Wamendiktisaintek Minta Kampus Siapkan Lulusan Hadapi AI

Newswire
Newswire Rabu, 28 Oktober 2026 10:37 WIB
Wamendiktisaintek Minta Kampus Siapkan Lulusan Hadapi AI

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie. - Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, meminta kampus memahami perubahan teknologi tersebut sekaligus mengevaluasi kembali peran pendidikan tinggi.

Stella mengatakan perkembangan AI tidak berlangsung secara linear, melainkan eksponensial. Artinya, teknologi tersebut mungkin terlihat berkembang lambat pada awalnya, tetapi kemudian dapat mengalami perubahan dengan sangat cepat.

"Artificial Intelligence (AI) tidak bertumbuh secara linear, tetapi bertumbuh secara eksponensial. Pada awalnya, perkembangannya mungkin terlihat pelan, tetapi kemudian dapat berubah dengan sangat cepat," kata Stella dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Menurut Stella, pemahaman terhadap pola perkembangan AI diperlukan agar perguruan tinggi dapat mengantisipasi perubahan teknologi. Kampus juga perlu meninjau kembali perannya dalam pendidikan dan pengembangan pengetahuan di tengah semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan.

Kampus Perlu Mengevaluasi Peran Pendidikan

Stella menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam merespons perkembangan AI. Ia berpendapat kampus dapat menghadapi perubahan tersebut melalui strategi yang sesuai dengan perannya dalam menciptakan dan mengembangkan pengetahuan.

"Menurut saya, yang paling mampu untuk menghadapi ini sebenarnya adalah universitas. Kenapa? AI ini lahir dari pertemuan di Dartmouth University pada 1956. Jadi, kalau AI lahir dari universitas, saya rasa universitas akan mampu menghadapi itu dengan strategi yang sama," ujarnya.

Ia mengajak perguruan tinggi mengevaluasi tiga aspek penting, yakni proses menciptakan pengetahuan, menyampaikan pengetahuan kepada mahasiswa, serta mengurasi pengetahuan. Langkah tersebut diperlukan agar mahasiswa tidak sekadar mampu mengakses informasi menggunakan AI, tetapi juga memahami dan menghubungkan informasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

"Kita harus bersama-sama memikirkan peran bersama waktu kita menciptakan pengetahuan, tujuan kita mentransmisikan pengetahuan dan masih mampukah kita mengurasi pengetahuan. Itulah hal yang sangat penting yang harus kita siapkan," ucap dia.

Pekerjaan Pemula Berpotensi Terdampak AI

Selain mengubah cara memperoleh dan mengelola pengetahuan, perkembangan AI juga berpotensi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Stella menyoroti kemungkinan berkurangnya pekerjaan tingkat pemula atau entry-level jobs karena sejumlah tugas yang sebelumnya dikerjakan tenaga kerja baru dapat digantikan oleh AI dengan biaya lebih rendah.

Situasi tersebut membuat pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi lulusan menjadi semakin penting. Pemetaan diperlukan untuk mengetahui kesesuaian kemampuan lulusan dengan kebutuhan industri, sekaligus mengidentifikasi kompetensi yang masih perlu diperkuat.

Langkah tersebut juga dapat membantu mengidentifikasi ketimpangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga kerja. Karena itu, Stella menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam proses pemetaan dengan memanfaatkan struktur yang sudah tersedia agar pengumpulan data berlangsung lebih efisien.

Stella Usulkan Survei Seragam Perguruan Tinggi

Sebagai salah satu langkah konkret, Stella mengusulkan penyusunan survei dengan pertanyaan seragam untuk seluruh perguruan tinggi. Survei tersebut ditujukan untuk memetakan kondisi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Menurut Stella, penyusunan pertanyaan survei dapat dilakukan kementerian dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai studi yang telah dilaksanakan. Dengan pendekatan tersebut, pemetaan kondisi SDM diharapkan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

"Tujuan jangka pendek kita adalah membuat satu survei yang seragam untuk seluruh perguruan tinggi untuk memetakan kondisi SDM. Pertanyaan-pertanyaannya bisa disusun oleh kementerian dengan masukan dari studi-studi yang sudah dilakukan. Dengan pertanyaan yang seragam, kita bisa memetakan kondisi SDM kita saat ini," tutur Stella Christie.

Usulan survei seragam tersebut menjadi salah satu langkah yang ditawarkan untuk memperoleh gambaran kondisi SDM saat ini. Data itu dapat membantu mengidentifikasi kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online