Tim Riset Muhammadiyah Kenalkan Aplikasi Sigumi untuk Mitigasi Bencana

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Minggu, 18 Oktober 2026 18:57 WIB
Tim Riset Muhammadiyah Kenalkan Aplikasi Sigumi untuk Mitigasi Bencana

Tim peneliti Program Riset Inovatif Produktif (RISPRO) yang didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mempresentasikan hasil penelitian dan pengembangan aplikasi Sistem Informasi Gunung Api Mitigasi (Sigumi) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (15/10/2026)./Istimewa-UMY

Harianjogja.com, LOMBOK—Tim peneliti Program Riset Inovatif Produktif (RISPRO) yang didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mempresentasikan hasil penelitian dan pengembangan aplikasi Sistem Informasi Gunung Api Mitigasi (Sigumi) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (15/10/2026).

Diseminasi hasil riset tersebut dilakukan melalui dua forum akademik, yakni The 4th International Conference on Communication Science (ICCS 2026) di Universitas Mataram dan 7th National Communication Seminar (Semnaskom) di Universitas Negeri Mataram. Penelitian ini menyoroti pentingnya penguatan tata kelola kebencanaan dan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk mendukung keselamatan masyarakat serta wisatawan di kawasan rawan bencana gunung api.

Tim peneliti mengangkat dua fokus utama. Pertama, penguatan tata kelola pengurangan risiko bencana melalui regulasi, koordinasi kelembagaan, dan tata kelola digital kolaboratif. Kedua, pemberdayaan masyarakat melalui aplikasi Sigumi untuk mendukung pengembangan pariwisata yang aman bencana dan berkelanjutan.

Riset Tata Kelola Bencana di Kawasan Wisata Gunung Api

Dalam The 4th International Conference on Communication Science (ICCS 2026), Adhianty Nurjanah, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jogja (UMY), bersama Riski Apriliani, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mempresentasikan penelitian berjudul Institutionalizing Disaster Risk Reduction in Volcanic Tourism Governance: Local Regulation, Institutional Coordination, and Collaborative Digital Governance in Sleman Regency, Indonesia.

Penelitian tersebut mengkaji integrasi pengurangan risiko bencana atau disaster risk reduction (DRR) dalam tata kelola pariwisata gunung api di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogja. Kajian ini mencakup keterkaitan regulasi daerah, koordinasi antarlembaga, partisipasi pemangku kepentingan, serta penggunaan sistem informasi kebencanaan digital.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi merupakan fondasi penting dalam pelembagaan pengurangan risiko bencana. Namun, keberadaan aturan saja belum cukup untuk menjamin pelaksanaan kebijakan secara optimal.

Koordinasi kelembagaan yang berkelanjutan, keterlibatan masyarakat dan pelaku wisata, serta aksesibilitas sistem informasi digital menjadi faktor penting untuk menerjemahkan kebijakan menjadi praktik kesiapsiagaan di lapangan.

Kajian di Sleman juga menyoroti pemanfaatan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Mitigasi Bencana (Simantab) yang telah diakui dalam regulasi daerah sebagai sistem informasi kebencanaan digital. Meski demikian, perluasan akses lintas platform dan penguatan desain inklusif masih dibutuhkan agar informasi risiko dapat dijangkau lebih banyak pengguna.

Temuan tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan Sigumi sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem informasi kebencanaan yang telah tersedia. Pengembangan aplikasi diarahkan untuk merespons kebutuhan pengguna dengan tetap memperhatikan koordinasi kelembagaan dan landasan regulasi.

Sigumi Dorong Pemberdayaan Masyarakat

Pada forum nasional 7th National Communication Seminar (Semnaskom), tim peneliti mempresentasikan makalah berjudul Pemberdayaan Masyarakat Berbasis SIGUMI untuk Wisata Aman Bencana dan Berkelanjutan di Indonesia. Makalah tersebut dipresentasikan oleh Kurniawan Teguh Martono, dosen Teknik Komputer Universitas Diponegoro (UNDIP).

Presentasi ini menekankan pentingnya menghubungkan teknologi digital dengan peningkatan kapasitas masyarakat dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Di kawasan wisata gunung api, masyarakat lokal, pengelola wisata, pemandu, pelaku usaha, komunitas kebencanaan, pemerintah, akademisi, dan media memiliki peran strategis dalam memastikan informasi risiko dapat menjadi dasar tindakan kesiapsiagaan.

Sigumi dikembangkan sebagai alat bantu komunikasi risiko yang mendukung masyarakat dalam memperoleh informasi kebencanaan, membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan, serta meningkatkan kesiapsiagaan. Aplikasi ini bukan pengganti sistem penanggulangan bencana pemerintah, melainkan instrumen pendukung yang perlu diintegrasikan dengan kemampuan pengguna, mekanisme koordinasi, dan kebutuhan setiap destinasi.

Program pemberdayaan dalam penelitian ini mencakup tiga kawasan wisata gunung api, yaitu Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali; Gunung Rinjani di Kabupaten Lombok Timur, NTB; dan Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogja.

Ketiga kawasan tersebut memiliki karakteristik risiko, kebutuhan informasi, dan konteks pengelolaan pariwisata yang berbeda. Karena itu, penerapan SIGUMI perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di setiap lokasi.

Melalui pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas dan kolaborasi pentahelix, tim peneliti mendorong masyarakat menjadi aktor aktif dalam mitigasi, bukan sekadar penerima informasi. Pendekatan ini juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah dan BPBD, komunitas, pengelola wisata, akademisi, serta media dalam membangun komunikasi risiko.

Tim Peneliti Perluas Diseminasi Hasil Riset

Ketua tim penelitian, Adhianty Nurjanah, menjelaskan bahwa partisipasi dalam konferensi internasional dan seminar nasional merupakan bagian dari upaya memperluas diseminasi hasil penelitian. Forum akademik di Lombok juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan Sigumi kepada masyarakat melalui lingkungan pendidikan tinggi.

“Diseminasi hasil riset ini melalui konferensi internasional merupakan salah satu upaya untuk menyosialisasikan aplikasi SIGUMI kepada masyarakat Lombok, salah satunya melalui bidang akademik. Forum akademik menjadi ruang penting untuk memperkenalkan hasil penelitian, memperoleh masukan, dan membangun pemahaman mengenai pentingnya komunikasi risiko bencana,” ujar Adhianty.

Ia menambahkan, presentasi dalam seminar nasional menegaskan bahwa penelitian tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi. Riset tersebut juga menawarkan pendekatan untuk menjawab persoalan komunikasi bencana di kawasan wisata rawan bencana.

“Melalui seminar nasional ini, kami menegaskan bahwa hasil penelitian harus dapat berkontribusi pada pemecahan masalah, khususnya terkait komunikasi bencana di kawasan wisata rawan bencana, sehingga dapat mendukung terwujudnya pariwisata berkelanjutan yang aman, tangguh, dan nyaman bagi wisatawan,” tambahnya.

Menurut tim peneliti, penyediaan aplikasi dan penyebaran informasi saja belum cukup untuk mengatasi tantangan komunikasi kebencanaan. Upaya tersebut perlu disertai peningkatan literasi risiko bencana, edukasi kebencanaan secara masif, keterampilan masyarakat dalam menggunakan informasi, pembagian peran yang jelas, serta koordinasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix.

Dengan dukungan berbagai pihak, informasi risiko diharapkan tidak berhenti sebagai data, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi langkah kesiapsiagaan yang tepat.

Perkuat Pariwisata Gunung Api yang Aman dan Berkelanjutan

Diseminasi hasil penelitian melalui ICCS 2026 dan Semnaskom memperlihatkan pentingnya menghubungkan riset akademik, inovasi teknologi, kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Kawasan wisata gunung api memiliki potensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan yang besar. Namun, kawasan tersebut juga menghadapi ancaman erupsi sehingga membutuhkan kesiapsiagaan dan komunikasi risiko yang efektif.

Melalui Sigumi, tim RISPRO LPDP–Diktilitbang PP Muhammadiyah berupaya mendorong terbentuknya ekosistem komunikasi kebencanaan yang melibatkan berbagai pihak. Pengembangan aplikasi ke depan perlu disertai evaluasi pemanfaatan, peningkatan keterampilan pengguna, penyempurnaan fitur sesuai kebutuhan lapangan, serta penguatan mekanisme koordinasi dan prosedur komunikasi risiko.

Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya diskusi akademik mengenai komunikasi dan tata kelola bencana, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas masyarakat dan pengelolaan destinasi wisata yang lebih siap menghadapi risiko bencana.

Program penelitian ini didukung LPDP melalui skema Program Riset Inovatif Produktif (RISPRO) dan didanai bersama Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online