AI Ancam Sejumlah Profesi, Ini Jurusan Kuliah Paling Rentan

Jumali
Jumali Kamis, 11 Juni 2026 13:57 WIB
AI Ancam Sejumlah Profesi, Ini Jurusan Kuliah Paling Rentan

Mesin pencari AI - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan akan mengubah lanskap ketenagakerjaan global dalam beberapa tahun ke depan. Laporan terbaru dari World Economic Forum memperkirakan sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang akibat transformasi teknologi, meski pada saat yang sama diproyeksikan muncul 78 juta pekerjaan baru yang terkait dengan ekonomi berbasis AI.

Perubahan tersebut mulai berdampak pada dunia pendidikan. Sejumlah perguruan tinggi didorong untuk menyesuaikan kurikulum agar mahasiswa memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja masa depan.

Laporan yang dikutip dari Forbes menyebut terdapat beberapa jurusan yang berpotensi menghadapi risiko lebih besar karena sebagian tugasnya kini dapat dilakukan oleh sistem berbasis AI.

Akuntansi

Jurusan akuntansi dan pembukuan tradisional menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak otomatisasi.

Berbagai pekerjaan administratif, pengolahan data keuangan, hingga perhitungan dasar kini dapat dilakukan oleh perangkat lunak berbasis AI dengan lebih cepat dan efisien.

Karena itu, mahasiswa di bidang keuangan disarankan memperluas kompetensi di luar kemampuan teknis akuntansi. Penguasaan analisis data, strategi investasi, serta pemanfaatan AI dalam sektor keuangan dinilai dapat meningkatkan daya saing lulusan.

Komunikasi, Periklanan, dan Pemasaran

Perkembangan AI juga membawa perubahan besar dalam industri komunikasi dan pemasaran.

Teknologi ini kini mampu membantu pembuatan konten, penyusunan siaran pers, pengelolaan media sosial, hingga perencanaan kampanye pemasaran digital.

Meski demikian, kemampuan manusia dalam membangun strategi komunikasi, memahami emosi audiens, dan menjaga identitas merek masih menjadi aspek yang sulit digantikan sepenuhnya oleh mesin.

Karena itu, perguruan tinggi didorong membekali mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan AI secara kreatif dan etis, termasuk melalui penguasaan berbagai platform pendukung pemasaran digital.

Desain Grafis

Jurusan desain grafis juga masuk dalam daftar bidang yang menghadapi tantangan besar akibat perkembangan AI.

Saat ini berbagai platform berbasis AI memungkinkan pengguna menghasilkan logo, ilustrasi, materi promosi, hingga desain visual hanya dalam hitungan menit tanpa keahlian teknis yang mendalam.

Untuk tetap relevan, pendidikan desain dinilai perlu lebih menekankan kemampuan berpikir kreatif, strategi komunikasi visual, pemahaman perilaku konsumen, serta pengembangan konsep yang memiliki nilai orisinal.

Kampus Dituntut Beradaptasi

Presiden dan CEO DeVry University, Elise Awwad, menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi era AI.

Menurutnya, institusi pendidikan yang tidak segera mengintegrasikan pembelajaran AI berisiko gagal menyiapkan lulusan untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja masa depan.

DeVry University sendiri telah memasukkan materi AI ke berbagai program studi. Langkah tersebut diklaim mendorong peningkatan tingkat penyelesaian kursus AI hingga 29% dalam setahun terakhir.

Selain perguruan tinggi, dunia usaha juga didorong untuk memperluas program pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi karyawan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Pekerja dan mahasiswa juga dapat memanfaatkan berbagai platform pembelajaran daring untuk memperdalam keterampilan baru yang dibutuhkan di era digital.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online