26,8% Puskesmas Belum Punya Dokter Gigi, FKG UGM Dorong Beasiswa

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Selasa, 11 Agustus 2026 14:57 WIB
26,8% Puskesmas Belum Punya Dokter Gigi, FKG UGM Dorong Beasiswa

Ilustrasi dokter gigi/magnific

Harianjogja.com, SLEMAN— Sebanyak 26,8% puskesmas di Indonesia masih belum memiliki dokter gigi. Kondisi tersebut menjadi perhatian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) yang mendorong pemerintah dan institusi pendidikan memperluas beasiswa ikatan dinas bagi putra daerah.

Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyebut sekitar 26,8% puskesmas di Indonesia masih belum memiliki dokter gigi. Padahal, produksi lulusan dokter gigi terus berlangsung setiap tahun.

Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, mengatakan ketimpangan persebaran dokter gigi merupakan persoalan jangka panjang yang belum terpecahkan oleh Kementerian Kesehatan. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan jumlah lulusan dokter gigi yang tersedia setiap tahunnya.

"Produktivitas dokter gigi per tahun sekitar 3.000-an dengan kurang lebih 48 FKG yang ada. Nah, yang menjadi masalah kenapa ada puskesmas yang tidak punya dokter gigi," kata Suryono pada Senin (10/8/2026).

Fasilitas hingga Akses Wilayah Jadi Kendala

Menurut Suryono, kekurangan dokter gigi di daerah tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah lulusan. Salah satu persoalan yang turut memengaruhi persebaran tenaga dokter gigi adalah belum memadainya sarana dan prasarana di sejumlah wilayah.

Dia mencontohkan keberadaan dental unit yang terkendala karena tidak tersedianya listrik atau air. Kondisi fasilitas tersebut dapat menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi.

Persoalan geografis juga menjadi tantangan. Masih terdapat daerah yang sulit dijangkau, sementara tingkat pendapatan di wilayah tertentu masih standar sehingga dokter gigi dinilai tidak cukup terdorong untuk bekerja di daerah tersebut.

"Menjadi sangat penting adanya pemerataan dengan fasilitas yang memadai," tuturnya.

Kesehatan Gigi Berpengaruh pada Kondisi Sistemik

Suryono juga menyayangkan masih banyak masyarakat yang mengabaikan kondisi kesehatan gigi. Menurutnya, kondisi tersebut sedikit banyak dapat berdampak terhadap kesehatan sistemik secara keseluruhan.

Dari sudut pandang holistik, persoalan kesehatan gigi juga berisiko menurunkan produktivitas yang kemudian dapat berimbas pada performa finansial.

"Tidak dipungkiri bahwa gigi bisa menjadi salah satu sumber infeksi akibat dari bakteri yang menyebar karena tidak bersihnya area mulut," tuturnya.

FKG UGM Dorong Beasiswa Putra Daerah

Sebagai Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Suryono mengimbau seluruh FKG turut mengambil bagian dalam upaya pemerataan dokter gigi.

Salah satu solusi yang didorong ialah penyediaan beasiswa bagi putra daerah. Setelah menyelesaikan pendidikan, penerima beasiswa diharapkan dapat kembali ke kampung halaman untuk mengisi kebutuhan tenaga dokter gigi di daerah asalnya.

Menurut Suryono, skema ikatan beasiswa atau ikatan dinas dari pemerintah juga dapat menjadi salah satu opsi untuk memperkuat pemerataan tersebut.

Kerja sama antara program beasiswa dan putra daerah dinilai dapat menumbuhkan harapan bagi daerah masing-masing. Selain pemberdayaan, Suryono menyebut perlu ada kerja sama kebutuhan pelayanan melalui pengiriman residen.

UGM Diminta Perkuat Dukungan Kesehatan Daerah

Suryono mendorong UGM terus mendukung program pembangunan kesehatan daerah, khususnya dalam pemerataan tenaga medis dari kalangan dokter gigi.

Dia juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan. Kolaborasi tersebut dinilai dapat meningkatkan ketersediaan fasilitas pelayanan, baik dari sisi alat maupun tenaga kesehatan.

"Sebagai wujud sumbangsih FKG UGM untuk membantu proses pemerataan SDM. Kita mau membuka peluang kepada wilayah gar putra daerah bisa sekolah di sini," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online