Sejumlah Pakar Pendidikan Berkumpul Bahas Upaya Melahirkan Pemikir Muhammadiyah

Sunartono
Sunartono Jum'at, 12 Januari 2024 11:57 WIB
Sejumlah Pakar Pendidikan Berkumpul Bahas Upaya Melahirkan Pemikir Muhammadiyah

Sejumlah pakar berkumpul untuk mendiskusikan tentang konsep pendidikan Muhammadiyah melalui serasehan bertajuk Melahirkan Pemikir Pendidikan Muhammadiyah berlangsung di Aphiterater Fakultas Kedokteran, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ringroad Selatan Bantul, Kamis (11/01/2024). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah pakar berkumpul untuk mendiskusikan tentang konsep pendidikan Muhammadiyah melalui serasehan bertajuk Melahirkan Pemikir Pendidikan Muhammadiyah berlangsung di Aphiteater Fakultas Kedokteran, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ringroad Selatan Bantul, Kamis (11/01/2024).

Sejumlah narasumber yang hadir antara lain Profesor Amin Abdullah MA, Profesor Abdul Munir Mulkhan, Profesor Suyata dan Mohamad Ali dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.  

Abdul Munir Mulkan dalam kesempatan itu mengaku belum menemukan filsafat pendidikan Muhammadiyah yang tepat. Padahal filsafat ini penting sebagai landasan utama bagi seorang pemikir Muhammadiyah. Beberapa kali dosen di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah telah diberikan kesempatan untuk menuliskan gagasan secara khusus namun hasilnya belum sepenuhnya lengkap. Ia menyadari untuk melengkapinya butuh waktu yang cukup panjang dengan meneliti lebih detail terkait jejak pendidikan Muhammadiyah tersebut.

BACA JUGA : UNISA Yogyakarta Mengukuhkan Profesor Perempuan Pertama di Indonesia Bidang Ilmu Kebidanan

“Karena belum lengkap, waktu itu kemudian hasilnya saya beri judul Jejak-jejak Filsafat Pendidikan Muhammadiyah. Tetapi ini bisa menjadi langkah awal menuju tulisan yang lebih komprehensif,” kata guru besar UIN Sunan Kalijaga ini.

Meski demikian, kata Munir Mulkan, dalam praktiknya Muhammadiyah telah melaksanakan pendidikan secara menyeluruh. Tidak hanya formal yang terkenal dengan banyak lembaga pendidikan yang dimiliki. Akan tetapi juga nonformal, di mana banyak majelis-majelis atau kajian yang lahir dari Muhammadiyah di tengah masyarakat.

“Maka kami pernah mengusulkan agar pengajian atau kajian di masyarakat itu bisa diberikan perhatian atau anggaran oleh pemerintah karena konsepnya sama dengan kejar paket,” katanya.

Sementara itu Suyata menyoroti terkait mempersiapkan pemikir Muhammadiyah di masa mendatang. Seorang pemikir tersebut harus dipersiapkan sejak saat ini agar memberikan khasanah lebih baik bagi pendidikan Muhammadiyah di masa mendatang. “Maka calon pemikir ini tidak boleh kita biarkan begitu saja,” ujarnya.

Diskusi tersebut berlangsung cair dengan dihadiri para dosen di lingkungan Muhammadiyah khususnya FKIP UAD selaku penyelenggara. Para pakar pendidikan ini bisa saling memberikan masukan dan menangkap pesan terkait pendidikan Muhammadiyah.

“Kegiatan ini merupakan awal dari diselenggarakan Program Doktor Pendidikan FKIP UAD. Harapannya kami bisa menjadi khasanah untuk berkontribusi terhadap pendidikan Muhammadiyah, khususnya dalam melahirkan pemikir Muhammadiyah,” kata Dekan FKIP UAD Muhammad Sayuti.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online