Eks Kepala BMKG Ungkap Cuaca dan Bencana Alam Saling Memengaruhi

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Kamis, 10 September 2026 06:57 WIB
Eks Kepala BMKG Ungkap Cuaca dan Bencana Alam Saling Memengaruhi

Pakar Vulkanologi UGM, Prof. Agung Harijoko (kanan) saat menghadiri diskusi Pojok Bolaksumur di UGM pada Rabu (9/9/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Mantan Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa cuaca dan bencana alam memiliki hubungan timbal balik. Cuaca ekstrem dapat memicu bencana, sedangkan bencana tertentu juga dapat memengaruhi kondisi cuaca.

Hubungan tersebut, menurut Dwikorita, salah satunya terlihat pada bencana hidrometeorologi. Kondisi cuaca, khususnya hujan ekstrem, dapat menjadi pemicu terjadinya bencana yang berdampak terhadap masyarakat.

"Kalau yang terjadi sebetulnya cuaca itu kan bisa mengakibatkan bencana, makanya dikatakan bencanya hidrometeorologi. Cuaca hujan yang ekstrem itu menimbulkan bencana," terang Dwikorita.

Erupsi Gunung Api Bisa Memengaruhi Cuaca

Pengaruh antara cuaca dan bencana tidak hanya terjadi ketika cuaca memicu bencana. Dwikorita menyebut peristiwa bencana tertentu juga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca.

Ia mencontohkan erupsi Gunung Anak Krakatau. Semburan abu dari erupsi dapat menutup sinar matahari sehingga kondisi cuaca menjadi mendung.

"Tapi apakah bencana bisa mempengaruhi cuaca? Bisa juga. Erupsi Gunung Anak Krakatau, itu abu semburan abu itu kan bisa menutup sinar matahari. Kan cuacanya kan menjadi mendung. Nah, seperti itu. Jadi bisa timbal balik seperti itu," jelasnya.

Fenomena gunung api juga menjadi perhatian ketika enam gunung api aktif secara bersamaan. Pakar Vulkanologi UGM, Prof. Agung Harijoko, memastikan kondisi tersebut merupakan fenomena alam dan menegaskan belum ada bukti ilmiah mengenai teknologi yang mampu memicu aktivitas vulkanik secara serentak.

Enam Gunung Api Aktif Bersamaan Bisa Terjadi Secara Alami

Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya di bidang vulkanologi, Agung menjelaskan bahwa aktivitas erupsi gunung api merupakan bagian dari proses geologi.

"Kalau saya sampai saat ini masih percaya bahwa proses erupsi gunung api itu adalah proses geologi ya," kata Agung saat ditemui di UGM pada Rabu (9/9/2026).

Menurut Agung, erupsi terjadi ketika tekanan di dapur magma semakin tinggi hingga mampu menerobos keluar gunung. Proses tersebut merupakan mekanisme alami dalam aktivitas vulkanik.

"Jadi, artinya adalah proses alam di mana dapur magma itu membangun tekanan, dan tekanannya kemudian menjadi cukup tinggi sehingga kemudian bisa menerobos keluar," tutur Agung.

Atas dasar proses tersebut, Agung menyebut erupsi gunung api tidak memiliki kaitan dengan teknologi tertentu. Ia mengatakan sampai saat ini belum terdapat bukti yang menunjukkan suatu teknologi dapat memicu terjadinya erupsi.

"Jadi, tidak ada kaitannya dengan apa? Ada teknologi frekuensi atau apa itu. Jadi, itu belum ada buktinyalah kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi, tetap saja kalau saya masih percaya bahwa itu adalah proses alami, proses geologi ," tegasnya.

Agung juga menilai aktivitas enam gunung api secara bersamaan sangat mungkin berlangsung secara natural tanpa campur tangan manusia.

"Tetapi sebenarnya secara natural, secara alami ada gunung api enam gunung api yang aktif bersamaan itu sangat mungkin sekali terjadi. Jadi, tidak ada campur tangan manusia," tukasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online