BMKG Deteksi Tsunami Gempa M 7,7 NTT di 10 Titik, Ini Lokasinya
BMKG mencatat tsunami akibat gempa Nagekeo terdeteksi di 10 titik pesisir, dengan gelombang tertinggi 0,94 meter di Maurole, Ende.
Sekolah Islam Ibnu Abbas Yogyakarta pada tahun ajaran 2022/2023 meluluskan sebanyak 899 siswa dan melakukan penutupan Pendidikan atau wisuda secara massal di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (11/6/2023). /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Meski bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Islam, namun sekolah di bawah Yayasan Islam Cahaya Hati Ibnu Abbas berkomitmen untuk menjaga kearifan lokal dan nilai kebangsaan. Sejumlah jenjang Pendidikan sekolah ini mewajibkan lulusan memiliki pemahaman dasar yang cukup terhadap Bahasa Jawa Krama.
Sekolah Islam Ibnu Abbas Yogyakarta pada tahun ajaran 2022/2023 meluluskan sebanyak 899 siswa dan melakukan penutupan Pendidikan atau wisuda secara massal di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (11/6/2023).
BACA JUGA : Ini Dia 10 SMP di Jogja dengan Nilai ASPD Tertinggi Tahun Ini
“Total tahun ini kami meluluskan 899 siswa yang diwisuda berasal dari jenjang TK, SD, serta SMP. Rinciannya 706 lulus dari TK, kemudian 176 dari jenjang SD dan 26 siswa lulus untuk pendidikan SMP. Jumlah sekolah kami ada 77 untuk seluruh DIY,” kata Ketua Pembina Yayasan Islam Cahaya Hati Ibnu Abbas, Nandar Winoro dalam keterangannya.
Ia mengungkap sekolahnya berusaha membangun ciri khas tersendiri. Di antaranya komitmen penguasaan materi terhadap siswa yang akan lulus. Nandar mencontohkan untuk jenjang TK diupayakan mampu menguasai beberapa tujuan pembelajaran. Terdiri atas bisa membaca dan menulis, berhitung, membaca Alquran, hafal 30 juz, penguasaan dasar komputer hingga berenang. Tak hanya itu, ada kewajiban bagi siswa untuk menguasai minimal dasar Bahasa Jawa Krama.
“Jadi siswa didampingi ketika belajar Bahasa Jawa, targetnya saat lulus mereka bisa minimal dasar Bahasa Jawa Krama, ini diterapkan melalui pembiasaan,” katanya.
Nandar menyadari khusus untuk jenjang TK tersebut memang diarahkan pada konsep pengenalan. Karena sebenarnya jenjang ini belum diwajibkan membaca dan menulis, akan tetapi karena tuntutan materi pembelajaran di era saat ini sehingga banyak siswa yang mampu mengikuti.
“Seperti penguasaan komputer mereka rata-rata sudah terbiasa karena eranya teknologi. Untuk membaca dan menulis itu sebagai persiapan menuju SD,” katanya.
BACA JUGA : Siswa dari SMP Negeri di Jogja Ini Raih Nilai ASPD Tertinggi
Terkait Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) untuk jenjang SD dan SMP, lanjut Nandar, masih dibutuhkan sekolah sebagai salah satu media motivasi bagi siswa untuk belajar. Meski sebenarnya hasil dari ASPD tidak sepenuhnya menjadi syarat kelulusan maupun kenaikan kelas.
“Kalau kami pilih tengah-tengah [mengomentari ASPD] di satu sisi ada positifnya juga untuk memotivasi, tetapi di sisi lain kadang menjadi beban tersendiri bagi siswa,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BMKG mencatat tsunami akibat gempa Nagekeo terdeteksi di 10 titik pesisir, dengan gelombang tertinggi 0,94 meter di Maurole, Ende.
Tiga orang yang disebut anggota OPM tewas dalam kontak senjata dengan TNI di Distrik Eral Makawia, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
Cristiano Ronaldo mengisyaratkan musim 2026-27 bisa menjadi tahun terakhirnya sebagai pesepak bola profesional setelah karier lebih dari 20 tahun.
PLN menyiagakan 45.000 personel di 2.275 titik untuk menjaga keandalan listrik HUT RI ke-81 dengan cadangan daya 9 GW.
Apple mengusulkan komisi 15% untuk transaksi melalui tautan pembayaran di luar App Store. Tarif berbeda berlaku bagi pengembang tertentu.
Vietnam menang 0-2 atas Malaysia pada leg pertama semifinal Piala AFF 2026. Simak hasil dan peluang kedua tim menuju final.