Hunters Moon Oktober 2026: Jadwal, Asal-usul, dan Potensi Rob

Jumali
Jumali Senin, 26 Oktober 2026 17:37 WIB
Hunters Moon Oktober 2026: Jadwal, Asal-usul, dan Potensi Rob

Bulan Purnama - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena bulan purnama Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu dapat diamati pada Senin (26/10/2026) malam. Masyarakat bisa menyaksikannya dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus, selama cuaca cerah dan pandangan ke arah langit tidak terhalang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini di Jakarta mulai pukul 20.00 WIB. Pada waktu tersebut, posisi Bulan sudah cukup tinggi di langit sehingga lebih mudah terlihat dibandingkan sesaat setelah terbit.

Berdasarkan informasi BMKG, Bulan terbit dari arah timur di Jakarta pada pukul 17.53 WIB. Bulan kemudian mencapai posisi tertinggi pada pukul 23.58 WIB dan diperkirakan terbenam pada Selasa (27/10/2026) pukul 05.10 WIB.

Jadwal tersebut khusus untuk wilayah Jakarta. Waktu terbit dan terbenam Bulan dapat berbeda di daerah lain, sehingga masyarakat perlu menyesuaikan waktu pengamatan dengan lokasi masing-masing.

Jadwal Hunter’s Moon 26 Oktober 2026 di Jakarta

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan Bulan Pemburu, berikut jadwal pengamatan berdasarkan informasi BMKG untuk wilayah Jakarta.

Untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas, pilih lokasi dengan pandangan langit terbuka dan minim penghalang. Kondisi cuaca juga menentukan keberhasilan pengamatan karena awan tebal dapat menutupi Bulan.

Asal-usul Nama Hunter’s Moon

Hunter’s Moon merupakan sebutan tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon. Istilah ini berasal dari tradisi penamaan bulan yang berkembang di kalangan penduduk asli Amerika, termasuk suku Algonquian, serta pemukim awal Eropa.

Jika Harvest Moon dikaitkan dengan masa panen, Hunter’s Moon berhubungan dengan kegiatan berburu untuk mengumpulkan persediaan makanan menjelang musim dingin di belahan Bumi utara.

Pada masa lalu, ladang yang telah dipanen membuat hewan seperti rusa dan rubah datang mencari sisa hasil panen. Cahaya bulan purnama yang terang juga membantu para pemburu melihat dan melacak hewan pada malam hari.

Nama tersebut tidak selalu merujuk pada bulan purnama di Oktober. Dalam tahun tertentu, Hunter’s Moon dapat muncul pada November, bergantung pada waktu terjadinya Harvest Moon.

Hunter’s Moon Tidak Berbeda secara Fisik dari Bulan Purnama Biasa

Meski memiliki nama khusus, Hunter’s Moon tidak mempunyai karakteristik fisik yang berbeda dari bulan purnama lainnya. Keistimewaannya terletak pada latar belakang sejarah dan tradisi yang melandasi penamaannya.

Dengan demikian, istilah Bulan Pemburu bukan menandakan jenis Bulan yang berbeda. Sebutan itu merujuk pada urutan bulan purnama dalam tradisi penamaan yang berkembang di belahan Bumi utara.

BMKG menyatakan fenomena ini aman diamati secara langsung menggunakan mata telanjang. Masyarakat tidak memerlukan kacamata khusus atau pelindung mata untuk melihat bulan purnama.

BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Wilayah Pesisir

Di balik fenomena langit tersebut, BMKG juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk mewaspadai potensi kenaikan muka air laut atau banjir rob.

Pada fase purnama, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis atau hampir segaris. Kombinasi gaya gravitasi ketiganya dapat memicu pasang purnama, yakni kondisi ketika air laut pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi biasa.

Meski demikian, potensi dan dampak banjir rob berbeda-beda di setiap wilayah pesisir. Masyarakat di kawasan rawan perlu mengikuti informasi kondisi laut dan peringatan resmi dari BMKG serta pihak berwenang setempat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online