FEB UGM Gandeng Kampus Jerman Cetak Doktor Praktisi, UKT Rp50 Juta

Newswire
Newswire Minggu, 06 September 2026 06:47 WIB
FEB UGM Gandeng Kampus Jerman Cetak Doktor Praktisi, UKT Rp50 Juta

Dari kiri ke kanan, Ketua Departemen Manajemen dan Ketua Program International Doctorate in Business (IDB), Nurul Indarti; Professor of Business Administration at the Faculty of Business Management and Social Sciences at Osnabrück University of Applied Sciences, Germany Kai-Michael Griese; dan Sekretaris Program Studi Magister Manajemen (Kampus Jakarta), Sari Sitalaksmi Usai Konferensi Pers Program IDB di Gedung MBA FEB UGM, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2025). Bisnis/ Muhammad Sulthon S.K.\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mengembangkan program doktoral yang secara khusus menyasar kalangan praktisi bisnis melalui International Doctorate in Business (IDB). Program S3 tersebut dijalankan bersama Hochschule Osnabrück, University of Applied Sciences, Jerman, dengan dukungan pendanaan German Academic Exchange Service (DAAD) selama tiga tahun hingga 2028.

Berbeda dengan program doktoral konvensional yang umumnya diarahkan untuk mencetak akademisi, IDB dirancang untuk membentuk praktisi yang mampu menggunakan pendekatan ilmiah dalam menghadapi persoalan bisnis maupun pengambilan keputusan.

Ketua Departemen Manajemen dan Ketua Program International Doctorate in Business (IDB), Prof. Nurul Indarti, mengatakan sasaran peserta menjadi salah satu pembeda utama program tersebut.

"Jadi kami secara eksplisit menulis bahwa target participant-nya kalau IDB adalah practitioners, kalau yang konvensional doktoral program adalah academicians gitu. Jadi kita benar-benar di learning goals, learning outcomes, tujuan pembelajaran, tujuannya itu beda," katanya saat konferensi pers di Gedung MBA FEB UGM, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2025).

Delapan Peserta Lolos Angkatan Pertama

Sejak diluncurkan pada 2025, sebanyak 14 orang mendaftar program IDB. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, sebanyak 8 orang diterima sebagai peserta angkatan pertama dan 7 di antaranya telah melanjutkan ke semester 2.

Ketujuh peserta tersebut akan dikirim ke Osnabrück selama dua minggu. Sebelumnya, pada 2 September 2026, para mahasiswa mengikuti Research and Scientific Writing Workshop yang kemudian dilanjutkan dengan acara utama IDB Doctoral Colloquium pada 3 September 2026.

Dalam rangkaian tersebut, mahasiswa melakukan presentasi dan bertukar gagasan ilmiah untuk memperkuat desain riset masing-masing.

Nurul menjelaskan peserta IDB berasal dari kalangan eksekutif, terutama mereka yang menduduki posisi manajer tingkat menengah dan memiliki peran dalam pengambilan keputusan di institusinya.

Program itu juga membuka ruang bagi praktisi yang telah lama berpengalaman sebagai konsultan di berbagai bidang. Latar belakang peserta mencakup sektor kesehatan yang berkaitan dengan BPJS hingga sektor perkebunan.

Menurut Nurul, FEB UGM ingin mengambil peran dalam membangun kapasitas praktisi yang memiliki pengaruh terhadap keputusan di tingkat perusahaan maupun pemerintahan.

"Sementara banyak pengambilan keputusan itu yang kemudian mempengaruhi negeri ini, kami tidak punya peran konkret. Nah, harapannya kalau kemudian kami membuka program S3 yang menyasar pada praktisi, di mana praktisi nanti akan belajar banyak bagaimana problem framing," jelasnya.

Keputusan Bisnis Didorong Berbasis Data

Melalui IDB, persoalan yang dihadapi peserta di dunia profesional digunakan sebagai dasar untuk menerapkan konsep-konsep tertentu dalam mencari solusi.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat keputusan yang diambil mahasiswa tidak hanya bertumpu pada common sense. Proses pengambilan keputusan diarahkan menggunakan scientific decision-making process.

Selain itu, program IDB juga mendorong penerapan evidence-based policy. Dengan pendekatan tersebut, keputusan diharapkan disusun berdasarkan data dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua Program Studi Magister Sains dan Doktor Ilmu Manajemen, Widya Paramita, mengatakan topik riset mahasiswa sangat beragam. Pola pembelajarannya juga berbeda dengan doktoral konvensional karena peserta merupakan kalangan profesional.

"Kalau doktor yang konvensional difokuskan pada teori, kalau yang ini memang mahasiswanya kan professionals, ya praktisi. Jadi risetnya ini adalah riset-riset yang terkait dengan perusahaan maupun juga dengan business practice," tuturnya.

Widya menjelaskan riset IDB pada dasarnya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan atau problem solving di dunia bisnis, tetapi tetap mengintegrasikan teori-teori bisnis.

Sejumlah topik yang dikaji antara lain upaya meningkatkan loyalitas pelanggan pada perusahaan telekomunikasi, persoalan post-merger di perusahaan, innovation capability, dan innovation behavior.

Ada pula penelitian mengenai penyediaan atau suplai air bersih di Indonesia. Beragam topik tersebut menunjukkan riset IDB mencakup persoalan praktis di sejumlah industri di Indonesia.

"Jadi banyak hal yang terkait dengan berbagai industri di Indonesia," ucapnya.

Belajar Fleksibel Selama Tiga Tahun

Sekretaris Program Studi Magister Manajemen (Kampus Jakarta), Sari Sitalaksmi, mengatakan IDB dirancang selama tiga tahun dengan sistem pembelajaran fleksibel yang menyesuaikan kebutuhan peserta sebagai praktisi.

Pada tahun pertama, mahasiswa mengikuti perkuliahan di kelas dengan pola yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan hybrid.

"Nah yang menarik dari kerja sama ini adalah karena mungkin para praktisi kan mobility internasionalnya kan mungkin terkait dengan bisnis dia saja. Nah begitu bergabung dengan program ini kan bisa terjadi proses interaksi dengan di DBA di Jerman itu juga keren-keren loh misalnya, kan harus ada punya networking yang sesama bisnis scholars," ujarnya.

Memasuki tahun kedua dan ketiga, mahasiswa lebih banyak berkonsentrasi pada penelitian dengan bimbingan dosen pembimbing. Jadwal pelaksanaan penelitian dapat diatur secara mandiri agar tetap menyesuaikan aktivitas profesional masing-masing mahasiswa.

Targetnya, seluruh rangkaian pendidikan doktoral tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun.

Selain mendapatkan jejaring internasional, mahasiswa juga diharapkan memperoleh pengalaman melalui kunjungan ke sektor atau industri yang relevan di negara lain pada tahun berikutnya.

Menurut Sari, pengalaman tersebut menjadi salah satu pembeda sekaligus nilai tambah International Doctor in Business dibandingkan program DBA pada umumnya.

"Mereka juga nanti pada saat tahun depan berkunjung ke mudah-mudahan sektor yang sama di negara lain. Jadi ada itu nilai tambahnya mungkin kalau dibandingkan dengan program kalau di tempat lain disebut DBA saja, di kita jadi labelnya jadi International Doctor in Business," jelasnya.

Alasan Kampus Jerman Gandeng UGM

Professor of Business Administration at the Faculty of Business Management and Social Sciences at Osnabrück University of Applied Sciences, Germany, Project dan Director InDe-PaHT, Kai-Michael Griese, mengatakan reputasi UGM menjadi salah satu alasan Hochschule Osnabrück menjalin kerja sama tersebut.

Menurut Kai, terdapat kesamaan antara gambaran besar program IDB dengan karakter pembelajaran di Jerman atau Eropa. Keduanya memadukan teori dan praktik.

"Karena kombinasi antara pertanyaan-pertanyaan praktis dan kerangka teoritis seperti ini adalah sesuatu yang sangat relevan bagi University of Applied Sciences kami. Jadi, ini sebenarnya adalah kunci kami, inti dari kegiatan kami, yaitu menggabungkan kegiatan-kegiatan tersebut," kata Kai.

Dia mengatakan reputasi Universitas Gadjah Mada dinilai sangat tinggi, termasuk dari perspektif Eropa. UGM dipandang memiliki kualitas akademik yang kuat serta didukung para ahli di berbagai bidang.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan minat DAAD untuk menjalin kerja sama dengan universitas-universitas di dunia yang mempunyai standar akademik tinggi.

"Reputasi Universitas Gadjah Mada sangat tinggi. Jadi, saya bisa berbicara dari sudut pandang Eropa, reputasi universitas ini sangat tinggi dan mereka bekerja pada tingkat yang sangat baik," terangnya.

Kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik. Kai menyebut pemerintah Jerman juga memiliki keinginan memperluas hubungan dan pertukaran dengan Indonesia.

Jerman dan Indonesia, menurut dia, mempunyai sejarah kerja sama dan pertukaran yang panjang. Karena itu, Indonesia dipandang bukan hanya sebagai mitra akademik, tetapi juga sebagai sahabat.

"Tetapi tidak kalah penting, pemerintah Jerman dan juga universitas kami berfokus pada aspek keberlanjutan dan ini adalah salah satu alasan mengapa mereka juga mendukung kami untuk menjadi lebih berkelanjutan dalam bisnis, dalam model bisnis, dan program ini memberikan kami kesempatan tersebut," terangnya.

Kai menegaskan kerja sama tersebut bukan sekadar pemanfaatan pendanaan DAAD selama tiga tahun. Menurutnya, Indonesia merupakan mitra penting bagi Jerman dan kolaborasi yang dibangun menjadi bagian dari kemitraan jangka panjang yang telah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

Syarat Daftar dan Biaya Kuliah IDB

Calon mahasiswa International Doctorate in Business wajib memenuhi sejumlah persyaratan akademik dan profesional. Peserta harus merupakan lulusan Program Sarjana dan Magister dari Universitas yang bereputasi.

Selain itu, calon mahasiswa wajib memiliki skor TPA minimum 550 dan skor TOEFL minimum 550 atau IELTS 6.5. Persyaratan lainnya adalah pengalaman karier minimum 7 tahun serta rekam jejak kepemimpinan yang kuat.

Proses seleksi calon mahasiswa terdiri atas dua tahap, yakni seleksi administrasi dan wawancara.

Untuk biaya pendidikan, UKT program tersebut ditetapkan sebesar Rp50 juta per semester. Perkuliahan berlangsung selama 6 semester atau 3 tahun.

Sementara itu, admisi dibuka mulai Agustus 2026 hingga Januari 2027.

Informasi lebih lanjut mengenai program International Doctorate in Business dapat diperoleh melalui website FEB UGM.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online