Cincalok Antar Mahasiswa UAJY Raih Hibah

Media Digital
Media Digital Rabu, 30 Agustus 2023 07:57 WIB
Cincalok Antar Mahasiswa UAJY Raih Hibah

Alumni UAJY/Simponi.uajy.ac.id

JOGJA—Meski mudah didapatkan dan terkesan murah, bukan berarti kuliner Nusantara murahan. Setidaknya hal ini dibuktikan, Meisy, mahasiswa Studi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Berkat risetnya mengenai cincalok, makanan asal Kalimantan Barat ini kian dikenal khayalak dan mendapatkan hibah.

Cincalok merupakan masakan asal Kalimantan Barat; berkembang di Kepulauan Riau; termasuk bahan masakan peranakan di daerah Malaka dan dikenal di Bangka-Belitung sebagai kecalok. Terbuat dari udang berukuran kecil yang difermentasi menggunakan bantuan mikrob, kelompok bakteri asam laktat.

BACA JUGA : Program Metaverse UAJY, Kuliah Bisa seperti Main Gim

Menurut penelitian, cincalok memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 18,18%- 19,26%. Meski tinggi, konsumsi makanan Nusantara ini disarankan dalam batas wajar. Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cincalok juga mudah didapat, yakni udang rebon, garam dan gula. Harga jual cincalok di pasaran cukup beragam, antara Rp15.000-Rp30.000 per kilogram.

Guna membuktikan hal tersebut secara ilmiah, Meisy membuat riset dengan judul Kualitas dan Kemampuan Antibakteri Cincalok dengan Penambahan Variasi Konsentrasi Kultur Starter Bakteri Asam Laktat. Tidak puas sebagai bahan penelitian di tingkat akhir kuliah, Meisy pun mendaftarkan risetnya untuk mengikuti program Indofood Research Nugraha (IRN) pada pertengahan 2022.

Program tanggung jawab sosial PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) yang bergulir sejak 2006 ini merupakan upaya perusahaan untuk berdialog dengan dunia pendidikan tinggi. Selain itu, program ini juga menjadi wadah dihasilkannya visi dan teknologi yang terbarukan di bidang pengolahan pangan melalui para peneliti muda di berbagai disiplin ilmu. Mahasiswa yang berhasil berhasil lolos kriteria Indofood untuk mendukung program Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal berhak mendapatkan hibah.

Meisy memilih judul riset tersebut berharap dapat mengenalkan cincalok lebih luas. Apalagi, kata dia, cincalok masih kurang dikenal oleh masyarakat luar Kalimantan Barat. Dengan adanya riset ini, dia berharap dapat meningkatkan nilai ekonomis biaya produksi makanan tersebut. Sebelum mengikuti ajang ini, Meisy tidak hanya menggali topik, mencari literatur tetapi juga berdiskusi bersama alumni dan dosen.

“Hasil penelitian ini berupa naskah skripsi dan jurnal. Sekarang, penelitiannya sudah hampir selesai. Rencana, November [2023] akan pendadaran jika tidak ada halangan,” katanya saat dihubungi melalui media sosial Instagram, Selasa (22/8/2023). (BC)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online