Kamu Lulusan SMA/SMK dan Ingin Kerja di Dunia Penerbangan? Ada Info Menarik nih!
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949/Wikipedia
Harianjogja.com, JOGJA—Tidak lebih dari sepekan lagi, kita akan memeringati hari bersejarah Serangan Umum 1 Maret.
Serangan Umum 1 Maret mengingatkan pada sebuah serangan penjajah Belanda di Kota Jogja. Dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, penjajah dari Belanda berhasil ditaklukkan oleh kekuatan tentara dalam negeri di Bumi Mataram ini.
Sebagai pengingat akan momentum penting ini, pemerintah telah membangun Monumen Serangan Umum 1 Maret yang lokasinya di sisi Timur Laut Titik Nol Kilometer atau seletan Benteng Vredeburg. Saat malam hari, monumen ini tampak indah karena patung para pejuang tersorot lampu yang cukup terang.
Banyak wisatawan yang berfoto di tempat ini. Mereka menghabiskan waktu berwisata di Titik Nol sembari berwisata pendidikan di monumen tersebut.
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 memang menjadi kisah yang menarik disimak setiap tahun. Serangan spektakuler ini mampu mengembalikan kewibawaan Indonesia.
Baca juga: Ditemukan Kasus Jual-Beli Sertifikat Vaksin Covid-19, Begini Respons Dinkes Jogja
Berdasarkan buku berjudul Patriot Bangsa, Vredeburg setidaknya ada 13 patriot yang paling berperan terhadap peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Siapa saja mereka?
Adalah sosok perintis Badan Intelijen Negara. Pada akhir 1948 Zulkifli menerima informasi intelijen terkait kemungkinan serangan Belanda ke Ibu Kota RI di Yogyakarta. Sesuai siasat yang disepakat Lubis dan pasukannya mundur ke luar kota menuju ke Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Di wilayah ini sebagai tempat pengungsian, basis pertahanan militer sekaligus sebagai tempat penyimpanan candu.
Pada 1948 Djatikusumo menjabat sebagai KSAD sekaligus Gubernur Akmil dengan pangkat Kolonel. Bersama satuannya para taruna Akmil Djatikusumo ikut bergerilya dan berjuang di medan pertempuran menghadang dan menyerang pos Belanda. Setelah Serangan Umum 1 Maret dan diplomasi menguntungkan.
Selaku Komandan Divisi II yang membawahi wilayah Solo dan sekitarnya, Gato Subroto bersama anak buahnya melakukan penyerangan terhadap tentara Belanda yang akan memberikan bantuan ke Yogyakarta.
Wiliater Hutagalung adalah seorang dokter TNI, ia yang memiliki gagasan penyerangan spektakuler untuk menghadapi propaganda Belanda. Gagasan tersebit disetujui Panglima Soedirman dan mengkoordinasikan dengan Panglima Divisi II dan Divisi III.
Saat Ibu Kota Yogyakarta dikuasai Belanda, atas perintah Presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintaha Darurat Republik Indonesia.
Mendirikan stasiun darurat di rumah warga di Banaran, Playen, Gunungkidul. Di rumah ini menggunakan Radio PHB PC-2, Boediardjo menyiarkan kabar serangan umum 1 Maret ke Takengon Aceh dan diteruskan ke New Delhi hingga sampai ke PBB.
TB Simatupang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang yang menyetujui Serangan Umum 1 Maret untuk menegaskan kedudukan Republik Indonesia.
Pada mas Agresi Militer Belanda II, AH Nasution bertugas sebagai Panglima Tentara Teritorium Djawa bermarkas di Yogyakarta. Pada 20 Desembr 1948 ia menuliskan maklumat pemberlakukan pemerintahan militer seluruh Jawa hingga diikuti perintah strategis seperti operasi.
Serangan Umum 1 Maret menjadi puncak kemenangan diplomasi Indonesia di Sidang PBB. Propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada berhasil dipatahkan L.N. Palar dalam pidatonya di Sidang DK PBB 10 Maret 1948 di Amerika Serikat.
Untuk melawan propaganda Belanda, Soedirman menginstruksikan Langkah tertentu yang harus diambil, sebagai puncaknya dilakukanlah serangan terbuka dikenal Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat Yogyakarta dikuasai Belanda Soedirman memilih untuk bergerilya membuat kantong perlawanan.
Ketika Belanda menguasai Yogyakarta, HB IX Menyusun rencana untuk mengembalikan semangat juang rakyat, lalu muncullah ide untuk melakukan serangan balasan. Sri Sultan mengirim surat kepada Jenderal Soedirman perihal rencana tersebut. Soedirman mendukung dan menyarankan HB IX agar berkoordinasi dengan Letkol Soeharto. Dua pekan sebelum serangan umum, HB IX membuka pintu kraton untuk berlindung TNI dan menyiapkan persenjataan. Kompleks Kraton dijadikan sebagai pusat serangan, di mana banyak tentara yang berlindung di dalamnya.
Sebagai Komandan WK IIO, Soeharto mempersiapkan pasukan dengan membagi batas tiap sector. Soeharto meminta setiap Sub Wehrkreise harus menempatkan pasukan di dalam kota dengan cara sembunyi.
Menjabat sebagai Panglima Divisi III membawahi wilayah Yogyakarta menginstruksikan kepada seluruh TNI untuk mengikat pasukan Belanda agar mencegah bala bantuan masuk ke Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Warga Kulon Progo gunakan anyaman daun kelapa sebagai wadah daging kurban untuk kurangi sampah plastik saat Iduladha 1448 H.
AS mengerahkan jet tempur F-22 dan puluhan pesawat pengisi bahan bakar di Israel hingga akhir tahun 2026.
Toyota bidik 300 SPK di IIMS Surabaya 2026 lewat peluncuran mobil hybrid baru dan berbagai program insentif pembelian kendaraan EV.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Kamis 28 Mei 2026 lengkap semua stasiun dengan tarif Rp8.000 dan keberangkatan pagi hingga malam.
Tips sehat konsumsi daging kurban saat Iduladha agar kolesterol tetap aman, mulai dari cara memasak hingga mengatur porsi makan.