Advertisement

Kelestarian Air Jadi Tanggung Jawab Bersama

Sirojul Khafid
Rabu, 26 Maret 2025 - 09:27 WIB
Ujang Hasanudin
Kelestarian Air Jadi Tanggung Jawab Bersama Harian Jogja/Sirojull KhafidSuasana Seminar dan Buka Bersama Puasa Ramadan: Melestarikan dan Mengelola Air, Menyelamatkan Kehidupan di Hotel Tentrem Jogja, Jetis, Kota Jogja, Selasa (25/3 - 2025).

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pola kerusakan lingkungan di DIY, apabila terus dibiarkan, berpotensi menyebabkan kekeringan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Urusan air menjadi tanggung jawab bersama, dengan manusia memiliki peran penting di dalamnya.

Hal ini disampiakan oleh Kepala Bebadan Pangreksa Loka Kraton Jogja, Raden Mas Gusthilantika Marrel Suryokusumo dalam Seminar dan Buka Bersama Puasa Ramadan: Melestarikan dan Mengelola Air, Menyelamatkan Kehidupan. Acara yang merupakan inisiasi Harian Jogja ini berlangsung di Hotel Tentrem Jogja.

Advertisement

Raden Mas Marrel mengatakan sudah sejak 2023, Kraton Jogja membentuk badan khusus yang mengurusi lingkungan. Hal ini berawal dari keresahan, bahwa wilayah resapan air di Gunung Merapi sudah mulai memprihatinkan. Kerusakan resapan air dari tambang hingga alih lahan. Padahal kelestarian air di kawasan Gunung Merapi, lanjut Raden Mas Marrel, akan berdampak pada DIY wilayah tengah hingga Selatan.

"[Kami melihat] tidak ada yang concern yang ke arah situ, bergerak ke urusan air, [atau misal ada yang concern, namun] tidak pernah tersuarakan ke banyak pihak, yang akhirnya suaranya hilang, kami ingin masuk ke situ," kata Raden Mas Marrel, Selasa (25/3/2025).

Salah satu dampak nyatanya, pada masa pandemi Covid-19 sekitar 2021-2022, wilayah Kaliurang sempat kekeringan. Padahal Kaliurang dekat dengan Gunung Merapi. Kraton Jogja sempat dropping air setiap harinya. Salah satu langkah nyata mengurangi kerusakan alam, melalui satgas, Pemda DIY menutup 14 tambang pasir ilegal di lereng Gunung Merapi.

Menurut Raden Mas Marrel, penyelamatan air berada di tangan manusia. Tuhan memberikan akal budi pada manusia, yang pada akhirnya bisa membantu memperbaiki dan melestarikan lingkungan. "Sedikit banyak nasib kita di tangan Tuhan, nasib lingkungan ada di tangan kita juga. Ini bagian dari hamemayu hayuning bawana, mempercantik dan menjaga semua ciptaan-Nya termasuk lingkungan hidup," katanya.

BACA JUGA: Aksi Demo Tenaga Kesehatan RSUP Dr Sardjito Disebabkan Faktor Ini

Di samping dari sisi hulu, penting juga pelestarian air di tengah dan hilir. Kepala Balai Besar Wilayah Serayu Opak, Gatut Bayuadji, mengatakan masyarakat Indonesia terlena, lantaran berada di daerah tropis. Sehingga keberlimpahan air, membuat masyarakat tidak kritis dengan kondisi airnya.

Tidak hanya dari sisi sumber, distribusi air juga perlu menjadi perhatian. Air tanah, lanjut Gatut, sudah terbatas, sehingga perlu lebih manfaatkan air permukaan. "Khususnya di Sungai Progo, kunci utama air permukaan," katanya. "[Kami berprinsip] boleh membangun dan mengubah daerah aliran sungai, tapi variabel infiltrasi hingga evaporasi dijaga tetap lestari."

Perkara distribusi air, PDAB Tirtatama DIY juga memiliki peran dalam penyediaan air bersih hingga air minum. Sebagai lembaga yang memasok air untuk kabupaten dan kota di wilayah DIY, Direktur Utama PDAB Tirtatama DIY, Teddy Kustriyanto Widodo, mengatakan penyerapannya saat ini masih sekitar 51%. Masih ada ruang untuk pemaksimalan air yang sudah terstandar kesehatan dari Kementerian Kesehatan.

PDAB Tirtatama DIY berupaya membangun fasilitas yang bisa menjebak air, baik dalam bentuk bendungan maupun pengolahan. Distribusi air, lanjut Teddy, perlu mulai bergerak, tidak hanya melalui air tanah. "[Air dari PDAB] lebih sehat untuk masyarakat, dari pada yang menggunakan air sumur. Air sumur sudah tercemar, sudah seharusnya beralih ke air perpipaan," katanya.

Sementara dari sisi pengguna, General Manager Hotel Tentrem Yogyakarta, Christoporus Yulianto, mengatakan bahwa usahanya berupaya mengolah dan menghemat air dengan standar yang baik. Hotel Tentrem setiap harinya membutuhkan 233 meter kubik air. Angka ini menjadi salah satu pengguna air tertinggi di Jogja.

Bersama rekanan yang merupakan perusahaan farmasi dan kimia, lanjut Yulianto, pengolahan air di Hotel Tentrem sudah menggunakan standar yang tinggi. Tidak hanya hemat, air yang menjadi limbah aman untuk lingkungan sekitar.

"Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kami harus menggunakan sistem yang baik, harus ikuti standar. Kami bisa pastikan air limbah pemakaian di hotel dalam kualitas yang terjaga, di saluran limbah kami, bisa kami gunakan untuk pelihara ikan lele dan itu hidup. Pengolahan limbah di Hotel Tentrem berusaha makin baik dan lebih baik lagi dari waktu ke waktu," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Geledah Rumah Djan Faridz, Penyidik KPK Sita Uang dan Dokumen

News
| Sabtu, 29 Maret 2025, 03:47 WIB

Advertisement

alt

Taman Wisata Candi Siapkan Atraksi Menarik Selama Liburan Lebaran 2025, Catat Tanggalnya

Wisata
| Sabtu, 22 Maret 2025, 16:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement