Pengangguran Terdidik Tinggi, UGM Dorong Penguatan Pelatihan Vokasi

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Selasa, 18 Agustus 2026 19:07 WIB
Pengangguran Terdidik Tinggi, UGM Dorong Penguatan Pelatihan Vokasi

Ilustrasi pendidikan vokasi (Freepik)

Harianjogja.com, SLEMAN—Tingginya pengangguran terdidik di Indonesia dinilai tidak semata-mata terjadi karena terbatasnya lapangan pekerjaan. Guru Besar Fisipol UGM, Prof. Tadjuddin Noer Effendi melihat adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang turut membuat lulusan kesulitan masuk pasar kerja.

Menurut Tadjuddin, persoalan tersebut berkaitan dengan pola pendidikan yang masih lebih banyak memberikan bekal teori dibandingkan keterampilan praktis. Padahal, dunia kerja membutuhkan tenaga yang tidak hanya memiliki latar belakang pendidikan, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

"Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," kata pengamat ketenagakerjaan itu pada Selasa (18/8/2026).

Teknologi Ubah Kebutuhan Tenaga Kerja

Persoalan mismatch bukan satu-satunya faktor yang disoroti Tadjuddin. Perkembangan teknologi yang berlangsung pesat, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan robotika, dinilai ikut memengaruhi kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja.

Menurut dia, industri kini semakin memprioritaskan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Sementara itu, bekal keterampilan teknologi tersebut dinilai belum sepenuhnya diperoleh mahasiswa selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

"Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, latar belakang pendidikan saja dinilai belum cukup untuk menjamin lulusan perguruan tinggi dapat langsung memasuki dunia kerja. Keterampilan praktis menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperkuat agar kompetensi lulusan lebih sesuai dengan permintaan industri.

Industri Padat Karya Tertekan

Di sisi lain, Tadjuddin menilai persoalan pengangguran terdidik juga berkaitan dengan struktur ekonomi Indonesia yang belum mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, terutama di sektor industri.

Industri padat karya yang selama ini menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut kemudian mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja.

Dampaknya, peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK) turut terjadi. Situasi ini membuat persoalan penyerapan tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan kesiapan lulusan, tetapi juga dengan kemampuan sektor industri menyediakan pekerjaan.

Pelatihan Vokasi Jadi Jalan Keluar

Tadjuddin menilai program magang pemerintah merupakan langkah positif karena dapat membantu lulusan memperoleh pengalaman sekaligus keterampilan kerja. Namun, daya tampung program tersebut masih dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan jumlah pengangguran terdidik.

Karena itu, dia mendorong pemerintah memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berorientasi pada kebutuhan industri. Pusat pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi jalur yang lebih cepat bagi lulusan perguruan tinggi yang belum terserap pasar kerja untuk meningkatkan kompetensinya.

"Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," tegasnya.

Menurut Tadjuddin, pemerintah dan perguruan tinggi perlu memperkuat pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Sasaran utamanya ialah lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja agar memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan industri.

Penguatan pelatihan vokasi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi pengangguran terdidik. Selain meningkatkan keterampilan lulusan, langkah tersebut diarahkan agar kompetensi pencari kerja lebih sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

"Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," tukasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online