Seragam Gratis Siswa Baru di Bantul Mulai Dibagikan Awal Agustus
Pemkab Bantul mulai menyalurkan bantuan seragam gratis untuk siswa baru SD, SMP, MI, dan MTs pada awal hingga pertengahan Agustus 2026. Total anggaran mencapai
Sejumlah karya yang ditampilkan dalam pameran bertajuk Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner di Galeri RJ Katamsi ISI Jogja pada 20-26 Juni 2026.
Harianjogja.com, BANTUL—Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar pameran seni dan desain bertajuk Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner di Galeri RJ Katamsi ISI Jogja pada 20–26 Juni 2026. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis kampus dengan menghadirkan lebih dari 120 karya seni dari berbagai kalangan.
Karya yang dipamerkan tidak hanya berasal dari mahasiswa, tetapi juga dosen, alumni, hingga peserta internasional, sehingga menjadikan pameran ini sebagai ruang kolaboratif lintas generasi dan lintas negara dalam merespons perkembangan teknologi.
Rektor ISI Jogja, Irwandi, mengatakan bahwa pameran tahun ini mengusung tema Redefining Art Impact, yakni upaya mendefinisikan ulang dampak seni di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurutnya, meski teknologi terus berkembang, seni tetap memiliki ruang penting karena bertumpu pada ide dan kreativitas manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
“Karena itu kami menampilkan berbagai karya yang mengeksplorasi kemungkinan baru dalam seni untuk menunjukkan kekuatan ide manusia,” ujar Irwandi saat pembukaan pameran, Sabtu (20/6/2026).
Ia menegaskan bahwa perkembangan AI merupakan bentuk disrupsi yang perlu direspons secara kritis oleh dunia seni dan pendidikan tinggi, termasuk di lingkungan ISI Yogyakarta.
Menurut Irwandi, kampus seni perlu mempersiapkan sivitas akademika agar mampu beradaptasi dengan teknologi sekaligus tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam proses berkarya.
“Secara garis besar, tema ini relevan dengan upaya mempersiapkan diri menghadapi disrupsi AI. Disrupsi itu bisa datang dari algoritma maupun aspek lainnya,” katanya.
Kurator pameran, Nadia Tunnikmah, menjelaskan bahwa tema Post-Machine Algorithm lahir dari refleksi atas pengaruh kecerdasan buatan yang semakin luas dalam kehidupan manusia, termasuk di bidang seni dan desain.
Menurutnya, pameran ini menjadi ruang ekspresi bagi para seniman untuk menunjukkan cara mereka merespons kehadiran teknologi tersebut dalam karya-karya mereka.
“Ketika AI hadir begitu pesat, para seniman tentu memiliki respons yang beragam. Istilah post-machine mengajak kita membayangkan bagaimana sikap dan posisi manusia setelah hadirnya teknologi itu,” ujarnya.
Pameran ini melibatkan total 167 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, alumni, hingga peserta dari luar negeri. Dari jumlah tersebut, 23 peserta berasal dari berbagai negara, 30 peserta merupakan dosen, dan tujuh lainnya adalah alumni ISI Jogja, sementara sisanya merupakan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain.
Karya-karya yang ditampilkan mencakup berbagai disiplin, mulai dari seni murni, kriya, desain, konservasi, hingga tata kelola seni. Sebagian karya juga berasal dari tugas akademik dan proyek kolaboratif mahasiswa dengan industri, yang memperlihatkan keterhubungan antara pendidikan seni dan praktik profesional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mulai menyalurkan bantuan seragam gratis untuk siswa baru SD, SMP, MI, dan MTs pada awal hingga pertengahan Agustus 2026. Total anggaran mencapai
Kejagung merespons rencana praperadilan Febrie Adriansyah dan menegaskan pembuktian soal emas 74 kg akan dilakukan di persidangan.
Karhutla di Gunung Bromo belum padam. Luas lahan terbakar mencapai 10 hektare dan tiga jalur wisata masih ditutup.
Sri Mulyani ditunjuk sebagai Ketua Bersama Independen penggalangan dana IDA22 Bank Dunia. Simak profil dan perjalanan kariernya.
AS mencabut visa Dubes Brasil setelah Brasília menunda persetujuan calon dubes AS dan menolak visa dua pejabat senior Washington.
UGM mengajak Paskibraka DIY memahami Merah Putih sebagai simbol memori kolektif, pengorbanan, dan harga diri bangsa Indonesia.