Indonesia Hajar Bangladesh 6-1 di Babak Pertama, Mitchell Baker Cetak 4 Gol
Indonesia unggul 6-1 atas Bangladesh di babak pertama FIFA Asean Cup 2026. Mitchell Baker mencetak empat gol untuk skuad Garuda.
Mahasiswa UII mengembangkan RespiraTB, wearable berbasis sensor accelerometer untuk skrining awal gejala TBC secara real-time. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengembangkan RespiraTB, platform wearable berbasis sensor accelerometer yang dirancang untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Perangkat ini ditujukan sebagai sarana skrining awal agar masyarakat dengan gejala yang mencurigakan tuberkulosis (TBC) tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
RespiraTB dikembangkan oleh Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Manajemen Rekayasa, dan Isfana Fatimah Darman dari Kedokteran. Inovasi tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Ali Parkhan melalui riset kewirausahaan dalam ajang The 12th UTU Awards 2026.
Ketua Tim, Afwan Aditya Saputra, mengatakan pengembangan RespiraTB berangkat dari persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Menurut dia, gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan masih kerap dianggap sepele sehingga pemeriksaan baru dilakukan ketika kondisi pasien memburuk.
"Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Kami melihat gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius oleh masyarakat," ujar Afwan, Jumat (2/10/2026).
Ia menambahkan, teknologi wearable pada RespiraTB diposisikan sebagai sarana pemantauan kontinu sehingga kondisi pernapasan dapat dipantau sejak dini.
Secara teknis, RespiraTB menggunakan sensor accelerometer/IMU untuk mengukur perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data tersebut kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32 dan algoritma filtering serta sistem skoring berbasis ambang statistik.
Hasil pemrosesan dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui Firebase. Dengan mekanisme tersebut, perangkat dirancang untuk menghasilkan pemantauan karakteristik pernapasan secara kontinu dan non-invasif.
Anggota Tim dari Prodi Kedokteran, Isfana Fatimah Darman, menegaskan RespiraTB tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter maupun diagnosis medis resmi.
"RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan respiratory rate dan work of breathing," kata Isfana.
Ia menjelaskan diagnosis definitif TBC tetap membutuhkan pemeriksaan medis profesional di fasilitas kesehatan.
Pengujian di laboratorium menunjukkan RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate (RR) sebesar 96,28 persen jika dibandingkan dengan penghitungan manual. Deviasi maksimal hasil pengukuran tercatat satu napas per menit.
Sensor MPU6050 juga mencatatkan akurasi 92,08 persen terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes). Sementara itu, transmisi data dari ESP32 menuju aplikasi mobile memiliki tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.
Dari sisi pengembangan bisnis, anggota Tim dari Prodi Manajemen Rekayasa, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar, mengatakan RespiraTB membidik pasar melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).
Riset tim memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) mencapai Rp1,035 triliun per tahun. Untuk tahap awal, pasar yang ditargetkan berada di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
"Pada tahun pertama, kami menargetkan penjualan sebanyak 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar," terang Huda.
Ia menyebutkan skema kolaborasi B2B akan menyasar Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta organisasi seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund.
Dosen Pembimbing, Ali Parkhan, mengapresiasi keunggulan serta kebaruan (novelty) riset yang dikembangkan mahasiswa UII tersebut.
"Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu dan non-invasif," jelas Ali Parkhan.
Ia menambahkan penggabungan data fisiologis dengan gejala subjektif melalui algoritma skoring dapat menghasilkan indeks risiko pernapasan secara real-time.
Sementara itu, Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, Agus Mansur, menyatakan pihak fakultas mendukung pengembangan tahap lanjutan RespiraTB.
"Pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala lebih luas, pembuatan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat, termasuk pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI," ungkap Agus Mansur.
Pihak fakultas berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari solusi pemantauan kesehatan yang praktis, terjangkau, serta mendukung deteksi dini TBC nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Indonesia unggul 6-1 atas Bangladesh di babak pertama FIFA Asean Cup 2026. Mitchell Baker mencetak empat gol untuk skuad Garuda.
Pemerintah membuka registrasi Perlinsos Digital untuk memutakhirkan data calon penerima bansos yang akan digunakan dalam penyaluran bantuan pada 2027. Masyaraka
Grammy Awards 2027 tetap akan menghadirkan kategori Best Asian Pop Music Performance meski sebelumnya menuai perdebatan di kalangan musisi. Recording Academy me
Kapolri Suyudi Ario Seto memutasi 88 perwira melalui ST/2205/X/KEP./2026. Sejumlah jabatan utama Mabes Polri ikut berganti.
Alice Walton menambah kekayaan US$33 miliar menjadi US$134 miliar dalam daftar Forbes 2026. Ini sumber kekayaan dan bisnisnya.
Paramount dan Warner Bros akan menjadi Skydance pada 6 Oktober. Simak aset, pimpinan, dan waralaba yang bergabung.