Advertisement

Banyak Siswa Salah Arah Minat dan Cita-cita Tak Sepenuhnya Nyambung

Newswire
Selasa, 07 April 2026 - 19:52 WIB
Maya Herawati
Banyak Siswa Salah Arah Minat dan Cita-cita Tak Sepenuhnya Nyambung Foto siswa SMA./ Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kesesuaian antara minat dan cita-cita siswa SMA di Indonesia masih belum optimal. Sebagian besar siswa berada pada kategori sedang, yang berarti pilihan masa depan mereka belum sepenuhnya selaras dengan potensi diri.

Temuan ini menjadi sorotan karena berpotensi memicu masalah lanjutan, mulai dari salah jurusan hingga karier yang tidak berkembang maksimal.

Advertisement

Psikolog Rahma Widyana menyebut tingkat kongruensi minat dan cita-cita siswa masih tergolong moderat.

“Berdasarkan tingkat kongruensinya, kesesuaian antara tipe minat dengan cita-cita sebagian besar anak di Indonesia berada pada kategori sedang atau moderat. Jadi, tingkat kesesuaiannya tidak terlalu tinggi,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Terbuka Senat di Universitas Mercu Buana Jogja, dalam rangka pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar bidang Psikologi Pendidikan.

Dalam penelitiannya, Rahma menggunakan pendekatan teori pilihan karier dari John Holland yang membagi tipe minat menjadi enam kategori, yakni realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional.

Ia menilai, ketidaksesuaian kerap terjadi karena siswa memilih cita-cita berdasarkan dorongan keluarga atau faktor prestise, bukan berdasarkan minat asli.

“Misalnya, ada keinginan untuk memberikan manfaat di suatu bidang, tetapi pilihan itu tidak disesuaikan dengan tipe minat yang mereka miliki,” katanya.

Selama lima tahun terakhir, Rahma melakukan pendampingan penelusuran bakat dan minat bagi siswa SMA, termasuk memberikan konseling kepada orang tua.

Langkah ini dilakukan untuk mengubah pola pikir lama yang menilai keberhasilan hanya dari sisi status sosial atau keuntungan ekonomi.

Menurutnya, ketidaksesuaian minat dan pilihan studi sering berujung pada kasus salah jurusan di perguruan tinggi.

“Dampak ketidaksesuaian yang sering terjadi selama ini adalah kasus salah jurusan, yang membuat mahasiswa merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka pindah jurusan di pertengahan jalan atau tidak bisa optimal dalam menekuni bidang tersebut,” ujarnya.

Dampak tersebut tidak berhenti di bangku kuliah. Saat masuk dunia kerja, banyak individu kembali beralih ke bidang lain yang lebih sesuai dengan minatnya.

Akibatnya, pengembangan karier menjadi tidak maksimal karena tidak berangkat dari passion yang tepat.

Rahma menekankan peran orang tua sangat penting dalam proses ini. Ia mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan kehendak terhadap pilihan anak.

“Orang tua seharusnya tidak egois dengan hanya mengedepankan keinginan pribadi pada anak nantinya. Tapi sebaliknya, perlu memberikan alternatif yang sesuai keinginan dan potensi anak,” katanya.

Ia berharap pendekatan berbasis minat dapat menjadi pijakan utama dalam menentukan masa depan siswa agar mereka lebih yakin, nyaman, dan berkembang secara optimal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Menkeu Tegaskan Kebijakan BBM Subsidi Atas Arahan Presiden

Menkeu Tegaskan Kebijakan BBM Subsidi Atas Arahan Presiden

News
| Selasa, 07 April 2026, 21:27 WIB

Advertisement

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Wisata
| Minggu, 05 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement