Luhut Ajak Tsinghua Teliti 435 Spesies Herbal Indonesia

Newswire
Newswire Minggu, 04 Oktober 2026 17:27 WIB
Luhut Ajak Tsinghua Teliti 435 Spesies Herbal Indonesia

Foto ilustrasi teh herbal. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengajak Universitas Tsinghua, China, berkolaborasi mengembangkan penelitian genomik terhadap kekayaan tanaman herbal Indonesia. Penelitian tersebut diarahkan pada koleksi 435 spesies herbal yang dikembangkan di Institut Teknologi Del (IT Del), Sumatera Utara.

Luhut menyampaikan ajakan tersebut dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Bali, Minggu.

“Kami memiliki seluruh ekosistem di sana. Ada 435 spesies herbal, yang menurut saya mungkin menjadi salah satu koleksi terbesar di kawasan ini, bahkan mungkin di dunia,” kata Luhut.

Menurut Luhut, Indonesia telah mengembangkan kemampuan penelitian genomik sekaligus memiliki fasilitas teknologi yang dapat digunakan untuk mempercepat pengkajian sumber daya hayati.

Karena itu, ia berharap peneliti Tsinghua dapat bekerja bersama ilmuwan Indonesia untuk memperkuat penelitian terhadap kekayaan hayati tersebut. Menurutnya, keanekaragaman hayati Indonesia perlu dipelajari dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan berbasis riset tersebut, lanjut Luhut, tidak hanya bertujuan menjaga kekayaan hayati Indonesia. Penelitian juga diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.

IT Del Kembangkan Bank Gen Herbal

Luhut menyebut IT Del sedang mengembangkan kemampuan riset sekaligus bank gen herbal. Pengembangan tersebut didukung perangkat pengurutan genom dari China, termasuk MGI T7 dan MGI B300, untuk menunjang penelitian molekuler.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari ekosistem penelitian yang menurut Luhut sudah dimiliki Indonesia. Karena itu, kolaborasi dengan Tsinghua diharapkan dapat langsung diarahkan pada pemanfaatan infrastruktur yang tersedia.

“Kami tidak mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membangun semuanya dari awal. Kami sudah memiliki infrastruktur, tetapi kami membutuhkan Universitas Tsinghua untuk memanfaatkannya bersama,” ujarnya.

Selain pengembangan bank gen, para peneliti juga mengembangkan kecerdasan buatan untuk membantu membaca molekul kemenyan atau frankincense. Bahan herbal tersebut menjadi salah satu objek yang berpotensi dikaji lebih lanjut dalam penelitian kesehatan.

Menurut Luhut, keterlibatan perguruan tinggi dengan kemampuan riset tinggi seperti Tsinghua dapat memperkuat kapasitas ilmuwan Indonesia dalam mengembangkan penelitian berbasis sumber daya hayati.

Kolaborasi Diminta Menghasilkan Program Konkret

Luhut menekankan kerja sama Indonesia dan Tsinghua tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi perlu diarahkan ke program konkret. Bentuknya antara lain penelitian bersama, pertukaran peneliti, pengembangan laboratorium, hingga publikasi ilmiah.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar fasilitas dan sumber daya penelitian yang telah tersedia dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pengetahuan serta inovasi yang lebih luas.

Selain penelitian herbal, Luhut juga mendorong kerja sama genomik di sektor pertanian. Riset tersebut diarahkan untuk menghasilkan benih unggul, tanaman yang lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, serta meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.

Ia menilai penelitian pertanian menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan pembangunan dan perubahan kondisi lingkungan.

Tsinghua Southeast Asia Center Jadi Pintu Kerja Sama

Luhut berharap Tsinghua Southeast Asia Center di Bali dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama pendidikan dan penelitian antara China, Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara.

Menurutnya, kemitraan kedua negara perlu bergerak lebih jauh dari sekadar investasi dan transfer teknologi. Kerja sama diharapkan berkembang menjadi inovasi bersama yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Dengan dukungan infrastruktur penelitian yang telah dikembangkan di Indonesia dan kapasitas riset Tsinghua, kolaborasi genomik tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia secara bertanggung jawab.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online