Mahasiswa UGM Kembangkan Wisata hingga Sirup Mangrove di Wilayah 3T

Sunartono
Sunartono Rabu, 24 Juni 2026 22:07 WIB
Mahasiswa UGM Kembangkan Wisata hingga Sirup Mangrove di Wilayah 3T

Sharing session mahasiswa UGM dengan Eks Ketua Umum Kagama Ganjar Pranowo dalam rangka kegiatan KKN yang akan dilaksanakan di Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 28 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) diterjunkan ke wilayah Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 2 Tahun 2026. Melalui program bertajuk Ekspedisi Togean, mereka membawa berbagai inovasi pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan wisata, transformasi digital, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Selama hampir dua bulan, mulai 20 Juni hingga 10 Agustus 2026, para mahasiswa akan menjalankan pengabdian di tiga desa yang masuk kategori wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), yakni Desa Lebiti, Desa Pulau Enam, dan Desa Bungayo di Kecamatan Togean.

Koordinator Mahasiswa Unit KKN Ekspedisi Togean, Shafira Rahmatia Putri, mengatakan timnya telah menyiapkan sekitar 140 kegiatan yang dirancang untuk mendukung pembangunan masyarakat setempat. Dari jumlah tersebut, terdapat delapan program unggulan yang menjadi fokus utama pelaksanaan KKN.

Program-program tersebut mencakup penguatan sektor pariwisata, peningkatan kualitas layanan kesehatan, pengembangan pendidikan, pelestarian lingkungan, hingga percepatan transformasi digital desa yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Kepulauan Togean.

Menurut Shafira, pemilihan Kepulauan Togean sebagai lokasi pengabdian bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki tantangan pembangunan yang cukup kompleks, tetapi di saat yang sama menyimpan potensi besar pada sektor wisata, kekayaan budaya, dan sumber daya alam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

"Kami datang bukan sekadar membawa solusi untuk menuntaskan masalah di desa, melainkan ingin mendampingi warga dalam mengoptimalkan dan mengasah aset berharga yang sebenarnya sudah mereka miliki," ujar Shafira dikutip Rabu (24/6/2026).

Pengelolaan Potensi Desa Dinilai Belum Optimal

Berdasarkan hasil pengamatan tim KKN, pengelolaan potensi alam di Desa Lebiti, Desa Pulau Enam, dan Desa Bungayo masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemanfaatan sumber daya alam dinilai belum terintegrasi dan belum sepenuhnya mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Selain itu, kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola potensi lokal secara produktif juga masih perlu diperkuat. Karena itu, berbagai pelatihan, pendampingan, dan edukasi menjadi bagian penting dari program yang akan dijalankan mahasiswa selama berada di lokasi.

Shafira menilai tantangan pembangunan tidak hanya terjadi pada sektor lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Infrastruktur dasar yang masih terbatas serta ketergantungan ekonomi pada sektor kelautan membuat sebagian warga rentan terhadap perubahan kondisi pasar maupun hasil tangkapan laut.

Olahan Sirup Mangrove Jadi Program Unggulan

Salah satu program yang mendapat perhatian khusus dalam Ekspedisi Togean adalah pengembangan kawasan mangrove melalui kegiatan bertajuk Jelajah Hari Mangrove.

Melalui program tersebut, mahasiswa akan melakukan penanaman mangrove, membangun rumah semai, memberikan edukasi mengenai ekowisata, sekaligus melatih masyarakat mengembangkan produk bernilai ekonomi dari hasil mangrove.

"Salah satu terobosan hijau yang kami bawa adalah program 'Jelajah Hari Mangrove'. Lewat agenda ini, kami menanam bakau, mendirikan rumah semai, dan mengedukasi warga soal ekowisata. Menariknya, kami juga bakal melatih ibu-ibu setempat menyulap buah mangrove menjadi sirup bernilai jual tinggi untuk mendongkrak pendapatan mereka," urai Shafira.

Selain program mangrove, tujuh program unggulan lainnya meliputi Festival Wonderful Togean, Togean Siaga, gerakan makan sehat dan edukasi kesehatan gigi (GEMAS), program Smart Village, Sail to Togean, Festival Hari Anak, serta Digitalisasi Bumi Wisata.

Berbagai program tersebut diharapkan mampu memperkuat promosi wisata daerah, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pembangunan desa.

Pemkab Tojo Una-Una Sambut Positif Program KKN UGM

Kehadiran mahasiswa UGM mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una. Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Tojo Una-Una, Nunung Susanti Podungge, berharap seluruh program yang dirancang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah penting dalam mempercepat pemberdayaan masyarakat, terutama di wilayah yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

"Pemerintah daerah sangat berharap output dari pengabdian adik-adik mahasiswa UGM ini benar-benar bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat Tojo Una-Una, khususnya warga yang mendiami Desa Lebiti, Pulau Enam, dan Bungayo," tutur Nunung.

Melalui Ekspedisi Togean, mahasiswa UGM tidak hanya menjalankan program pengabdian masyarakat, tetapi juga berupaya membangun model pemberdayaan berbasis potensi lokal yang dapat memperkuat sektor wisata, ekonomi kreatif, lingkungan, serta transformasi digital desa di wilayah 3T Sulawesi Tengah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online