Komitmen Perpustakaan USD Alih Aksara Lontar Kuno
Dari komitmennya mentransliterasi atau alih aksara lontar dan naskah kuno, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (PUSD) meraih Anugerah Kebudayaan DIY 2024.
Alquran - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Penelitian dari Tim Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menemukan tingkat buta huruf Al-Quran di Indonesia mencapai 72,25 persen. Sementara kajian dari Kementerian Agama menyatakan buta huruf Al-Quran di Indonesia 38,49 persen.
Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) IIQ Jakarta, Chalimatus Sa’dijah, mengatakan bahwa persentase buta aksara Al-Qur’an di Indonesia sekitar 58,57 persen sampai dengan 65 persen. Sementara kemampuan membaca pada level cukup dan kurang ada pada persentase 72,25 persen.
Menurut Chalimatus, kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. “Kalau baca Al-Qur’an saja kita tidak tahu, lantas bagaimana kita bisa memahaminya. Padahal Al-Qur’an merupakan pedoman hidup kita,” katanya, dikutip dari laman resmi IIQ Jakarta.
BACA JUGA : Cara Iktikaf di Bulan Ramadan dan Keutamaannya
Pemberantasan baca tulis Al-Qur’an penting untuk terus dilakukan. Chalimatus mengatakan salah satu indikator pemahaman beragama seseorang dapat dilihat dari aspek mampu dalam membaca Al-Quran serta dapat memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.
Sementara kajian dari Kemenag berjudul ‘Potensi Literasi Al-Qur’an Masyarakat Indonesia’ menemukan apabila Indeks Literasi Al-Qur’an Indonesia tahun 2023 mencapai angka 66,038 atau masuk kategori tinggi. Penelitian melibatkan 10.347 responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mengenali huruf dan harakat Al-Qur’an sebanyak 61,51 persen, mampu membaca susunan huruf menjadi kata sebanyak 59,92 persen, mampu membaca ayat dengan lancar sebanyak 48,96 persen, dan membaca Al-Qur’an dengan lancar sesuai tajwid sebanyak 44,57 persen. Untuk responden yang belum memiliki literasi baca Al-Qur’an sebesar 38,49 persen.
Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam, Ahmad Zayadi, mengatakan untuk meningkatkan indeks literasi Al-Qur’an, Kemenag mengoptimalkan program pembelajaran Al-Qur’an melalui peran para aktor bidang layanan keagamaan. Mereka seperti penyuluh agama, majelis taklim, ormas Islam, dai dan daiyah, dan lembaga pengembangan tilawatil Qur'an (LPTQ).
Zayadi mendorong masyarakat Muslim untuk mengikuti majelis pembelajaran Al-Qur'an yang berada di sekitar tempat tinggal masing-masing, dalam rangka meningkatkan kemampuan Baca dan Tulis Al-Qur’an (BTQ). "Zaman sekarang, materi pembelajaran Al-Qur’an juga bisa diperoleh dari media sosial, karena sudah terbukti signifikan berdampak terhadap peningkatan kompetensi BTQ," katanya, beberapa waktu lalu.
Salah satu kunci membaca Al-Qur’an dengan lancar, kata Zayadi, adalah mempelajari kaidah-kaidah tajwid dasar yang berfungsi untuk menghindari kesalahan ketika membaca kitab suci tersebut. “Selain itu, penting juga meningkatkan kuantitas dan kualitas pengajar, ketersediaan majelis pembelajaran Al-Qur’an, peningkatan frekuensi dan kualitas program literasi BTQ, yang diselenggarakan bersama dengan pemerintah daerah,” kata Zayadi yang juga merupakan Sekretaris LPTQ Nasional.
Masih banyaknya masyarakat Islam di Indonesia yang buta huruf Al-Qur’an, termasuk di dalamnya para pelajar. Banyak faktor yang membuat hal ini terjadi, mulai dari kompetensi guru sampai minat para murid.
Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag, Rohmat Mulyana Sapdi, mengatakan Kemenag terus berupaya meningkatkan kompetensi guru dalam pengajaran baca tulis Al-Qur’an. "Ini menjadi keprihatinan kita semua dengan banyaknya murid yang tidak bisa membaca al-Qur’an," katanya.
Kondisi buta huruf Al-Qur’an disebabkan beberapa faktor, antara lain jumlah murid yang tidak sebanding, minat murid yang kurang, motivasi keluarga, dan kompetensi guru. “Upaya meningkatkan kompetensi guru dan mendorong guru perlu semakin giat menjalankan tugas pembelajarannya,” kata Rohmat.
Melalui berbagai workshop dan pelatihan, para guru bisa melanjutkan pengetahuannya dalam pembelajaran di kelas. Sebisa mungkin, guru membuat suasana pembelajaran yang nyaman agar murid yang tidak bisa membaca Al-Qur’an bisa teratasi. Begitu juga yang sudah bisa membaca, perlu semakin meningkatkan kemampuannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dari komitmennya mentransliterasi atau alih aksara lontar dan naskah kuno, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (PUSD) meraih Anugerah Kebudayaan DIY 2024.
Prabowo menerbitkan Perpres Nomor 26 Tahun 2026 yang memungkinkan BLU dan BUMN mengimpor minyak, BBM, dan LPG untuk ketahanan energi nasional.
Inovasi Vocasignora karya mahasiswa Sekolah Vokasi Undip meraih medali emas dan Best International Invention pada WYIE 2026 di Malaysia.
Veda Ega Pratama finis di posisi ke-21 pada FP2 Moto3 GP Italia 2026 di Mugello. Pembalap Indonesia masih berpeluang memperbaiki hasil di kualifikasi.
Ritual Mendak Tirta menandai dimulainya Yadnya Kasada 2026. Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara hingga 2 Juni 2026.
UGR pembebasan lahan JJLS Kulonprogo senilai lebih dari Rp320 miliar belum cair. Warga terdampak menunggu kepastian setelah enam tahun tertunda.