Mendiktisaintek Soroti Porsi Mahasiswa STEM yang Masih 28 Persen

Newswire
Newswire Sabtu, 03 Oktober 2026 21:37 WIB
Mendiktisaintek Soroti Porsi Mahasiswa STEM yang Masih 28 Persen

Mendiktisaintek Brian Yuliarto./Bisnis-Annisa Nurul Amara\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti proporsi mahasiswa bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) di Indonesia yang masih sekitar 28 persen.

Menurut Brian, penguatan bidang keilmuan strategis diperlukan untuk mengimbangi perkembangan sains, teknologi, dan industri, terutama di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum.

Pada 2025, Indonesia tercatat memiliki 34.711 program studi atau meningkat 2,9 persen. Jumlah tersebut mencakup 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, dan 2,78 juta lulusan.

Dari keseluruhan program studi tersebut, bidang pendidikan menjadi salah satu yang memiliki jumlah besar, yakni 7.045 program studi dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa.

Sementara itu, bidang STEM yang mencakup teknik, kesehatan, pertanian, serta matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) baru menampung sekitar 28 persen mahasiswa.

"Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum, penguatan sains fundamental menjadi semakin penting. Perguruan tinggi perlu memperkuat fondasi keilmuan untuk mendorong inovasi dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi serta berdaya saing di era perkembangan teknologi," katanya.

Bukan Sekadar Menambah Program Studi

Brian mengatakan pengembangan pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya berorientasi pada penambahan atau pengembangan program studi. Menurut dia, hal yang lebih penting adalah memperkuat keilmuan, meningkatkan kualitas lulusan, serta memastikan pendidikan tinggi memberikan dampak bagi masyarakat.

"Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya," ujar dia.

Penguatan tersebut, menurut Brian, semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung cepat. Perguruan tinggi perlu memiliki fondasi keilmuan yang kuat agar dapat mendorong inovasi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

Guru Jadi Penggerak Minat Sains

Peran perguruan tinggi kependidikan juga menjadi perhatian Mendiktisaintek. Kampus yang menghasilkan tenaga pendidik dinilai memiliki peran penting dalam melahirkan guru-guru inovatif yang dapat menumbuhkan ketertarikan peserta didik terhadap sains dan teknologi.

Brian menilai metode pembelajaran perlu terus dievaluasi dan dikembangkan. Tujuannya agar anak-anak dan remaja tertarik mempelajari bidang keilmuan yang selama ini dianggap sulit atau kurang diminati.

"Kampus-kampus pendidikan, kampus-kampus yang nantinya akan melahirkan guru-guru yang inovatif. Kampus yang akan melahirkan inovasi-inovasi di bidang pendidikan," katanya.

Menurut Brian, guru yang berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran perlu mendapatkan stimulus. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat peserta didik terhadap berbagai bidang keilmuan, terutama sains fundamental.

Dukungan terhadap guru dan perguruan tinggi kependidikan juga dinilai penting untuk menyiapkan generasi muda yang dapat bersaing dan berkontribusi dalam pengembangan sains dan teknologi.

Perguruan Tinggi Diminta Dekat dengan Industri

Selain pembelajaran, Brian menyoroti peningkatan kualitas riset dan inovasi di perguruan tinggi. Pimpinan perguruan tinggi didorong membangun hubungan yang lebih erat dengan industri.

Hubungan tersebut dapat dilakukan melalui interaksi langsung agar perguruan tinggi memahami perkembangan teknologi sekaligus kebutuhan dunia kerja.

Menurut Brian, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri diperlukan agar pendidikan tinggi maupun penelitian mampu menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan.

Di sisi lain, kapasitas dosen juga perlu diperkuat, termasuk melalui peningkatan jumlah profesor. Pimpinan perguruan tinggi diharapkan memfasilitasi pengembangan karier akademik dosen.

Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat kapasitas riset nasional.

"Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar," ucap Brian Yuliarto.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online