Dosen Unisa Ciptakan Aplikasi MySADARI, Bantu Perempuan Deteksi Kanker Payudara

Sunartono
Sunartono Rabu, 04 November 2026 20:27 WIB
Dosen Unisa Ciptakan Aplikasi MySADARI, Bantu Perempuan Deteksi Kanker Payudara

Unisa Yogyakarta mengembangkan MySADARI, aplikasi gratis dengan empat fitur untuk membantu perempuan melakukan deteksi dini kanker payudara. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN— Perempuan kini bisa memanfaatkan aplikasi MySADARI untuk membantu melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin. Aplikasi yang dikembangkan dosen Program Studi Kebidanan Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Intan Mutiara Putri, bersama tim lintas keilmuan ini menyediakan empat fitur untuk mengenali faktor risiko kanker payudara hingga mengingatkan jadwal pemeriksaan setiap bulan.

MySADARI dirancang sebagai media edukasi kesehatan yang praktis dan mudah diakses. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mempelajari tahapan pemeriksaan payudara sendiri, mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko kanker payudara, serta memperoleh informasi mengenai pentingnya deteksi dini.

Gagasan pengembangan aplikasi ini berawal dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Puskesmas Kasihan I pada 2022. Saat itu, sasaran kegiatan adalah kader kesehatan yang membutuhkan media edukasi agar informasi mengenai pemeriksaan payudara sendiri tidak mudah terlupakan.

"Awalnya, kami bersama mitra di Puskesmas Kasihan I memberikan edukasi dengan sasaran kader kesehatan. Para kader menyampaikan bahwa ketika menggunakan leaflet, sesampainya di rumah mereka sering lupa. Dari kebutuhan untuk mengingat kembali kapan melakukan Sadari itulah kami menghadirkan aplikasi MySADARI," kata Intan, Rabu (4/11/2026).

Empat Fitur MySADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara

Aplikasi MySADARI dikembangkan melalui kolaborasi tim dari Program Studi Kebidanan dan Teknologi Informasi Unisa Yogyakarta. Ada empat fitur utama yang dapat dimanfaatkan perempuan untuk mendukung kebiasaan pemeriksaan payudara secara mandiri.

Fitur pertama berupa skrining faktor risiko kanker payudara. Pengguna diminta menjawab sejumlah pertanyaan berdasarkan kondisi masing-masing, termasuk riwayat keluarga dengan kanker payudara, usia menstruasi pertama di bawah 12 tahun, belum pernah melahirkan, serta belum pernah menyusui atau memiliki riwayat menyusui kurang dari enam bulan.

Skrining juga mencakup faktor lain, seperti melahirkan pada usia di atas 35 tahun, penggunaan kontrasepsi hormonal, menopause pada usia lebih dari 50 tahun, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan obesitas.

Apabila pengguna memiliki setidaknya satu faktor tersebut, aplikasi akan menunjukkan hasil bahwa yang bersangkutan mempunyai risiko lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak memiliki faktor risiko tersebut.

"Kalau salah satu saja jawabannya iya, hasil akhirnya akan menunjukkan bahwa dia memiliki faktor risiko kanker payudara. Tetapi, berisiko di sini bukan berarti dia akan mengidap kanker payudara," terang Intan.

Fitur kedua menyediakan panduan pemeriksaan payudara sendiri. Pengguna dapat mengikuti instruksi secara bertahap yang dilengkapi ilustrasi visual, mulai dari gerakan tangan hingga bagian payudara yang perlu diperhatikan saat melakukan perabaan.

Panduan tersebut diharapkan membantu perempuan memahami teknik Sadari dan mengenali perubahan maupun kondisi yang tidak normal pada payudara ketika melakukan pemeriksaan di rumah.

Selanjutnya, fitur ketiga berfungsi sebagai pengingat jadwal pemeriksaan bulanan. Pengguna cukup memasukkan tanggal pertama menstruasi untuk mendapatkan pengingat otomatis mengenai waktu yang disarankan melakukan Sadari.

Intan menjelaskan pemeriksaan idealnya dilakukan pada hari ketujuh hingga kesepuluh sejak hari pertama menstruasi. Pada periode menjelang menstruasi, payudara umumnya lebih sensitif, tegang, atau terasa nyeri sehingga kondisi tersebut dapat menyulitkan perempuan membedakan perubahan normal dengan gejala yang perlu diperhatikan.

"Secara teori, Sadari dilakukan pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh menstruasi. Kalau dilakukan sebelum menstruasi, payudara terkadang terasa tegang dan nyeri. Kondisi itu bisa mengaburkan penilaian terhadap rasa nyeri yang tidak normal," ungkapnya.

Sementara itu, fitur keempat berisi berbagai informasi seputar kanker payudara. Materi edukasi tersebut disediakan untuk memperluas pemahaman pengguna mengenai penyakit kanker payudara dan pentingnya pemeriksaan sejak dini.

MySADARI Diuji Melalui Penelitian pada 2025

Setelah dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, aplikasi MySADARI kembali menjalani pengujian melalui penelitian pada 2025. Tim pengembang mengajukan hibah penelitian melalui program RisetMu untuk menguji efektivitas aplikasi terhadap pengetahuan dan sikap pengguna mengenai deteksi dini kanker payudara.

Pengujian dilakukan kepada mahasiswa nonkesehatan dengan durasi penggunaan aplikasi sekitar dua minggu. Penelitian tersebut diarahkan untuk melihat perubahan pengetahuan dan sikap mahasiswa setelah memanfaatkan MySADARI.

"Pada 2025, kami mengajukan penelitian hibah dari RisetMu. Aplikasi MySADARI kami ujikan secara ilmiah kepada mahasiswa nonkesehatan selama kurang lebih dua minggu untuk melihat peningkatan pengetahuan dan sikap mereka terhadap deteksi dini kanker payudara," jelasnya.

Saat ini, MySADARI sudah tersedia secara gratis melalui Google Play Store. Pengguna dapat mengunduh aplikasi tersebut dan melakukan registrasi menggunakan alamat email serta kata sandi yang dibuat sendiri.

Mengenai keamanan informasi pengguna, Intan menjelaskan data yang dimasukkan ke aplikasi disimpan di server Unisa Yogyakarta dan tidak dapat diakses secara umum. Sistem juga dilengkapi mekanisme login menggunakan username dan password.

Penggunaan aplikasi tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan yang masih mengalami menstruasi. Perempuan yang sudah menopause tetap dapat memanfaatkan MySADARI dengan menentukan sendiri jadwal pemeriksaan bulanan.

"Untuk perempuan yang sudah menopause, pengaturan jadwalnya bisa menggunakan tanggal yang ditentukan sendiri. Jadi, yang penting tetap melakukan pemeriksaan setiap bulan pada tanggal yang sama," katanya.

Intan menyebutkan edukasi mengenai Sadari dapat mulai diberikan kepada perempuan sejak usia 18 tahun. Ke depan, pemanfaatan aplikasi tersebut juga berpeluang diperluas melalui kegiatan edukasi kesehatan di masyarakat dengan melibatkan kader PKK maupun Posyandu.

Unisa Yogyakarta Perkenalkan Inovasi Kesehatan Perempuan

Pengembangan MySADARI menjadi salah satu bagian dari kampanye inovasi Unisa Yogyakarta bertajuk Riset Tepat Masyarakat Sehat. Kampanye tersebut memperkenalkan sejumlah hasil pengembangan riset yang berfokus pada kesehatan perempuan dan anak sepanjang daur kehidupan.

Kepala Biro Humas dan Protokol Unisa Yogyakarta, Sinta Maharani, mengatakan MySADARI diperkenalkan bersama sejumlah inovasi lain yang memiliki sasaran dan manfaat berbeda.

Salah satunya Kursi Oksitosin Ibu Menyusui (KursiMu), sebuah inovasi yang dirancang untuk membantu memperlancar produksi ASI bagi ibu menyusui.

Unisa Yogyakarta juga memperkenalkan Smart Sensor Bracelet (SErBet) berbasis Internet of Medical Things (IoMT). Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung deteksi dini risiko stunting melalui edukasi kesehatan bagi ibu dan pemeriksaan terhadap anak.

Selain itu, terdapat GOE-KB atau Gendongan Oksitosin Ergonomis Kelekatan pada Bayi. Produk tersebut dikembangkan untuk mendukung kenyamanan sekaligus membangun kelekatan antara ibu dan bayi.

"Yang sedang kami kampanyekan kali ini berkaitan dengan kesehatan perempuan sepanjang daur hidupnya. Mulai dari deteksi dini kanker payudara, pencegahan stunting, bagaimana mengelola anak-anak ketika masih bayi dengan gendongan oksitosin, hingga KursiMu untuk ibu menyusui," ujar Sinta.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online