Omzet UMKM Sleman Tembus Rp3,39 Triliun, Ngaglik Teratas
Omzet UMKM di Kabupaten Sleman mencapai Rp3,39 triliun. Lebih dari separuh omzet terkonsentrasi di lima kapanewon, dengan Ngaglik menjadi penyumbang terbesar.
Seragam sekolah SD dan SMP - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Minat masyarakat terhadap sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Sleman masih menghadapi tantangan serius. Berdasarkan rekapitulasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Online hingga 22 Juni 2026, puluhan sekolah tercatat kekurangan pendaftar, bahkan ada yang hanya memperoleh satu siswa baru.
Data Dinas Pendidikan Sleman menunjukkan, dari total 374 SD negeri yang membuka penerimaan tahun ini, sebanyak 78 sekolah hanya mampu menjaring kurang dari 10 siswa. Rinciannya, 50 sekolah memperoleh enam hingga sepuluh siswa, sementara 28 sekolah lainnya hanya mendapatkan nol sampai lima siswa. Angka tersebut setara dengan sekitar 20,8% dari total SD negeri di Sleman.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Sleman, Rira Meuthia, mengungkapkan sekolah dengan jumlah pendaftar paling minim adalah SD Negeri Kandangan 2 di Seyegan. Sekolah tersebut hanya menerima satu siswa dari total kuota 28 kursi yang tersedia.
“Memang ada sekolah yang jumlah pendaftarnya sangat sedikit, bahkan hanya satu siswa,” ujarnya, Rabu (24/6/2026)
Tak hanya itu, sejumlah sekolah lain juga mengalami kondisi serupa. SD Negeri Rogoyudan Mlati, SD Negeri Salamrejo, dan SD Negeri Tambakrejo masing-masing hanya memperoleh dua siswa. Sementara SD Negeri Banyuraden, SD Negeri Jonggrangan, SD Negeri Sinduadi Barat, SD Negeri Minomartani 2, serta SD Negeri Kenaran 1 tercatat baru mendapatkan tiga siswa.
Kondisi ini membuat tingkat keterisian ruang kelas jauh dari ideal. Dengan kapasitas rata-rata 28 siswa per rombongan belajar, sebagian besar sekolah tersebut masih menyisakan lebih dari 20 kursi kosong. Misalnya, SD Negeri Kandangan 2 masih memiliki 27 kursi yang belum terisi.
Di sisi lain, sejumlah wilayah justru menunjukkan tren sebaliknya. Kapanewon Depok menjadi daerah dengan jumlah sekolah terbanyak yang berhasil menarik lebih dari 25 siswa baru, yakni mencapai 16 sekolah. Disusul Kapanewon Kalasan dengan 13 sekolah, Gamping dan Godean masing-masing 12 sekolah, serta Mlati dan Ngaglik yang masing-masing mencatatkan 11 sekolah dengan jumlah pendaftar tinggi.
Kepala SD Negeri Kandangan 2, Bintara, membenarkan minimnya jumlah pendaftar di sekolahnya. Ia menyebut selain satu pendaftar awal melalui jalur daring, belakangan terdapat tambahan satu calon siswa lagi.
Menurutnya, faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat masyarakat. Lokasi sekolah yang berada di perbatasan wilayah serta relatif jauh dari permukiman warga membuat akses menjadi kurang diminati.
Selain itu, meningkatnya daya tarik sekolah swasta juga menjadi faktor lain yang memengaruhi pilihan orang tua.
“Orang tua yang cenderung mampu memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta,” jelas Bintara saat ditemui, Rabu (24/6/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Omzet UMKM di Kabupaten Sleman mencapai Rp3,39 triliun. Lebih dari separuh omzet terkonsentrasi di lima kapanewon, dengan Ngaglik menjadi penyumbang terbesar.
Tabrakan kereta barang dan penumpang di Kroasia menyebabkan 19 orang terluka. Enam korban mengalami luka serius dan 13 lainnya luka ringan.
Ole Romeny mencetak gol dalam debutnya bersama Fortuna Sittard saat menahan PSV 2-2. Justin Hubner juga tampil penuh dalam laga Eredivisie.
Bupati Sleman Harda Kiswaya optimistis PSS Sleman mampu bersaing di Super League 2026/2027 setelah menang 1-0 atas Kendal Tornado FC.
Menaker Yassierli mendorong transformasi Balai K3 menjadi garda terdepan pencegahan kecelakaan kerja melalui edukasi dan pendampingan.
JPO Love-Hate Relationship di Rasuna Said dibongkar. Pramono Anung menyebut aksesibilitas bagi penyandang disabilitas menjadi alasannya.