Menag Ingin Lahirkan Kembali Ilmuwan dari Lingkungan Pesantren

Newswire
Newswire Sabtu, 31 Oktober 2026 08:27 WIB
Menag Ingin Lahirkan Kembali Ilmuwan dari Lingkungan Pesantren

Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar. Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pesantren di Indonesia mengembangkan tradisi keilmuan seperti Baitul Hikmah, lembaga yang menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam. Dia berharap lingkungan pesantren dapat kembali melahirkan ilmuwan yang berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ujar Menag dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Menurut Nasaruddin, Baitul Hikmah merupakan contoh bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, penelitian, sekaligus ruang kolaborasi ilmuwan dari berbagai latar belakang.

Dia menjelaskan Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi. Lembaga tersebut kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi.

Tradisi keilmuan yang tumbuh di Baitul Hikmah, kata dia, melahirkan sejumlah ilmuwan dengan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia modern. Di antaranya Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, serta Ibnu Haitsam dalam bidang optika.

Selain itu, terdapat Ibnu Sina yang dikenal dalam bidang kedokteran dan Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran. Nasaruddin juga menyebut Ibnu Rusyd sebagai ilmuwan yang menguasai beragam disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.

Bagi Menag, kiprah para ilmuwan tersebut menunjukkan penguasaan ilmu pengetahuan tidak semestinya dibatasi pada satu bidang keilmuan saja. Tradisi pendidikan yang terbuka dan mendorong penguasaan berbagai disiplin ilmu perlu menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia.

Pesantren Didorong Terbuka terhadap Ilmu Pengetahuan

Nasaruddin turut menyoroti keterbukaan lingkungan pendidikan di Baitul Hikmah. Pada masa itu, ilmuwan dari berbagai latar belakang agama dan kelompok, termasuk Muslim, Kristen, Yahudi, dan Hindu, dapat bertemu dalam lingkungan pembelajaran serta penelitian.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.

Dia menilai semangat keterbukaan dan kolaborasi tersebut relevan untuk dikembangkan di lingkungan pesantren. Pesantren diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga memberi ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kerja sama lintas disiplin.

Menurut Nasaruddin, tantangan pesantren saat ini adalah mempersiapkan santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi seiring perubahan zaman. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan dapat berkiprah dalam berbagai bidang profesi dan kehidupan masyarakat.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap semakin banyak santri yang tumbuh menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa.

"Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online