Studi Ungkap Judi Online Picu Depresi dan Gangguan Mental Mahasiswa

Jumali
Jumali Sabtu, 15 Agustus 2026 16:57 WIB
Studi Ungkap Judi Online Picu Depresi dan Gangguan Mental Mahasiswa

Foto ilustrasi judi online - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Maraknya akses judi online melalui perangkat digital menjadi perhatian serius di kalangan akademisi dan praktisi kesehatan mental. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami kecanduan judi memiliki risiko lebih besar mengalami berbagai gangguan psikologis yang dapat memengaruhi kehidupan pribadi, sosial, hingga akademik mereka.

Temuan tersebut mengungkap bahwa dampak perjudian tidak hanya berkaitan dengan kerugian finansial. Aktivitas taruhan yang dilakukan secara berulang juga berhubungan erat dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, depresi, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Dilansir dari Earth, peneliti menilai fenomena ini menjadi tantangan baru bagi perguruan tinggi karena sebagian besar aktivitas judi online dapat dilakukan secara tersembunyi melalui telepon pintar dan perangkat digital lainnya.

Tekanan Mental Meningkat pada Mahasiswa yang Bermasalah dengan Judi

Dalam penelitian tersebut, mahasiswa yang masuk kategori problem gamblers atau individu dengan masalah perjudian menunjukkan tingkat tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak berjudi.

Mereka lebih sering melaporkan perasaan cemas, tertekan, dan kehilangan kontrol terhadap kondisi keuangan maupun kehidupan sehari-hari.

Kerugian finansial akibat kekalahan dalam perjudian menjadi salah satu faktor utama yang memicu stres berkepanjangan. Selain itu, rasa bersalah karena kehilangan uang, ketakutan diketahui keluarga, serta tekanan untuk menutupi kerugian sering memperburuk kondisi emosional mahasiswa.

Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya mengalami keterasingan sosial karena memilih menjauh dari lingkungan pertemanan dan aktivitas kampus.

Judi Dijadikan Pelarian dari Tekanan Akademik

Penelitian juga menemukan bahwa sebagian mahasiswa menggunakan judi online sebagai cara untuk melarikan diri dari tekanan akademik maupun persoalan pribadi.

Awalnya, aktivitas tersebut dianggap sebagai hiburan atau sarana mengurangi stres. Namun dalam banyak kasus, perjudian justru menciptakan masalah baru yang lebih kompleks.

Ketika mengalami kekalahan, mahasiswa cenderung kembali berjudi dengan harapan dapat mengembalikan uang yang hilang. Pola ini kemudian berkembang menjadi lingkaran yang sulit dihentikan dan berisiko menimbulkan ketergantungan.

Akibatnya, tekanan mental yang semula ingin dihindari justru semakin meningkat.

Prestasi Akademik Ikut Terdampak

Selain memengaruhi kesehatan mental, kecanduan judi juga berdampak langsung terhadap prestasi akademik mahasiswa.

Banyak mahasiswa yang mengalami masalah perjudian dilaporkan mulai kehilangan fokus saat mengikuti perkuliahan. Sebagian di antaranya lebih sering membolos, terlambat mengumpulkan tugas, hingga mengalami penurunan nilai akademik.

Gangguan tidur juga menjadi masalah yang cukup umum. Kecemasan akibat kerugian finansial maupun keinginan untuk terus memantau aktivitas perjudian membuat kualitas istirahat menurun.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan belajar dan produktivitas mahasiswa secara keseluruhan.

Kampus Diminta Perkuat Layanan Konseling

Para peneliti menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencegah dan menangani masalah perjudian di lingkungan kampus.

Layanan konseling mahasiswa diharapkan lebih aktif mengenali tanda-tanda kecanduan judi sejak dini. Berbeda dengan penyalahgunaan zat atau alkohol yang sering terlihat secara fisik, masalah perjudian kerap berlangsung secara tersembunyi sehingga lebih sulit dideteksi.

Karena itu, pendekatan preventif dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko yang lebih besar.

Perguruan tinggi juga didorong memperluas edukasi mengenai dampak judi online terhadap kesehatan mental, kondisi ekonomi, dan masa depan mahasiswa.

Edukasi dan Dukungan Psikologis Jadi Kunci

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penanganan masalah perjudian tidak cukup hanya berfokus pada aspek finansial. Dukungan psikologis yang mudah diakses menjadi bagian penting dalam proses pencegahan dan pemulihan.

Melalui program edukasi, konseling, dan pendampingan yang lebih kuat, mahasiswa diharapkan dapat memahami risiko perjudian sejak dini serta memperoleh bantuan sebelum masalah berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa judi online bukan sekadar aktivitas berisiko secara ekonomi, tetapi juga dapat membawa dampak besar terhadap kesehatan mental, kehidupan sosial, dan keberhasilan akademik generasi muda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online