Advertisement
Luluskan Ratusan Siswa, Sekolah Ini Wajibkan Penguasaan Dasar Bahasa Jawa Krama
Sekolah Islam Ibnu Abbas Yogyakarta pada tahun ajaran 2022/2023 meluluskan sebanyak 899 siswa dan melakukan penutupan Pendidikan atau wisuda secara massal di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (11/6/2023). - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Meski bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Islam, namun sekolah di bawah Yayasan Islam Cahaya Hati Ibnu Abbas berkomitmen untuk menjaga kearifan lokal dan nilai kebangsaan. Sejumlah jenjang Pendidikan sekolah ini mewajibkan lulusan memiliki pemahaman dasar yang cukup terhadap Bahasa Jawa Krama.
Sekolah Islam Ibnu Abbas Yogyakarta pada tahun ajaran 2022/2023 meluluskan sebanyak 899 siswa dan melakukan penutupan Pendidikan atau wisuda secara massal di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (11/6/2023).
Advertisement
BACA JUGA : Ini Dia 10 SMP di Jogja dengan Nilai ASPD Tertinggi Tahun Ini
“Total tahun ini kami meluluskan 899 siswa yang diwisuda berasal dari jenjang TK, SD, serta SMP. Rinciannya 706 lulus dari TK, kemudian 176 dari jenjang SD dan 26 siswa lulus untuk pendidikan SMP. Jumlah sekolah kami ada 77 untuk seluruh DIY,” kata Ketua Pembina Yayasan Islam Cahaya Hati Ibnu Abbas, Nandar Winoro dalam keterangannya.
Ia mengungkap sekolahnya berusaha membangun ciri khas tersendiri. Di antaranya komitmen penguasaan materi terhadap siswa yang akan lulus. Nandar mencontohkan untuk jenjang TK diupayakan mampu menguasai beberapa tujuan pembelajaran. Terdiri atas bisa membaca dan menulis, berhitung, membaca Alquran, hafal 30 juz, penguasaan dasar komputer hingga berenang. Tak hanya itu, ada kewajiban bagi siswa untuk menguasai minimal dasar Bahasa Jawa Krama.
“Jadi siswa didampingi ketika belajar Bahasa Jawa, targetnya saat lulus mereka bisa minimal dasar Bahasa Jawa Krama, ini diterapkan melalui pembiasaan,” katanya.
Nandar menyadari khusus untuk jenjang TK tersebut memang diarahkan pada konsep pengenalan. Karena sebenarnya jenjang ini belum diwajibkan membaca dan menulis, akan tetapi karena tuntutan materi pembelajaran di era saat ini sehingga banyak siswa yang mampu mengikuti.
“Seperti penguasaan komputer mereka rata-rata sudah terbiasa karena eranya teknologi. Untuk membaca dan menulis itu sebagai persiapan menuju SD,” katanya.
BACA JUGA : Siswa dari SMP Negeri di Jogja Ini Raih Nilai ASPD Tertinggi
Terkait Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) untuk jenjang SD dan SMP, lanjut Nandar, masih dibutuhkan sekolah sebagai salah satu media motivasi bagi siswa untuk belajar. Meski sebenarnya hasil dari ASPD tidak sepenuhnya menjadi syarat kelulusan maupun kenaikan kelas.
“Kalau kami pilih tengah-tengah [mengomentari ASPD] di satu sisi ada positifnya juga untuk memotivasi, tetapi di sisi lain kadang menjadi beban tersendiri bagi siswa,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
Advertisement
Advertisement









