Advertisement

Situs Pasir Angin, Warisan Sejarah dari Prasejarah hingga Kolonial

Newswire
Sabtu, 17 Januari 2026 - 10:27 WIB
Sunartono
Situs Pasir Angin, Warisan Sejarah dari Prasejarah hingga Kolonial Situs Pasir Angin Bogor merekam sejarah panjang peradaban dari prasejarah, era klasik, hingga masa kolonial dan Perang Dunia II. - Antara.

Advertisement

Harianjogja.com, BOGOR—Situs Pasir Angin di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menjadi bukti keberlanjutan peradaban manusia yang terekam melalui temuan arkeologis dari masa prasejarah, klasik, hingga periode kolonial.

Penelitian intensif yang dilakukan sejak awal 1970-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan beragam artefak, mulai dari alat batu, besi, perunggu, obsidian, hingga gerabah. Temuan tersebut menggambarkan dinamika sosial dan budaya masyarakat masa lampau.

Advertisement

Tak hanya menyimpan peninggalan kuno, kawasan Pasir Angin juga memiliki nilai sejarah modern. Keberadaan Tugu Jepang menandai peristiwa penting pada masa Perang Dunia II ketika wilayah ini menjadi titik strategis pengawasan dan pertempuran.

“Ini merupakan satu situs bersejarah yang ke depan kita harapkan dapat kita revitalisasi dan kita lengkapi data-data temuannya, sehingga situs ini bisa semakin menarik bagi generasi muda untuk datang dan belajar tentang sejarah yang ada di Pasir Angin,” kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Dia menyampaikan hal tersebut saat meninjau Museum Situs Pasir Angin di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung kekayaan tinggalan budaya serta potensi pengembangan situs sebagai ruang pembelajaran sejarah yang lebih terbuka dan kontekstual bagi masyarakat. Dalam kunjungannya, Fadli menegaskan pentingnya nilai sejarah yang terkandung di kawasan Pasir Angin.

“Di situs ini kita bisa melihat berbagai lapis kebudayaan, dari era neolitik, kemudian era klasik, sampai ke era kolonial. Banyak temuan yang bisa kita lihat di sini, mulai dari arca hingga artefak lain yang sudah dilengkapi dengan keterangan,” ujar Fadli.

Dirinya menyoroti keberadaan situs Pasir Angin sebagai bagian yang tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah lanskap sejarah yang luas dan tidak terpisahkan satu sama lain.

“Tempat ini sudah diteliti dan dieskavasi sejak tahun 70-an. Ini merupakan satu bagian dari ekosistem yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah sungai Cianten dan Cisadane, karena sungai adalah pusat kehidupan, peradaban, dan perdagangan,” jelasnya.

Salah satu temuan penting dari kawasan ini adalah topeng emas yang kini tersimpan di BRIN Cibinong. Fadli menyebut artefak tersebut memiliki nilai penting dalam memahami kehidupan masa lalu.

“Topeng emas yang ditemukan di sini memberikan gambaran tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat di masa lalu yang ada di sekitar situs Pasir Angin ini,” ungkapnya.

Selain tinggalan prasejarah dan klasik, Fadli juga meninjau Tugu Jepang yang berada di kawasan situs. Tugu tersebut menandai peristiwa sejarah pada abad ke-20, ketika kawasan Pasir Angin menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang.

“Wilayah ini merupakan bukit tertinggi yang bisa memantau seluruh area. Pada masa itu tentu belum banyak pohon seperti sekarang, sehingga dari sini bisa melihat langsung alur pergerakan tentara dan dinamika pertempuran,” tambahnya.

Museum Situs Pasir Angin merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan berbagai lapisan kebudayaan, mulai dari era prasejarah hingga masa sejarah.

Situs ini telah diteliti secara intensif sejak tahun 1970, 1971, 1972, 1973, hingga 1975 oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (kini Puslit Arkenas) di bawah pimpinan arkeolog R.P. Soejono. Dari hasil ekskavasi tersebut ditemukan beragam artefak yang terbuat dari batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, hingga gerabah.

Setahun setelah rangkaian penelitian tersebut, pada 1976 didirikan sebuah bangunan di sekitar area penggalian yang awalnya difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda temuan.

Seiring waktu, bangunan tersebut kemudian dikembangkan menjadi Museum Situs Pasir Angin yang dapat dikunjungi oleh masyarakat luas sebagai sarana edukasi dan pelestarian sejarah.

Kekayaan tinggalan lintas era menjadikan Situs Pasir Angin sebagai saksi sejarah panjang Nusantara yang penting dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kesepakatan AS-Taiwan Picu Protes China Soal Kedaulatan

Kesepakatan AS-Taiwan Picu Protes China Soal Kedaulatan

News
| Sabtu, 17 Januari 2026, 11:47 WIB

Advertisement

Potensi Wisata dan Kampus Dorong Kuliner Kekinian Bantul

Potensi Wisata dan Kampus Dorong Kuliner Kekinian Bantul

Wisata
| Sabtu, 17 Januari 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement