Tujuh Tim Melaju ke Grand Final Potek Dance Fest 2026, Berebut Tiket ke Jepang
Tujuh tim dance terbaik siap bertarung di Grand Final Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 di Prambanan, Jogja, 30 Agustus.
Anak Kampung Sadang, Bandung Barat, menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit untuk sekolah. Warga berharap akses jembatan segera dibangun. /Antara.
Harianjogja.com, BANDUNG BARAT— Jarum jam belum genap menunjukkan pukul 06.00 WIB ketika anak-anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai meninggalkan rumah menuju sekolah.
Dengan seragam putih-merah dan tas di punggung, mereka berjalan bersama menuju tepian Waduk Saguling. Sebuah rakit bambu telah menunggu di sana untuk membawa mereka menyeberang menuju Kampung Gombong, lokasi SD Negeri Budiharja.
Satu per satu siswa menaiki rakit. Mereka duduk berdekatan sambil menjaga tas dan perlengkapan sekolah, sementara seorang warga membantu mengarahkan rakit menggunakan tali yang membentang di atas permukaan waduk.
Perlahan, rakit meninggalkan tepian Kampung Sadang. Bagi anak-anak tersebut, perjalanan menyeberangi Waduk Saguling bukan pengalaman sesekali, melainkan rutinitas setiap hari sekolah.
Kampung Sadang dan sekolah sebenarnya tidak terpisah terlalu jauh jika dilihat dari titik penyeberangan. Persoalannya, belum tersedia jembatan yang menghubungkan kedua lokasi tersebut.
Anak-anak akhirnya memiliki dua pilihan, yakni menyeberang menggunakan rakit atau berjalan melalui jalur darat yang memutar.
Kepala SD Negeri Budiharja Taufik mengatakan jarak perjalanan melalui jalur darat dari Kampung Sadang menuju sekolah mencapai hampir empat kilometer.
Jika berjalan kaki, anak-anak membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Kondisi tersebut menjadi semakin menantang karena siswa kini harus sudah berada di kelas pada pukul 06.30 WIB.
“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya,” ujar Taufik.
Saat ini, sebanyak 16 siswa SD Negeri Budiharja masih menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.
Mereka terdiri atas tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.
Bagi pihak sekolah, persoalan tersebut tidak sekadar menyangkut jarak perjalanan. Akses menuju sekolah juga berkaitan dengan kenyamanan anak-anak dalam memperoleh pendidikan.
Rutinitas tersebut juga dijalani Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang yang anak keduanya kini duduk di kelas 3 SD.
Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, anak Santi bersiap berangkat sekolah. Ketua RT bersama warga lainnya biasanya membantu mengantar anak-anak hingga ke tepian waduk dan menyeberangkan mereka.
Pilihan transportasi langsung menuju sekolah memang tidak tersedia.
“Tidak ada transportasi yang lain,” kata Santi.
Rakit menjadi sarana yang paling memungkinkan karena dapat memangkas waktu perjalanan dibandingkan jalur darat. Namun, penggunaan rakit tetap membuat orang tua menyimpan kekhawatiran.
Risiko tersebut terasa terutama ketika hujan turun deras atau permukaan waduk dipenuhi eceng gondok. Anak-anak tetap harus menyeberang agar tidak terlambat mengikuti kegiatan belajar.
Santi salah satunya mengkhawatirkan anak terpeleset ketika berada di atas rakit, terlebih saat bercanda dengan teman-temannya.
“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” kata Santi.
Ketika tidak ada warga yang mengantar, anak-anak harus menempuh jalur darat dengan berjalan kaki.
“Paling setengah jam kalau cepat,” kata Santi.
Di tengah keterbatasan akses tersebut, perjalanan menggunakan rakit tetap menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk mencapai sekolah.
Penggunaan rakit untuk menyeberangkan anak sekolah ternyata telah berlangsung selama puluhan tahun.
Ketua RT 05 Agus Sumpena mengatakan tradisi tersebut sudah berlangsung sejak sekitar 1990. Pada masa awal, orang tua mengantar anak-anak mereka masing-masing.
Seiring waktu, pihak sekolah membuat rakit umum yang khusus digunakan untuk penyeberangan siswa.
“Ini dari penyeberangan anak sekolah, khususnya dari tahun 90. Kalau dulu dari orang tua masing-masing, kemudian diadakan oleh kepala sekolah, dibuat rakit umum khusus untuk penyeberangan anak sekolah,” kata Agus.
Rakit tersebut dibuat secara swadaya oleh warga. Bahan utamanya adalah bambu yang memiliki masa pakai terbatas.
Dalam kondisi tertentu, rakit hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga tahun sebelum rusak. Setelah itu, warga kembali mengumpulkan biaya untuk membuat rakit baru.
Agus mengatakan sedikitnya sudah enam kali rakit berganti.
“Kadang-kadang dua-tiga tahun sudah rusak, ganti lagi. Kadang-kadang swadaya bikin. Ini beli bambu, swadaya bikin rakit buat penyeberangan anak sekolah,” ujarnya.
Rakit berukuran besar mampu membawa sekitar 15 hingga 20 anak dalam satu perjalanan.
Pada pagi hari, warga membantu mengantarkan siswa menuju sekolah. Setelah itu, mereka kembali menjalankan aktivitas masing-masing sebelum kembali menjemput anak-anak saat kegiatan belajar selesai.
Di lingkungan sekolah, penjaga sekolah turut membantu mengatur proses penyeberangan siswa.
Fungsi rakit di Kampung Sadang tidak berhenti sebagai sarana perjalanan anak menuju sekolah. Bagi warga RT 05, penyeberangan tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Sebagian besar warga bekerja sebagai perajin. Sebagian lainnya menggantungkan penghasilan sebagai petani.
Rakit digunakan untuk menuju kebun, membawa barang, hingga menjalankan aktivitas jual beli di seberang waduk.
Karena itu, kebutuhan terhadap jembatan dirasakan lebih luas. Bukan hanya siswa dan orang tua, masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari di sekitar Waduk Saguling juga membutuhkan akses tersebut.
Agus mengatakan keinginan memiliki jembatan telah disampaikan warga sejak lama.
“Harapan warga memang dari dulu kalau dibikin jembatan, kalau dibikin jembatan ini enaklah buat penyeberangan, khususnya anak sekolah,” ujarnya.
Keberadaan jembatan diharapkan dapat memangkas waktu perjalanan anak-anak menuju sekolah sekaligus memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat.
Keseharian anak-anak Kampung Sadang menggunakan rakit kemudian menjadi perhatian publik setelah video penyeberangan mereka beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, sejumlah siswa SD hingga SMP terlihat menaiki rakit untuk menyeberangi perairan Waduk Saguling.
Bagi warga Kampung Sadang, pemandangan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Namun, video itu memperlihatkan kepada masyarakat luas bagaimana anak-anak berseragam sekolah harus menempuh perjalanan menggunakan rakit untuk mendapatkan akses pendidikan.
Perhatian publik tersebut kemudian mendapat respons dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi mengatakan tim Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat akan meninjau lokasi untuk mengkaji potensi pembangunan akses penyeberangan tersebut.
Rencana peninjauan itu membuka harapan baru bagi warga Kampung Sadang yang selama puluhan tahun mengandalkan rakit bambu untuk menghubungkan aktivitas mereka di kedua sisi Waduk Saguling.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Tujuh tim dance terbaik siap bertarung di Grand Final Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 di Prambanan, Jogja, 30 Agustus.
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Festival Mustika Rasa resmi dibuka di Alun-Alun Selatan Jogja, Sabtu (29/8/2026). Festival kuliner yang melibatkan ratusan UMKM lokal ini membawa pesan tentang
Bala Mataram Rescue yang tumbuh dari suporter PSIM kini memiliki ambulans sendiri berkat bantuan Brajamusti Rantau untuk misi kemanusiaan
Ribuan warga mengikuti senam di Alun-Alun Selatan Jogja dan menggalang donasi lebih dari Rp10 juta untuk korban gempa NTT.