Advertisement
Dari Jalanan ke Kampus, Dosen Unisa Ini Menyatukan Psikologi dan Musik
Doktor Komarudin, dosen Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. / ist
Advertisement
SLEMAN—Suasana kelas di Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta terasa cair ketika Komarudin mengajar. Dosen yang akrab disapa Pak Komar ini dikenal ramah, humoris, dan mudah bergaul dengan mahasiswa. Metode mengajarnya yang santai membuat materi psikologi lebih mudah dipahami, sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Sosoknya semakin dikenal setelah berhasil meraih gelar doktor. Namun, capaian akademik itu tidak membuatnya berjarak. Di mata mahasiswa, ia tetap menjadi dosen yang dekat dan inspiratif.
Advertisement
Di balik gaya mengajar yang hangat, perjalanan hidup Komarudin justru ditempa dari kesederhanaan. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang sederhana, di mana ibunya bekerja sebagai buruh tani dan ayahnya merupakan pegawai negeri sipil di bidang pendidikan.
Sejak awal kuliah, ia memilih hidup mandiri. Bahkan saat masih semester dua, Komarudin sudah bekerja sebagai pemandu wisata di perusahaan travel. Ia terus bekerja sambil kuliah hingga menyelesaikan pendidikan sarjananya.
BACA JUGA
“Dari awal itu saya ingin mandiri. Sejak kuliah, dari awal saya sudah mandiri. Kemandirian itu terus berlanjut dan saya tidak pernah merasakan menganggur,” ujar Komar.
Empati dari Pengalaman Hidup
Ketertarikan Komar terhadap dunia psikologi telah tumbuh sejak SMP. Pada masa itu, ia sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia bahkan pernah merasakan hidup di jalanan dan bergaul dengan kelompok marjinal seperti anak punk.
Pengalaman tersebut membentuk empatinya dalam memahami manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang.
“Saya ingin memahami manusia secara utuh. Kita tidak boleh membeda-bedakan dan terlalu sombong. Kita itu pada prinsipnya sama saja. Meskipun masyarakat nyinyir pada mereka, tetapi mereka punya potensi dan keluarga,” ucapnya.
Perjalanan akademiknya dimulai saat ia menempuh pendidikan S1 Psikologi di Universitas Wangsa Manggala pada 2003–2008. Selama kuliah, ia tidak hanya fokus pada studi, tetapi juga bekerja sebagai pedagang dan pemandu wisata.
Setelah lulus dan berkeluarga, Komarudin memutuskan beralih profesi menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB). Di tempat ini, ia menemukan panggilan hati yang mengubah arah hidupnya.
“Ada panggilan hati ketika saya mengajar anak berkebutuhan khusus. Rasanya itu tidak terbeli. Saat saya mengajarkan mereka hal sederhana lalu mereka bisa, itu rasanya tidak ternilai,” katanya.
Ia mengajar di SLB selama lebih dari tujuh tahun. Dalam periode tersebut, Komarudin semakin mantap menekuni bidang pendidikan, meskipun awalnya berorientasi pada psikologi industri.
Sambil mengajar, ia melanjutkan studi S2 Psikologi dan tetap aktif di dunia pendidikan. Bersama istrinya, ia juga mendirikan lembaga kursus di rumah yang berhasil meraih prestasi hingga tingkat Provinsi DIY.
“Menurut saya, ada hal penting dalam pendidikan ini. Kalau kamu ingin mengubah hidupmu, maka mulailah dari mengubah pendidikanmu,” ucap Komar.
Kini, Komarudin mengabdikan diri sebagai dosen psikologi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Ia tidak hanya mendidik, tetapi juga menargetkan pengembangan diri sebagai ilmuwan dengan harapan menjadi guru besar di masa depan.
“Saya mengabdikan diri sebagai dosen dan pendidik. Bukan hanya mendidik, tetapi juga menjadi ilmuwan ke depannya. Syukur-syukur bisa menjadi guru besar,” ujarnya.
Musik sebagai Ruang Ekspresi
Di luar dunia akademik, Komarudin memiliki kecintaan besar terhadap musik. Di lingkungan kampus di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, ia dikenal sebagai dosen “rock n roll” yang piawai memainkan berbagai alat musik.
Ketertarikannya pada musik sudah muncul sejak SMP. Saat itu, ia bermain gitar dan membentuk grup band nasyid yang terinspirasi oleh Kiai Kanjeng dan Cak Nun. Dalam perjalanan bermusik tersebut, ia pernah mengisi berbagai posisi, mulai dari gitaris, bassis, hingga vokalis.
Memasuki masa SMA, aktivitas bermusiknya semakin berkembang. Ia membentuk grup band bernama Caterpillar yang tidak hanya tampil di berbagai panggung, tetapi juga mendapat apresiasi dari komunitas band indie di Yogyakarta. Band ini bahkan berhasil merilis sebuah mini album.
“Musik bagi saya mengorkestrasi perasaan, pemikiran, sampai suara hati yang ingin memberontak. Itu semua bisa disampaikan lewat musik,” kata Komar.
Melalui musik, ia menyalurkan kegelisahan, kritik terhadap kondisi negara dan masyarakat yang karut-marut, hingga mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Bagi Komarudin, musik menjadi media yang mampu menyatukan banyak orang sekaligus menjembatani pemikiran mahasiswa.
“Pendidikan itu bisa dinikmati, ilmu itu diharmonisasi. Yang penting bisa membuat orang bahagia. Ilmu jangan untuk diri sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita mendistribusikannya agar membuat orang menjadi well-being,” jelasnya.
Kecintaan terhadap musik itu terus berlanjut hingga sekarang. Di lingkungan kampus, ia bersama dosen dan tenaga pendidik lainnya membentuk band bernama Anonim sebagai ruang ekspresi dan kolaborasi.
Di antara ruang kelas, pengalaman hidup, dan panggung musik, Komarudin merajut semuanya menjadi satu pendekatan dalam memahami manusia—tidak hanya lewat teori, tetapi juga melalui empati dan rasa. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kementan Dorong AUTP Hadapi El Nino, Lindungi Petani dari Gagal Panen
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Terbaru KRL Jogja Solo 1 April 2026, Pagi hingga Malam
- Dari Kelompok Tani, Sekar Arum Ubah Sampah Jadi Prestasi di Jogja
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 1 April 2026
- Pemkot Jogja Tegaskan Larangan Siswa Tanpa SIM Bawa Motor ke Sekolah
- Larangan Parkir Bus Senopati Picu Keresahan Juru Parkir
Advertisement
Advertisement







