Advertisement
SMPN 8 Jogja Tangani Sampah Mandiri, Memilah hingga Pakai Teknologi
Budaya pemilahan sampah di SMP Negeri 8 Jogja. Ist - Dok. SMP Negeri 8 Yogyakarta
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—SMP Negeri 8 Yogyakarta menerapkan kebijakan pengelolaan lingkungan berbasis literasi melalui gerakan yang disebut Gelis Bawara, atau Gerakan Literasi Zero Sampah, jauh sebelum isu sampah menjadi perhatian luas di Kota Jogja.
Kebijakan ini tidak hanya mendorong siswa memahami persoalan sampah, tetapi juga menuntut mereka mampu memberi solusi nyata.
Advertisement
Kepala SMPN 8 Yogyakarta, Binarsih Sukaryanti, mengatakan kebijakan tersebut lahir dari kondisi sekolah dengan jumlah warga yang besar namun berada di lahan terbatas. Ia melihat pengelolaan sampah menjadi tantangan utama yang harus diatasi sejak dini melalui pendekatan sistematis.
“Jadi waktu itu di tahun 2022 itu saya langsung membuat sebuah kebijakan namanya Gelis Bawara, Gerakan Literasi Zero Sampah. Saya mengharapkan semua warga sekolah memiliki pemahaman terkait pengelolaan sampah dan mampu menerapkannya dalam tindakan nyata,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
BACA JUGA
Melalui kebijakan itu, siswa tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga dilatih untuk memilah dan mengelola sampah secara langsung. Bahkan dalam kegiatan sederhana seperti jalan sehat, sekolah menerapkan sistem pemilahan sampah sejak awal.
“Kalau biasanya hanya memungut sampah, di SMP 8 tidak sekadar itu, tapi langsung memilah. Setiap dua anak membawa alat dengan tiga wadah berbeda untuk jenis sampah, jadi sejak di jalan sudah terpisah sesuai jenisnya,” jelasnya.
Program Gelis Bawara kemudian dijalankan secara konsisten hingga menjadi budaya sekolah. Seluruh warga sekolah, mulai dari siswa hingga guru dan karyawan, terlibat dalam komitmen bersama untuk menjaga lingkungan.
Dari konsistensi tersebut, SMPN 8 Jogja meraih berbagai penghargaan, di antaranya Adiwiyata Nasional 2025, juara lomba kebersihan sekolah 2025, serta sejumlah prestasi lain di bidang lingkungan dan inovasi.
Terbaru, mereka diganjar penghargaan Pendidik Adiwiyata Transformasional saat satu tahun Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota, Wawan Harmawan, pekan lalu.
“Makanya itu kami giatkan terus dengan komitmen bersama, sehingga akhirnya menjadi budaya. Jadi bukan hanya untuk lomba atau saat ada tamu, tetapi memang kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Selain itu, sekolah juga mengembangkan inovasi berbasis riset yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan. Sejumlah siswa menciptakan teknologi sederhana seperti pengolahan sampah plastik menjadi briket hingga sistem penyiraman tanaman otomatis hemat energi.
“Anak-anak juga banyak mengembangkan alat atau teknologi terkait pengelolaan sampah. Jadi tidak hanya memahami, tetapi juga menghasilkan karya yang bermanfaat,” ucapnya.
Binarsih menegaskan, tujuan utama dari kebijakan tersebut adalah menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Salah satunya melalui prinsip bahwa setiap individu bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.
Ia berharap, melalui kebijakan tersebut, siswa tidak hanya peduli lingkungan di sekolah, tetapi juga membawa kebiasaan baik tersebut ke kehidupan sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Koperasi Desa Merah Putih di DIY Belum Optimal, Ini Kendalanya
- Pelajar Bantul Dikenalkan Pertanian, Siapkan SDM Unggul
- Petugas TPR JJLS Gunungkidul Dicopot Usai Viral Tiket Tak Sesuai
- Banjir Kali Belik Jogja Terulang, Sudetan Disiapkan Mulai Tahun Ini
- Menjelang Vonis, Kasus Hibah Pariwisata Sleman Menguat
Advertisement
Advertisement








