Detektor MBG Karya Siswa SMPN 1 Turi Mampu Kenali Makanan Basi

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Minggu, 02 Agustus 2026 19:57 WIB
Detektor MBG Karya Siswa SMPN 1 Turi Mampu Kenali Makanan Basi

Siswa SMPN 1 Turi, Abiyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho menjelaskan alat deteksi ciptaannya pada Kamis (23/7/2026) di sekolah./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Dua siswa SMPN 1 Turi berhasil mengembangkan alat pendeteksi kelaikan makanan yang dirancang untuk membantu memastikan keamanan sajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Berbekal empat sensor, mikrokontroler ESP32, dan biaya pembuatan sekitar Rp500.000, alat yang mereka sebut Detektor MBG mampu membedakan makanan segar dan basi hanya dalam hitungan detik sekaligus mengirimkan hasil pemeriksaan secara real-time ke telepon pintar.

Inovasi tersebut merupakan karya Abiyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, dua pelajar berusia 14 tahun yang menghabiskan sekitar tiga bulan untuk merancang, memprogram, sekaligus merakit perangkat tersebut. Hingga kini, prototipe itu terus digunakan di SMPN 1 Turi sebagai bagian dari pemeriksaan sampel makanan MBG.

Dirancang Menggunakan Empat Sensor

Detektor MBG ditempatkan di dalam sebuah kotak bekal yang pada bagian luarnya dipasang sejumlah komponen elektronik, termasuk empat baterai, layar monitor, serta rangkaian sensor. Perangkat tersebut dilengkapi sensor DHT11, MQ-3, MQ-135, dan TCS3200 yang bekerja secara bersamaan untuk membaca kondisi makanan.

"Jadi untuk alatnya ini kita menggunakan beberapa sensor. Ini ada sensor MQ-3, MQ-3 ini buat mendeteksi kelembapan. MQ-135 ini buat mengecek kualitas udara makanan tersebut," terang Abi pada Kamis (23/7/2026).

Selain itu, alat juga dibekali sensor suhu serta pendeteksi kandungan pestisida yang ditujukan untuk memeriksa buah maupun sayuran yang menjadi bagian dari menu MBG.

"DHT11 ini untuk mengukur suhu makanan dan TCS3200 ini buat mendeteksi pestisida di dalam buah biasanya," ujarnya.

Agar hasil pembacaan sensor tetap stabil, keduanya memasang kipas di dalam boks.

"Ini kipas buat menjaga suhu ruangan boks ini agar tetap stabil, jadi enggak naik turun," ungkapnya.

Seluruh sistem dikendalikan menggunakan ESP32 yang berfungsi sebagai pusat pengolahan data sekaligus mendukung konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth.

"Ini ada ESP32 ini buat otaknya dari alat ini. Jadi kita memprogramnya lewat sini," terang Abi.

Hasil Deteksi Muncul dalam Hitungan Detik

Cara penggunaan alat tersebut cukup sederhana. Sampel makanan dimasukkan ke dalam kotak, kemudian boks ditutup rapat dan sistem dinyalakan. Sensor akan langsung melakukan pembacaan terhadap kondisi makanan.

Apabila makanan dinilai layak dikonsumsi, layar kecil pada kotak akan menampilkan tulisan "AMAN". Sebaliknya, bila makanan terindikasi tidak layak, monitor akan memunculkan tulisan "TERDETEKSI".

Informasi yang lebih rinci dapat dipantau melalui telepon pintar. Pengguna bisa mengetahui sensor mana yang menunjukkan kondisi aman maupun indikator bahaya.

Saat demonstrasi dilakukan, Abi dan Pradipta lebih dulu menguji nasi segar. Sekitar lima detik setelah proses dimulai, alat menampilkan status "AMAN".

Pengujian berikutnya menggunakan nasi basi. Aroma menyengat langsung tercium ketika sampel dibuka sebelum dimasukkan ke dalam boks. Tak lama kemudian monitor menampilkan tulisan "TERDETEKSI", sementara pada aplikasi ponsel sensor MQ-3 dan MQ-135 menunjukkan indikator bahaya disertai notifikasi "MAKANAN BASI TERDETEKSI".

"Kalau basi seperti ini hasilnya. Makanan basi terdeteksi, di sini juga ada [indikator] terdeteksi. Ini suhu makanannya yang basi," jelasnya.

Berawal dari Kekhawatiran Kasus Keracunan

Detektor MBG lahir setelah Abi dan Pradipta melakukan penelusuran berbagai referensi mengenai kasus keracunan makanan yang masih kerap terjadi di sejumlah daerah.

Berangkat dari temuan tersebut, keduanya berdiskusi untuk menciptakan perangkat yang mampu membantu mendeteksi makanan yang sudah tidak layak konsumsi.

Setelah gagasan terbentuk, mereka mulai mempelajari berbagai referensi, berkonsultasi dengan sejumlah pihak, membeli komponen yang dibutuhkan, hingga merakit alat secara mandiri.

"Dari situ awalnya kita merakitnya dari ini, untuk memprogram, sama ini membeli beberapa komponennya ini. Terus untuk proses merakitnya tuh cukup lama, sekitar dua mingguan. Kan saya sama memprogramnya rada lumayan sulit," ungkapnya.

Meski proses perakitan berlangsung sekitar dua pekan, keseluruhan pengembangan alat memakan waktu sekitar tiga bulan atau setengah semester.

Pemrograman Menjadi Tantangan Terbesar

Menurut Abi, bagian paling sulit selama proses pengembangan bukan merakit perangkat keras, melainkan menyusun program agar seluruh sensor dapat bekerja secara akurat.

"Kalau kesulitannya dalam membuat alat ini memprogramnya sih, lebih sulitnya. Soalnya sering kali saya meleset sedikit itu kan salah hasilnya. Eror-eror gitu. Kesulitannya di memprogram sih sebenarnya. Kalau rakit sih lumayan masih gampang, memprogramnya rada agak sulit," ungkapnya.

Berbagai kesalahan dan proses uji coba terus mereka lalui hingga alat dapat berfungsi sesuai rancangan.

Digunakan Memeriksa MBG di SMPN 1 Turi

Setelah melewati tahap pengembangan, Detektor MBG mulai digunakan untuk memeriksa sampel makanan yang datang ke SMPN 1 Turi. Menurut Abi, hasil pengujian sejauh ini menunjukkan akurasi alat mendekati 100%.

Dengan biaya pembuatan sekitar Rp500.000, perangkat tersebut terus dimanfaatkan untuk membantu memastikan keamanan makanan yang diterima siswa.

Hingga saat ini, Abi menyebut belum pernah ditemukan kasus keracunan makanan di sekolahnya. Hasil pemeriksaan yang dilakukan menggunakan alat itu juga selalu menunjukkan makanan berada dalam kondisi aman.

"Sejauh ini kalau di sekolah kami tuh belum pernah ya ditemukan. Nggih aman terus, nggih [sesuai hasil deteksi]," ungkapnya.

Keberhasilan menciptakan alat tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Abi karena sejak awal tujuan utamanya adalah membantu menekan angka keracunan makanan.

"Kalau penciptaan alat ini saya merasa senang karena bisa buat mengendalikan keracunan MBG. jadi kan bisa diturunin angkanya. Terus saya merasa senang kalau turun angka keracunannya kan turun kan saya senang," tuturnya.

Abi berharap Detektor MBG suatu saat dapat diproduksi dalam jumlah lebih banyak sehingga bisa dimanfaatkan sekolah-sekolah lain.

"Kalau saya [harapannya] bisa ya untuk diproduksi lebih banyak lagi. Iya, biar bisa buat sekolah, biar angka keracunan MBG biar turun," tegas Abi.

Pembimbing Ungkap Awal Mula Gagasan

Guru IPA sekaligus Pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMPN 1 Turi, Anik Marwati, mengatakan ide pembuatan alat tersebut muncul setelah para siswa mencermati berbagai kasus keracunan makanan.

"Idenya dari anak -- Ibu, ini banyak kasus keracunan di sekolah-sekolah, itu terus gimana ya Bu? Kita bikin apa ya Bu?" -- Ya sekarang coba kamu pikir kita bikin alat yang bisa mendeteksi biar mengurangi keracunan anak-anak akibat MBG," kata Anik menerangkan awal mula percakapan tercetusnya ide Detektor MBG.

Selanjutnya, para siswa mencari berbagai referensi untuk menentukan sensor yang sesuai.

"Kan akhirnya searching, membaca buku, membaca di beberapa referensi gitu kan. Akhirnya ada beberapa sensor," ujarnya.

Abi dan Pradipta merupakan anggota KIR SMPN 1 Turi yang mendapatkan pembelajaran robotika dan pemrograman dasar di sekolah.

Terus Dipakai dan Dikembangkan

Anik menjelaskan, setiap MBG tiba di sekolah, sekitar tiga hingga empat ompreng dijadikan sampel pemeriksaan. Makanan diperiksa sejak awal kedatangan, kemudian diuji kembali secara berkala sebelum dikonsumsi.

"Jadi kan ini MBG datang kan, terus di-uji coba. Kan MBG itu kan idealnya 2 jam setelah datang harusnya harus dimakan kan. Diteliti sejak awal kemudian setiap 1 jam, terus semua ada yang ada di dalam MBG diuji coba semua dan itu berkali-kali. Setiap satu jenis makanan ada tiga kali pengulangan," ungkapnya.

Saat ini, Detektor MBG juga tengah mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Walaupun masih berupa prototipe dan baru tersedia satu unit di SMPN 1 Turi, perangkat tersebut tetap digunakan sembari terus disempurnakan.

"Iya, masih tetap dikembangkan. Terus ya dipakai juga, alhamdulillah aman," tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online