Satpol PP Bantul Copot 121 Spanduk dan Rontek yang Melanggar
Satpol PP Bantul mencopot 84 spanduk dan 37 rontek yang dipasang melintang di jalan dalam patroli penertiban reklame dan media informasi.
Ahmad Hafidz Kamal Al Anwar, siswa kelas XII A MAN 2 Bantul saat mempresentasikan hasil karya berjudul Hydrotani Wall yang mengantarkannya lolos masuk IPB tanpa jalur seleksi beberapa waktu lalu. /Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Keterbatasan lahan di kawasan permukiman padat tidak menyurutkan Ahmad Hafidz Kamal Al Anwar untuk mengembangkan gagasan pertanian mandiri. Siswa kelas XII A MAN 2 Bantul itu justru menyulap dinding rumah menjadi ruang bercocok tanam melalui inovasi Hydrotani Wall yang mengantarkannya meraih golden ticket masuk Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa seleksi.
Gagasan tersebut mengantarkan Hafidz masuk tiga besar Lomba Gagasan Tertulis dalam ajang Olimpiade Pertanian Indonesia (OPI) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian IPB. Prestasi itu memberinya kesempatan masuk IPB tanpa mengikuti seleksi reguler sekaligus bebas memilih program studi di fakultas tersebut.
"Saya akhirnya milih jurusan Proteksi Tanaman karena memang sudah suka dengan bidang ini sejak dulu," katanya.
Hydrotani Wall merupakan konsep pertanian hidroponik vertikal yang memanfaatkan dinding rumah sebagai media tanam. Inovasi ini juga mengintegrasikan penampungan dan penyaringan air hujan untuk memenuhi kebutuhan pengairan tanaman.
Bagi Hafidz, gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang dijumpainya sehari-hari. Tidak semua keluarga memiliki pekarangan luas untuk menanam sayuran maupun memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Berangkat dari Pengalaman Keluarga Petani
Hafidz lahir dan tumbuh di Timbulharjo, Sewon, Bantul. Wilayah perbatasan kota dengan permukiman padat penduduk itu membuat keinginan untuk bercocok tanam tidak selalu mudah diwujudkan.
Bungsu dari tiga bersaudara tersebut berasal dari keluarga dengan latar belakang pertanian. Kakek dan neneknya merupakan petani, sedangkan kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh.
Kedekatan dengan kehidupan pertanian turut membentuk ketertarikannya mengembangkan cara bercocok tanam di tengah keterbatasan lahan. Ia juga pernah merasakan sendiri sulitnya membangun kemandirian pangan hingga akhirnya sang ibu mengajaknya menanam sejumlah sayuran, seperti tomat dan terong.
Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu landasan pengembangan Hydrotani Wall. Hafidz melihat persoalan keterbatasan lahan bukan hanya dialami masyarakat perkotaan, tetapi juga rumah tangga di perdesaan yang mulai dipadati permukiman.
“Latar belakangnya ada tiga, yakni pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian, kemandirian pangan, dan pemanfaatan air hujan,” kata Hafidz.
Melalui konsep tersebut, bidang vertikal rumah yang selama ini hanya berfungsi sebagai pembatas bangunan dapat dimanfaatkan menjadi area produktif. Dengan demikian, masyarakat tetap memiliki alternatif untuk menanam kebutuhan pangan meskipun tidak mempunyai pekarangan luas.
Air Hujan Ditampung untuk Kebutuhan Musim Kemarau
Keunikan Hydrotani Wall tidak hanya terletak pada instalasi hidroponik yang dipasang di dinding rumah. Hafidz juga merancang sistem penampungan air hujan agar kebutuhan pengairan tanaman dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Air hujan yang turun selama musim penghujan ditampung untuk digunakan ketika memasuki musim kemarau. Berdasarkan perhitungannya, sistem tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 40-60 liter air.
Namun, air hujan tidak langsung dialirkan menuju instalasi hidroponik. Hafidz merancang penyaringan awal menggunakan beberapa lapisan material berupa kain, kerikil, karang jahe, dan arang yang disusun sebagai filter di bagian atas bak penampungan.
Air hujan terlebih dahulu dialirkan melalui pipa paralon sebelum masuk ke tempat penyimpanan. Proses penyaringan tersebut sekaligus ditujukan untuk menyesuaikan tingkat keasaman air agar sesuai dengan kebutuhan hidroponik.
Hafidz menjelaskan air hujan yang digunakan dalam konsepnya memiliki pH sekitar 5-5,5. Tingkat keasaman tersebut dinilai belum sesuai sehingga perlu dilakukan penyesuaian sebelum air digunakan untuk tanaman.
Penggunaan material penyaring, terutama karang jahe, diperkirakan dapat meningkatkan pH sekitar satu angka hingga mencapai 6,5. Angka tersebut menjadi batas yang digunakan dalam rancangan sistem hidroponiknya.
Setelah melalui proses penyaringan dan penyesuaian, air dipompa menuju instalasi hidroponik vertikal yang terpasang di dinding rumah. Instalasi tersebut dilengkapi pipa penanaman dengan sekat otomatis pada bagian ujungnya.
Mekanisme sekat dirancang untuk mengatur aliran air secara bergantian. Ketika air dialirkan, sekat pada salah satu sisi terbuka sementara sisi lainnya tertutup, kemudian berganti secara otomatis setelah volume air memenuhi pipa penanaman.
Tidak hanya itu, Hafidz juga memperhitungkan pemanfaatan air setelah digunakan untuk menanam. Air sisa dari instalasi tidak langsung dibuang, melainkan ditampung dalam wadah berbeda agar dapat digunakan kembali.
"Saya juga merancang agar air yang dipakai buat tanaman tidak dibuang begitu saja kalau sudah panen. Air sisa dari instalasi nanti akan menuju penampungan yang beda jadi bisa dimanfaatkan lagi untuk menyiram tanaman lain, tapi harus diencerkan dengan air biasa," ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman hidroponik, sistem tersebut dirancang menggunakan larutan AB Mix. Dengan rangkaian itu, Hydrotani Wall menggabungkan pemanfaatan ruang vertikal, penampungan air hujan, penyaringan, pengaturan aliran, hingga penggunaan kembali air sisa pertanian.
"Harapannya bisa jadi pilihan alternatif bagi masyarakat yang ingin membuat tanaman hidroponik di pekarangan rumah," ujarnya.
Diskusi Sejak Juli 2026, Rakit Prototipe hingga Malam
Perjalanan Hydrotani Wall hingga menjadi gagasan yang diperlombakan tidak berlangsung dalam waktu singkat. Hafidz mengembangkan konsep tersebut melalui diskusi berulang bersama guru pembimbingnya, Is Dwiyanti.
Is menceritakan keikutsertaan Hafidz dalam kompetisi bermula ketika siswa tersebut datang untuk meminta izin mengikuti perlombaan.
“Bu, saya mau ikut lomba, boleh enggak?” ujar Is menirukan pertanyaan Hafidz saat pertama kali menyampaikan keinginannya.
Is kemudian mengarahkan Hafidz mengikuti Lomba Gagasan Tertulis dalam rangkaian OPI 2026 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian IPB. Saat itu, Hafidz sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap sistem hidroponik.
Keduanya kemudian mengembangkan gagasan dengan menggabungkan pertanian hidroponik dan pemanfaatan air hujan. Diskusi mulai dilakukan sejak Juli 2026 hingga akhirnya menghasilkan konsep Hydrotani Wall.
Menurut Is, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah bagaimana masyarakat perkotaan tetap bisa bercocok tanam meskipun tidak mempunyai lahan terbuka.
“Di kota kan tidak bisa bertani karena keterbatasan lahan. Nah, bagaimana supaya tetap bisa bertani dan memunculkan sumber pangan sendiri,” ujarnya.
Setelah gagasan tertulis selesai disusun, karya Hafidz dikirimkan kepada panitia OPI 2026. Persaingan berlangsung cukup ketat karena peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari seluruh peserta, karya Hafidz berhasil masuk dalam 20 finalis. Mereka kemudian diminta mempresentasikan gagasan masing-masing secara daring di hadapan dewan penilai.
Dari 20 finalis tersebut, panitia menetapkan tiga karya terbaik untuk diundang ke Bogor. Ketiga peserta terpilih memperoleh golden ticket masuk Fakultas Pertanian IPB.
Persiapan menuju tahap akhir tidak hanya dilakukan dengan menyempurnakan materi presentasi. Hafidz bersama Is juga membuat prototipe sederhana untuk memperlihatkan cara kerja Hydrotani Wall.
Keduanya merangkai sistem penyaringan air hujan, membuat instalasi sederhana, hingga menyiapkan gambaran media tanam yang akan digunakan. Proses pengerjaan tersebut bahkan berlangsung sampai malam hari.
Tantangan muncul karena kondisi cuaca saat itu tidak memungkinkan mereka memperoleh air hujan secara langsung untuk percobaan. Sebagai alternatif, Hafidz dan Is menggunakan air yang telah dicampur cuka untuk menyimulasikan kondisi air asam.
Percobaan tersebut dilakukan untuk melihat bagaimana susunan material penyaring dapat membantu mengubah tingkat pH air.
Jadi Satu-satunya Siswa Madrasah di Tiga Besar
Keberhasilan Hafidz menembus tiga besar OPI 2026 juga menjadi pencapaian tersendiri bagi MAN 2 Bantul. Dari tiga karya terbaik kategori gagasan tertulis bidang pertanian, ia menjadi satu-satunya siswa madrasah yang berhasil mencapai tahap tersebut.
Dua finalis lainnya berasal dari sekolah menengah atas (SMA). Capaian Hafidz sekaligus membawa nama MAN 2 Bantul dalam kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri.
Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, mengatakan prestasi tersebut menjadi bagian dari peningkatan capaian akademik siswa yang terus didorong madrasah dalam beberapa tahun terakhir.
Ia mengakui mendorong siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bukan perkara mudah. Ketika pertama kali bertugas di MAN 2 Bantul, ia mendapati minat siswa untuk mendaftar ke perguruan tinggi masih relatif rendah.
Dari sekitar 220 siswa, saat itu hanya 20 siswa yang mendaftar ke perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, lima siswa diterima melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan enam siswa melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Kondisi tersebut mendorong madrasah melakukan pembenahan strategi pendidikan. Pada 2025, MAN 2 Bantul mulai menerapkan pembagian kelas XII menjadi dua kelompok, yakni kelas universitas dan kelas industri.
Siswa yang masuk kelas universitas diarahkan untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara itu, siswa kelas industri mendapatkan pendampingan untuk mengikuti program magang dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
"Dengan strategi itu mulai ada peningkatan murid yang lanjut ke perguruan tinggi. Kami berharap capaian Hafidz dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk berani mengembangkan gagasan dan mengikuti kompetisi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP Bantul mencopot 84 spanduk dan 37 rontek yang dipasang melintang di jalan dalam patroli penertiban reklame dan media informasi.
Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Jogja dengan pertunjukan seni, budaya Jawa, teknologi imersif, dan ruang hijau.
Simulasi UMP 2027 jika naik 9,5% menempatkan upah minimum Jogja sebesar Rp2,64 juta. Cek proyeksi 38 provinsi lainnya.
Cheers Water mendukung Erafone Run 2026 di Museum Gunungapi Merapi dengan menyediakan air mineral dan fasilitas water station untuk memenuhi kebutuhan hidrasi r
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Minggu (1/11/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis
Sebanyak 4.500 pelari mengikuti Erafone Run 2026 Jogja Series di Museum Gunungapi Merapi dengan konsep Sunset Road Run yang memadukan olahraga, wisata, hiburan,