Kemendikdasmen Terbitkan SE, Aturan Baru Penggunaan Gawai di Sekolah

Jumali
Jumali Selasa, 14 Juli 2026 08:47 WIB
Kemendikdasmen Terbitkan SE, Aturan Baru Penggunaan Gawai di Sekolah

Foto ilustrasi anak-anak bermain ponsel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Langkah itu dibuat guna mendorong penggunaan teknologi digital bijaksana, aman, dan bertanggung jawab oleh murid.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk melarang penggunaan gawai, melainkan mengatur penggunaannya agar lebih tepat sasaran dan mendukung proses pembelajaran.

"Pembatasan itu bukan pelarangan, tetapi bagaimana mereka menggunakan teknologi digital, khususnya gawai, dengan bijak, arif, dan untuk kepentingan edukatif," ujar Mu'ti dalam pernyataan tertulis dilihat Selasa (14/7/2026).

Melalui surat edaran tersebut, pihaknya mendorong terciptanya budaya belajar yang aman dan nyaman, meningkatkan konsentrasi belajar peserta didik, memperkuat interaksi sosial antarmurid, mendukung Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta melindungi peserta didik dari dampak negatif penggunaan gawai yang tidak tepat.

Selain itu, lanjutnya, SE tersebut juga berupaya membangun budaya digital yang sehat, aman, bijaksana, dan bertanggung jawab, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran. Lebih lanjut ia mengatakan pembatasan penggunaan gawai dilakukan selama kegiatan belajar di satuan pendidikan.

Kebijakan ini, kata Mu'ti, menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap anak dari berbagai risiko penggunaan teknologi digital, seperti adiksi digital, paparan konten negatif, kekerasan berbasis daring, ancaman keamanan siber, hingga gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Penguatan literasi digital juga menjadi bagian penting agar peserta didik mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Mu'ti menilai kebijakan ini menjadi relevan mengingat tingginya intensitas penggunaan internet di Indonesia.

Berdasarkan data, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berselancar di dunia maya selama 7 jam 32 menit setiap hari.

"Kalau mereka tidak menggunakan teknologi itu untuk hal yang positif, maka akan ada banyak masalah yang menyangkut kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Karena itu, kerja sama antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan para penyedia layanan digital sangat kami harapkan," katanya.

Melalui Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026, kepala satuan pendidikan didorong menyesuaikan tata tertib sekolah mengenai pembatasan penggunaan gawai sesuai karakteristik, kebutuhan, dan kondisi masing-masing satuan pendidikan.

Dengan demikian tetap memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran, namun dengan pengaturan yang jelas.

Selain itu, pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan menjadi teladan dalam menggunakan teknologi digital secara bijaksana, aman, dan bertanggung jawab selama berada di lingkungan satuan pendidikan. Kebijakan ini disambut beragam oleh para orang tua dan guru.

Sebagian mendukung karena dinilai mampu mengurangi ketergantungan siswa pada gawai, sementara yang lain khawatir akan kesulitan implementasi di lapangan. Namun, Kemendikdasmen menegaskan bahwa surat edaran ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Dengan demikian, diharapkan tercipta keseimbangan antara pemanfaatan teknologi untuk pendidikan dan perlindungan terhadap generasi muda dari dampak buruk dunia digital. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter di era digital.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online