Festival Musik ISI Jogja Angkat Tema Kecerdasan Artistik

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 15 Oktober 2026 13:57 WIB
Festival Musik ISI Jogja Angkat Tema Kecerdasan Artistik

Sesi workshop oleh Gatot Danar dalam rangkaian International Music Composition Festival (IMCF) 2026 yang digelar Program Studi Penciptaan Musik FSP ISI Jogja, Kamis (15/10/2026).

Harianjogja.com, BANTUL—International Music Composition Festival (IMCF) 2026 kembali digelar oleh Program Studi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (FSP ISI) Jogja. Memasuki penyelenggaraan ketiga, festival komposisi musik tingkat internasional ini melibatkan 20 komponis dari lima negara, bertambah dibandingkan edisi sebelumnya yang diikuti 18 komponis.

Direktur IMCF 2026, Puput Pramuditya, mengatakan festival tersebut menjadi ruang pertemuan bagi komponis Indonesia dan mancanegara untuk bertukar gagasan, berkolaborasi, serta menghadirkan karya musik. IMCF pertama kali diselenggarakan pada 2022, kemudian berlanjut pada 2024 dan 2026.

“Tujuannya sebagai ruang temu bagi banyak komponis, baik di Indonesia maupun tingkat dunia untuk berkolaborasi dan berkreasi,” kata Puput, Kamis (15/10/2026).

Pada penyelenggaraan tahun ini, komponis dari Amerika Serikat, Malaysia, Belanda, Australia, dan Indonesia terlibat dalam rangkaian festival. Karya-karya mereka dijadwalkan tampil dalam konser pada Kamis-Jumat (15-16/10/2026) malam.

Selain konser, IMCF 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda akademik dan diskusi, mulai dari lokakarya, masterclass, hingga bedah karya. Rangkaian kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mendalami proses penciptaan musik.

"Selain konser, acara ini juga diisi dengan lokakarya, masterclass, dan bedah karya," ungkapnya.

IMCF 2026 Angkat Tema Vestigium Sonorum

Puput menjelaskan, IMCF 2026 mengusung tema besar Vestigium Sonorum, yang berarti jejak bunyi. Adapun kecerdasan artistik menjadi tema penciptaan karya musik yang diangkat dalam festival tahun ini.

Melalui tema tersebut, para komponis diajak menerjemahkan kecerdasan artistik ke dalam gagasan dan bentuk musikal. Karya yang ditampilkan didominasi musik kontemporer dengan beragam pendekatan dan gaya penciptaan.

Keberagaman karya itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai perspektif musikal dalam satu ruang festival. Setiap komponis memiliki pendekatan tersendiri dalam mengolah gagasan menjadi komposisi musik.

Salah satu pembeda IMCF 2026 dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya adalah agenda bedah karya dosen. Dalam sesi ini, karya dosen tidak hanya dipertunjukkan, tetapi juga dibahas dari sisi proses kreatif, temuan artistik, hingga pengembangan gagasan menjadi komposisi musik.

“Jadi karya-karya dosen yang akan ditampilkan itu akan dibedah bagaimana proses kreatifnya, bagaimana temuan-temuannya, serta bagaimana menerjemahkan ide penciptaan ke dalam wujud musik,” ujarnya.

Karya Dosen dan Mahasiswa Turut Ditampilkan

Selain karya komponis internasional, IMCF 2026 turut melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Penciptaan Musik. Karya mahasiswa dikumpulkan untuk kemudian melalui proses kurasi internal sebelum dipilih untuk ditampilkan dalam festival.

Puput menyebut sekitar 90% dosen Program Studi Penciptaan Musik juga mengeluarkan karya dalam penyelenggaraan tahun ini. Keterlibatan tersebut memperlihatkan ruang partisipasi bagi sivitas akademika untuk mempresentasikan hasil penciptaan musik.

Menurut Puput, rangkaian kegiatan IMCF diharapkan dapat memperkuat hubungan antara praktik penciptaan musik dan budaya akademik. Festival ini juga diharapkan membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai pendekatan dalam perkembangan musik kontemporer.

"Harapan kami IMCF dapat selalu menjadi ruang perjumpaan gagasan, ilmu pengetahuan ,dan kreativitas melalui karya musik dalam lingkup akademik yang akan menghasilkan berbagai perspektif musikal yang saling melengkapi," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online