Timnas Sepakbola Putri Indonesia Ditahan Kamboja 1-1, Gagal Menang
Timnas putri Indonesia ditahan Kamboja 1-1 di Garuda Championship Series 2026. Gol Rosdilah dibalas cepat, penalti kontroversial.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat mengunjungi Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Falah di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (9/6/2026). ANTARA/Ilham Nugraha.
Harianjogja.com, BANDUNG — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan kurikulum pendidikan keagamaan berbasis ekoteologi sebagai upaya membangun kesadaran spiritual yang utuh antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah Cicalengka, Bandung, Selasa (9/6/2026), Nasaruddin menegaskan bahwa konsep ekoteologi perlu ditanamkan sejak dini dalam sistem pendidikan keagamaan.
“Ekoteologi itu kesadaran yang harus muncul pada diri setiap orang untuk mencintai sesama manusia, mencintai alam semesta, dan pada saat yang sama manusia dan alam juga mencintai Tuhannya. Ini seperti cinta segitiga,” ujarnya.
Pendidikan Ekoteologi
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut penting untuk mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Alam tidak lagi dilihat sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Menurutnya, minimnya kesadaran tersebut berpotensi memicu kerusakan lingkungan yang berdampak luas, mulai dari hilangnya keanekaragaman hayati hingga terganggunya ekosistem.
“Kalau tidak ada cinta, alam ini hanya akan dianggap objek. Akhirnya yang terjadi hanya eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya,” katanya.
Nasaruddin mencontohkan, penebangan hutan tanpa kontrol dapat menyebabkan rusaknya ekosistem dan hilangnya berbagai spesies yang berperan dalam menjaga keseimbangan alam.
Dalam konteks pendidikan pesantren, ia juga menyoroti pentingnya kesinambungan pembelajaran dari jenjang Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Ia menilai, materi yang telah dipelajari seharusnya tidak diulang, melainkan dilanjutkan dengan pendalaman yang lebih komprehensif.
“Kalau perlu jangan diulang lagi di Aliyah, tapi dilanjutkan saja supaya bagian yang lebih dalam dari kitab itu bisa tuntas dipahami,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menuntaskan pembelajaran kitab kuning di pesantren, termasuk kitab hadis seperti Shahih Muslim, yang sering kali hanya dipelajari pada bagian awal.
“Bagian awal biasanya dipelajari, tetapi bagian akhirnya tidak sampai tuntas. Padahal di bagian akhir itu ada dimensi yang sangat spiritual,” katanya.
Melalui penguatan kurikulum berbasis ekoteologi dan kesinambungan pembelajaran di pesantren, pemerintah berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Timnas putri Indonesia ditahan Kamboja 1-1 di Garuda Championship Series 2026. Gol Rosdilah dibalas cepat, penalti kontroversial.
BI DIY dan TPID luncurkan MRANTASI PKK 2026 untuk tekan inflasi lewat budidaya cabai dan ketahanan pangan rumah tangga.
Menag dorong kurikulum ekoteologi di pesantren untuk bangun kesadaran cinta alam, manusia, dan Tuhan secara utuh.
Pemerintah siapkan digital single ID berbasis AI untuk bansos lebih tepat sasaran dan kurangi kebocoran anggaran.
Kasus pesta di kelab malam Karawang, 3 tersangka ditetapkan. Pemprov Jabar siapkan pembinaan bagi pelajar yang terlibat.
Kemenhaj bongkar kasus penipuan haji 2026 di Makkah, dari badal haji fiktif hingga penggelapan dana miliaran rupiah.