Muhammadiyah Lakukan Merger 11 Kampus Jadi 5 Perguruan Tinggi Baru

Sirojul Khafid
Sirojul Khafid Selasa, 23 Juli 2024 19:57 WIB
Muhammadiyah Lakukan Merger 11 Kampus Jadi 5 Perguruan Tinggi Baru

Suasana acara Penguatan Kelembagaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di UNISA Yogyakarta, Gamping, Sleman, Selasa (23/7/2024).- Harian Jogja/Sirojul Khafid

Harianjogja.com, SLEMAN—Organisasi Masyarakat Muhammadiyah menggabungkan sebelas satuan pendidikan menjadi lima kampus. Lima kampus baru tersebut yaitu Universitas Muhammadiyah Kalianda, Universitas Muhammadiyah Kuningan, Universitas Muhammadiyah Tegal, Universitas Muhammadiyah Cileungsi, dan Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon.

Universitas Muhammadiyah Kalianda merupakan penggabungan dari STIE Muhammadiyah Kalianda dan STIH Muhammadiyah Kalianda. Untuk Universitas Muhammadiyah Kuningan merupakan penggabungan dari STKIP Muhammadiyah Kuningan dan STIKes Muhammadiyah Kuningan. Sementara Universitas Muhammadiyah Tegal merupakan penggabungan dari Politeknik Muhammadiyah Tegal dan STIKes Muhammadiyah Tegal.

BACA JUGA : UMS Resmi Berhentikan Dosen yang Lecehkan Mahasiswi Saat Bimbingan Skripsi

Adapun Universitas Muhammadiyah Cileungsi merupakan penggabungan dari STT Muhammadiyah Cileungsi dan Akademi Kebidanan Bhakti Mitra Husada. Untuk Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon merupakan penggabungan dari STIKes Muhammadiyah Cirebon, STIKes Ahmad Dahlan Cirebon dan STF Muhammadiyah Cirebon.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan penggabungan satuan pendidikan merupakan jalan untuk menjaga kualitas. Meski ada risiko kehilangan jumlah kampus, namun itu sesuatu yang perlu diambil. Meski ada pengurangan kuantitas satuan pendidikan, namun Muhammadiyah tetap mengukur pelaksanaan ke depannya.

“Ini amanat penguatan secara kolektif dan tersistem. Jangan lagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah berjalan sendiri-sendiri, maju sendiri. Harus bangun sistem berjejaring, terkonsolidasi, serta terintegrasi yang justru akan maju bersama,” kata Haedar dalam acara Penguatan Kelembagaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di UNISA Yogyakarta, Gamping, Sleman, Selasa (23/7/2024).

Haedar mengatakan apabila ingin maju, maka perlu memperhatikan tiga aspek berupa mobilisasi potensi, agendakan perubahan, dan proyeksikan masa depan. Mobilisasi potensi baik itu kecil maupun besar. Sementara mengagendakan perubahan agar tidak berjalan di zona nyaman. Apabila terus di zona nyaman, Muhammadiyah dan 'Aisyiyah akan ketinggalan.

Hal ini juga termasuk memproyeksikan masa depan. Sudah banyak organisasi lain yang bergerak maju. “Kalau terperangkap pada birokrasi dan rutinitas, kita akan ketinggalan,” katanya.

BACA JUGA : Astra Honda Motor Terus Sinergikan Industri Dan Pendidikan

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) Kemendikbudristek, Abdul Haris, mengatakan penggabungan satuan pendidikan di bawah Muhammadiyah sebagai upaya penguatan kelembagaan dan tata kelola optimalisasi daya saing mutu perguruan tinggi. Sejarah mencatat apabila Perserikatan Muhammadiyah senantiasa membawa gagasan pembaharuan.

Di masa sebelumnya, pendidikan modern dipandang bukan islami, dan lebih condong ke Barat. “Muhammadiyah menginisiasi langkah pembaharuan dengan menyelenggarakan pendidikan modern, yang mengombinasikan ilmu agama dan umum,” kata Haris.

Dengan adanya penggabungan satuan pendidikan, Haris berharap Muhammadiyah dan 'Aisyiyah semakin menyelenggarakan perguruan tinggi yang menjunjung aksesibilitas, inklusivitas, kualitas, dan relevansi yang menyiapkan generasi Indonesia yang unggul dan beradab. “Mari terus berkolaborasi, bergotong-royong, menginspirasi, dan wujudkan visi bersama,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online