasir Angin Bogor merekam sejarah panjang peradaban dari prasejarah, era klasik, hingga masa kolonial dan Perang Dunia II. /Antara.
Harianjogja.com, BOGOR—Situs Pasir Angin di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menjadi bukti keberlanjutan peradaban manusia yang terekam melalui temuan arkeologis dari masa prasejarah, klasik, hingga periode kolonial.
Penelitian intensif yang dilakukan sejak awal 1970-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan beragam artefak, mulai dari alat batu, besi, perunggu, obsidian, hingga gerabah. Temuan tersebut menggambarkan dinamika sosial dan budaya masyarakat masa lampau.
Tak hanya menyimpan peninggalan kuno, kawasan Pasir Angin juga memiliki nilai sejarah modern. Keberadaan Tugu Jepang menandai peristiwa penting pada masa Perang Dunia II ketika wilayah ini menjadi titik strategis pengawasan dan pertempuran.
“Ini merupakan satu situs bersejarah yang ke depan kita harapkan dapat kita revitalisasi dan kita lengkapi data-data temuannya, sehingga situs ini bisa semakin menarik bagi generasi muda untuk datang dan belajar tentang sejarah yang ada di Pasir Angin,” kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dia menyampaikan hal tersebut saat meninjau Museum Situs Pasir Angin di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung kekayaan tinggalan budaya serta potensi pengembangan situs sebagai ruang pembelajaran sejarah yang lebih terbuka dan kontekstual bagi masyarakat. Dalam kunjungannya, Fadli menegaskan pentingnya nilai sejarah yang terkandung di kawasan Pasir Angin.
“Di situs ini kita bisa melihat berbagai lapis kebudayaan, dari era neolitik, kemudian era klasik, sampai ke era kolonial. Banyak temuan yang bisa kita lihat di sini, mulai dari arca hingga artefak lain yang sudah dilengkapi dengan keterangan,” ujar Fadli.
Dirinya menyoroti keberadaan situs Pasir Angin sebagai bagian yang tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah lanskap sejarah yang luas dan tidak terpisahkan satu sama lain.
“Tempat ini sudah diteliti dan dieskavasi sejak tahun 70-an. Ini merupakan satu bagian dari ekosistem yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah sungai Cianten dan Cisadane, karena sungai adalah pusat kehidupan, peradaban, dan perdagangan,” jelasnya.
Salah satu temuan penting dari kawasan ini adalah topeng emas yang kini tersimpan di BRIN Cibinong. Fadli menyebut artefak tersebut memiliki nilai penting dalam memahami kehidupan masa lalu.
“Topeng emas yang ditemukan di sini memberikan gambaran tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat di masa lalu yang ada di sekitar situs Pasir Angin ini,” ungkapnya.
Selain tinggalan prasejarah dan klasik, Fadli juga meninjau Tugu Jepang yang berada di kawasan situs. Tugu tersebut menandai peristiwa sejarah pada abad ke-20, ketika kawasan Pasir Angin menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang.
“Wilayah ini merupakan bukit tertinggi yang bisa memantau seluruh area. Pada masa itu tentu belum banyak pohon seperti sekarang, sehingga dari sini bisa melihat langsung alur pergerakan tentara dan dinamika pertempuran,” tambahnya.
Museum Situs Pasir Angin merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan berbagai lapisan kebudayaan, mulai dari era prasejarah hingga masa sejarah.
Situs ini telah diteliti secara intensif sejak tahun 1970, 1971, 1972, 1973, hingga 1975 oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (kini Puslit Arkenas) di bawah pimpinan arkeolog R.P. Soejono. Dari hasil ekskavasi tersebut ditemukan beragam artefak yang terbuat dari batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, hingga gerabah.
Setahun setelah rangkaian penelitian tersebut, pada 1976 didirikan sebuah bangunan di sekitar area penggalian yang awalnya difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda temuan.
Seiring waktu, bangunan tersebut kemudian dikembangkan menjadi Museum Situs Pasir Angin yang dapat dikunjungi oleh masyarakat luas sebagai sarana edukasi dan pelestarian sejarah.
Kekayaan tinggalan lintas era menjadikan Situs Pasir Angin sebagai saksi sejarah panjang Nusantara yang penting dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Program RTLH Kulonprogo 2026 memasuki tahap pembangunan. Sebanyak 180 rumah dibangun, progres fisik mencapai 25 persen tanpa terdampak efisiensi anggaran.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.
Prabowo Subianto mengungkap pertanyaannya kepada profesor tentang gandum, sawit, dan industri mobil Indonesia dalam Sarasehan Kebangsaan.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.