Inspiratif, Mahasiswa UNU Ciptakan Penetas Telur Cerdas Berbasis IoT

Newswire
Newswire Rabu, 29 Juli 2026 23:47 WIB
Inspiratif, Mahasiswa UNU Ciptakan Penetas Telur Cerdas Berbasis IoT

Mahasiswa Teknik Elektro UNU Jogja mengembangkan Smart Incubator berbasis IoT yang membantu meningkatkan keberhasilan penetasan telur bagi UMKM peternakan. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Tim mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Informasi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja mengembangkan Smart Incubator, mesin penetas telur berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan telur pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) peternakan ayam. Inovasi ini lahir sebagai solusi atas kendala teknis yang masih kerap dihadapi peternak saat proses penetasan berlangsung.

Perangkat tersebut dikembangkan oleh Dwi Ardiyanto, Nabila Zuha Faizah, dan Fadil Maulana, kemudian dipamerkan dalam Expo Teknik Elektro: AKSI (Apresiasi Kolaborasi Solusi Inovasi) Capstone Project dan Proyek Mata Kuliah Teknik Elektro UNU Jogja, Rabu (29/7/2026). Pameran tersebut menjadi wadah mahasiswa semester VI untuk menghadirkan solusi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor UMKM.

Ketua Tim Pengembang, Dwi Ardiyanto, menjelaskan ide pembuatan Smart Incubator berawal dari hasil pengamatan di sebuah peternakan ayam milik warga di kawasan Godean, Sleman.

Menurutnya, proses penetasan secara konvensional masih mengandalkan pembalikan telur secara manual sebanyak tiga hingga empat kali setiap hari selama 21 hari. Proses tersebut bertujuan mencegah embrio menempel pada cangkang, namun tidak jarang peternak mengalami kelelahan atau lupa melakukan pembalikan sehingga meningkatkan risiko kematian embrio.

"Mesin penetas cerdas ini berbasis Internet of Things (IoT) yang dilengkapi kontrol suhu dan pemutar otomatis. Selain itu, pemantauan suhu dan daya alat ini dapat dilakukan secara realtime dari web," kata Dwi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Smart Incubator dibekali sistem pemutar telur otomatis yang bekerja setiap empat jam. Fitur ini dipadukan dengan sensor yang menjaga suhu dan kelembapan ruang inkubasi tetap stabil pada 37,5 derajat Celcius, sehingga diharapkan mampu menekan risiko kegagalan penetasan akibat perubahan suhu.

Hemat Energi

Smart Incubator dirancang memiliki kapasitas 36 butir telur dengan konsumsi listrik sekitar 50 watt. Sejumlah komponen yang digunakan juga memanfaatkan material daur ulang sebagai bagian dari konsep efisiensi dan keberlanjutan.

Seluruh kondisi operasional alat, mulai dari suhu, kelembapan hingga penggunaan daya listrik, dapat dipantau secara realtime melalui sistem berbasis web sehingga peternak tidak perlu melakukan pengecekan secara langsung setiap saat.

"Proses membolak balik telur inilah yang memerlukan perhatian lebih. Soalnya peternak kadang lupa atau capek untuk membalik telur," jelas Dwi.

Ia menambahkan, kapasitas alat masih dapat ditingkatkan apabila dikembangkan lebih lanjut.

"Dengan kapasitas 36 butir telur, Smart Incubator juga tetap memberi sirkulasi udara secara merata dan menjaga kestabilan suhu," imbuhnya.

"Dengan dukungan lebih lanjut, mengingat sistem kerjanya yang sama, ke depan kapasitas Smart Incubator dapat ditingkatkan seperti menambah daya tampung telur yang akan ditetaskan," katanya.

Selain Smart Incubator, Expo AKSI Teknik Elektro UNU Jogja juga menampilkan berbagai inovasi teknologi lain yang ditujukan untuk mendukung produktivitas sektor pangan dan UMKM.

Salah satunya adalah mesin pemotong wortel berbentuk dadu berukuran 6x6x6 milimeter, alat pengupas bawang otomatis, serta mesin pemipil jagung.

Pengembang mesin pemotong wortel, Ahmad Wasim Rizki, mengatakan alat tersebut dirancang untuk mempercepat proses kerja, mengurangi kebutuhan tenaga manual, sekaligus meningkatkan aspek keselamatan karena menggunakan ruang pemotong yang tertutup.

Menurutnya, alat tersebut mampu meringankan proses pemotongan wortel yang selama ini masih dilakukan secara manual. "Sebelumnya sudah ada alat pemotong wortel, tapi tidak menggunakan listrik dan membutuhkan tenaga ekstra," katanya.

Masuk Tahap Hilirisasi

Dekan Fakultas Teknologi Informasi UNU Jogja, M. Syamsiro, mengungkapkan sebagian inovasi yang dikembangkan mahasiswa telah memasuki tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan BTPN.

Kemitraan tersebut diharapkan mampu mempercepat proses produksi dalam skala terbatas sebelum dikembangkan secara lebih luas untuk memenuhi kebutuhan UMKM.

"Kami berharap ini dapat dihilirisasi dan diproduksi secara lebih luas. Beberapa produk telah disepakati untuk diproduksi dalam jumlah terbatas sebagai tahap," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online