Pria Pacitan Disiram Cairan Kimia saat Berangkat ke Pasar
Pria di Pacitan menjadi korban penyiraman cairan kimia saat hendak ke pasar. Korban mengalami luka bakar dan dirujuk ke rumah sakit.
Foto ilustrasi mudik Lebaran. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Momentum Lebaran diminta tidak hanya dimaknai sebagai masa libur sekolah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong orang tua menjadikan perjalanan mudik sebagai kesempatan belajar bagi anak di luar ruang kelas.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat membuka kegiatan Mudik Asyik Baca Buku (MABB) 2026 di Stasiun Pasar Senen di Jakarta pada Senin (16/3/2026).
Menurutnya, surat edaran kementerian memang tidak menggunakan istilah libur atau liburan, melainkan belajar di luar sekolah.
“Jadi surat edaran kami itu tidak menggunakan istilah libur atau liburan ya, tetapi belajar di luar sekolah, sehingga mudik tentu menjadi bagian dari membangun dan memperkuat relasi dan kohesi sosial di kalangan masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menilai perjalanan mudik bersama keluarga dapat menjadi sarana bagi anak untuk memahami relasi sosial di masyarakat.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk mengenalkan budaya, nilai kebersamaan, serta tradisi bangsa kepada anak-anak.
Menurut Abdul Mu’ti, pengalaman kembali ke kampung halaman dapat membantu anak memahami kehidupan sosial sekaligus memperkuat nilai-nilai kebudayaan.
“Kami juga memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar di kampung halaman. Jadi ini yang menurut saya penting kami tekankan, sehingga mudik tidak hanya menjadi kegiatan di mana kita pulang ke kampung halaman, tapi juga media internalisasi nilai-nilai dan budaya bangsa luhur yang harus kita pertahankan dan terus kita jaga bersama-sama,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menanamkan budaya membaca kepada anak selama perjalanan mudik.
Melalui kegiatan seperti Mudik Asyik Baca Buku, anak-anak diharapkan tetap memiliki kebiasaan literasi meskipun berada di luar lingkungan sekolah.
Di sisi lain, Abdul Mu’ti mengingatkan agar mudik tidak dijadikan ajang pamer atau flexing di kalangan anak-anak.
Ia berharap perjalanan pulang kampung justru menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan sosial dengan keluarga.
“Jadi mudik tidak sekadar menjadi sarana flexing. Karena sebagian justru mudik itu pinginnya flexing saja, tapi sarannya fixing. Flexing itu tidak boleh, kalau fixing itu yang penting karena memperbaiki relasi sosial,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pria di Pacitan menjadi korban penyiraman cairan kimia saat hendak ke pasar. Korban mengalami luka bakar dan dirujuk ke rumah sakit.
Adhi Karya bagikan susu tiap bulan untuk siswa SDN Nglarang Sleman sebagai dukungan proyek Tol Jogja-Solo.
Trump klaim kesepakatan dagang besar dengan Xi Jinping. China disebut beli 200 pesawat Boeing dan bahas Selat Hormuz.
Aston Villa vs Liverpool jadi laga penentuan Liga Champions. Salah comeback, ini prediksi skor dan susunan pemain.
Dua truk adu banteng di Sragen Wetan, tiga awak luka dan dirawat di RSUD. Diduga akibat pengemudi kurang konsentrasi.
Timnas Swedia umumkan 26 pemain untuk Piala Dunia 2026. Isak, Elanga, dan Lindelof jadi andalan di Grup F.