Jalan Jogja-Solo di Bogem Prambanan Alami Penyempitan Hari Ini
Pengaspalan Jalan Janti-Prambanan berlangsung Senin 3 Agustus 2026 pukul 08.00-12.00 WIB. Pengendara diminta waspadai penyempitan jalur.
KPDI ke-17 di UMY mendorong transformasi perpustakaan menghadapi era AI melalui kolaborasi, inovasi, dan penguatan literasi informasi. /Istimewa.
Harianjogja.com, BANTUL—Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong perubahan besar dalam dunia perpustakaan. Menjawab tantangan tersebut, Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengusung agenda transformasi perpustakaan yang lebih implementatif agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
Konferensi yang berlangsung di UMY Student Dormitory mulai Selasa (4/8/2026) hingga Kamis (6/8/2026) mengangkat tema "Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan". Forum ini mempertemukan pustakawan, akademisi, peneliti, praktisi teknologi informasi, pengembang sistem perpustakaan, hingga berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan perpustakaan digital.
KPDI ke-17 Hadirkan Program yang Lebih Aplikatif
Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia Joko Santoso mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara masyarakat menyadari, mencari, menggunakan, hingga berinteraksi dengan informasi. Kondisi tersebut membuat transformasi perpustakaan tidak lagi hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga menempatkan manusia sebagai pusat ekosistem informasi.
Menurut Joko, penyelenggaraan KPDI tahun ini berbeda dibandingkan sebelumnya karena tidak hanya menghadirkan seminar dan presentasi hasil penelitian, tetapi juga memperluas ruang pembelajaran melalui berbagai kegiatan yang bersifat praktis.
"Berbeda dengan penyelenggaraan KPDI pada tahun-tahun sebelumnya, KPDI ke-17 tidak hanya menghadirkan seminar dan presentasi makalah ilmiah, tetapi juga memperluas ruang pembelajaran melalui berbagai kegiatan yang lebih aplikatif," ujar Joko.
AI Mengubah Cara Masyarakat Mengelola Informasi
Penanggung Jawab Penyelenggara KPDI ke-17, Novy Diana Fauzie menjelaskan tema konferensi dipilih sebagai respons terhadap perubahan besar yang dibawa AI dalam cara masyarakat mengakses, mengelola, memanfaatkan, hingga menyebarluaskan informasi.
Menurutnya, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi perpustakaan sebagai pusat informasi, pendidikan, penelitian, dan inovasi.
"Melalui penyelenggaraan KPDI ke-17 ini, kami berharap konferensi ini menjadi wadah kolaborasi bagi pustakawan, akademisi, peneliti, praktisi teknologi informasi, pengembang sistem perpustakaan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi dalam membangun ekosistem perpustakaan digital yang adaptif, inklusif, dan berkemajuan," kata Novy.
Sebagai bentuk implementasi, KPDI ke-17 untuk pertama kalinya menghadirkan software clinic yang memungkinkan peserta berkonsultasi mengenai repositori institusi, otomasi perpustakaan, integrasi sistem, pengelolaan data digital, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi.
Selain itu, peserta juga dapat mengikuti Call for Papers, Call for Posters, lokakarya, workshop, kompetisi portal website perpustakaan, hingga cultural tour. Konferensi ini juga membuka kesempatan publikasi artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi Scopus.
Kepala Perpusnas Sebut Peran Perpustakaan Berubah di Era AI
Pada hari pertama konferensi, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Profesor Aminudin Aziz menyampaikan pidato kunci mengenai perubahan peran perpustakaan di tengah perkembangan AI.
Menurut Aminudin, perpustakaan kini tidak lagi hanya dituntut menyediakan akses terhadap informasi, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar di tengah derasnya konten yang dihasilkan AI.
"Selama ini pertanyaan utama perpustakaan adalah bagaimana menyediakan informasi. Namun hari ini pertanyaannya telah berubah menjadi bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar. Bagaimana membangun kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi, menggunakan dukungan AI tanpa kehilangan integritas, etika, dan moral, serta menjaga agar perpustakaan tetap menjadi institusi yang dipercaya ketika mesin mampu menghasilkan jawaban hanya dalam hitungan detik," ujar Aminudin.
Ia menjelaskan AI memang menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari mempercepat pencarian informasi, merangkum dokumen, membantu penerjemahan bahasa, mendukung penelitian, hingga memperluas akses pembelajaran.
Namun, di sisi lain, teknologi tersebut juga berpotensi menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, tanpa sumber yang jelas, bahkan keliru meski disampaikan secara meyakinkan.
Literasi Informasi Jadi Kunci Menghadapi Perkembangan AI
Aminudin menilai kondisi tersebut membuat perpustakaan memiliki posisi yang semakin strategis dalam membangun literasi informasi, literasi digital, dan literasi data agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara kritis dan bertanggung jawab.
"Pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia. Perpustakaan memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproduksi informasi. Namun juga sadar terhadap kualitas informasi, kredibilitas sumber, keamanan data pribadi, perlindungan hak cipta, serta pentingnya etika dalam pemanfaatan AI," jelasnya.
Ia juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin terbiasa memperoleh jawaban instan melalui platform berbasis AI dibandingkan menelusuri berbagai referensi secara mandiri.
Menurut Aminudin, perpustakaan perlu menghadirkan layanan yang mampu menjawab perubahan tersebut tanpa mengurangi kualitas akademik maupun integritas informasi.
"Perpustakaan masa depan bukanlah perpustakaan yang memiliki teknologi paling canggih. Melainkan perpustakaan yang mampu membangun manusia yang cerdas, kritis, kreatif, adaptif, dan berintegritas dalam memanfaatkan informasi. Teknologi akan terus berubah, tetapi nilai dasar perpustakaan sebagai institusi yang menjamin akses terhadap pengetahuan yang terpercaya, mendukung pembelajaran sepanjang hayat, menjaga memori kolektif bangsa, dan memperkuat budaya literasi masyarakat akan tetap dibutuhkan," tutup Aminudin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengaspalan Jalan Janti-Prambanan berlangsung Senin 3 Agustus 2026 pukul 08.00-12.00 WIB. Pengendara diminta waspadai penyempitan jalur.
Satgas MBG Sleman mengaku tidak bisa masuk dapur SPPG tanpa izin Korwil BGN dan tidak memiliki kewenangan menutup dapur pelaksana MBG.
Rekor Nadeo Argawinata melawan Vietnam kembali memburuk usai Indonesia kalah 0-3 di Piala AFF 2026. Berikut statistik lengkapnya.
OpenAI mengungkap model AI yang diuji berhasil keluar dari lingkungan terisolasi dan menyerang Hugging Face. Anthropic juga melaporkan insiden serupa.
DPMKal Bantul mengusulkan Bupati mengaktifkan kembali Wajiran sebagai Lurah Srimulyo setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.
Mahasiswa KKN-PPM UGM menggelar pelatihan karier, beasiswa, dan motivation letter bagi siswa SMK Negeri 7 Maluku Tengah.