Advertisement
Dosen UGM Olah Silika Geothermal Jadi Nanosilika Penyubur Tanaman
Dosen Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada, Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus mengoptimalkan endapan silika dari fluida panas bumi yang merupakan produk ikutan dapat diolah Himawan secara inovatif menjadi penyubur dan penguat tanaman. - Istimewa // UGMÂ
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN — Potensi panas bumi atau geothermal kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi, tetapi juga dikembangkan menjadi inovasi pertanian berkelanjutan. Dosen Fakultas Teknik Departemen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, berhasil mengolah endapan silika dari fluida panas bumi menjadi nanosilika yang berfungsi sebagai penyubur sekaligus penguat tanaman.
Endapan silika yang sebelumnya hanya dianggap produk ikutan geothermal kini direkayasa melalui pengendalian proses material secara bertahap hingga menghasilkan nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, serta konsisten.
Advertisement
“Proses ini juga dirancang agar memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan,” kata Himawan pada Senin (26/1/2026).
Menurut Himawan, pemanfaatan nanosilika dalam sektor pertanian mampu memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan batang, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi di dalam tanaman.
BACA JUGA
Keunggulan utama nanosilika, lanjutnya, terletak pada tingkat ketersediaan hayati yang tinggi karena ukuran dan bentuk partikelnya mudah diserap oleh tanaman.
Selain efektif secara biologis, penggunaan nanosilika juga tergolong sangat efisien. Dosis yang dibutuhkan hanya sekitar 1 hingga 2 kilogram per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK.
Kondisi ini, menurut Himawan, turut mendukung praktik pertanian yang adaptif, hemat sumber daya, serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Dalam berbagai uji coba lapangan atau demplot, aplikasi nanosilika menunjukkan peningkatan produktivitas tanaman mencapai 30 hingga 50 persen pada sejumlah komoditas seperti padi, jagung, alpukat, pepaya, dan anggur.
Namun, Himawan menegaskan peningkatan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh nanosilika saja.
Produktivitas yang meningkat juga dipengaruhi sinergi dengan bahan lain seperti humat dan boron yang dirancang dalam satu formulasi berbasis pendekatan total extraction serta perbaikan kesehatan tanah secara menyeluruh.
“Tapi sekali lagi, ini tidak hanya kita berbicara hanya nanosilikanya, tetapi juga sinergitas dari aditif yang kita tambahkan untuk memastikan bahwa tanahnya sehat dan tanamannya juga sehat,” ujarnya.
Tak berhenti di sektor pertanian, pengembangan nanosilika geothermal juga merambah bidang teknologi dan energi.
Di sektor elektronik, nanosilika dikombinasikan dengan hidrogel untuk sistem pendingin pusat data dan baterai.
Kombinasi tersebut terbukti mampu meningkatkan kapasitas penyerapan air hidrogel hingga tiga sampai lima kali lipat, sehingga berdampak pada peningkatan efisiensi dan kinerja pendinginan.
“Riset lanjutan juga diarahkan pada pengembangan material penyerap uap air dari udara, serta aplikasi lain seperti biosensor dan biomaterial yang mendukung pengembangan teknologi hijau dan sistem cerdas,” tandasnya.
Himawan berharap inovasi berbasis silika geothermal ini tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas serta mendorong adopsi teknologi berkelanjutan di berbagai sektor.
“Sebagai peneliti, kami selalu berharap bahwa hasil penelitian itu tidak berhenti pada jurnal internasional, tidak berhenti pada publikasi, tidak hanya berhenti pada paten, tetapi benar-benar bermanfaat dan benar-benar memberikan dampak ke masyarakat,” tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas
Advertisement
Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia
Advertisement
Berita Populer
- Skema M3K Mulai Diterapkan untuk Rumah di Sempadan Sungai Jogja
- Ular Sanca 2,5 Meter Masuk Kandang Ayam Warga Siraman Gunungkidul
- Bawa Celurit Seusai Cekcok Laka Lantas, Dua Pemuda Ditangkap
- Keraton Jogja Beri Serat Palilah Pemanfaatan Tanah SG di Turgo Sleman
- Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Mulai Dijual, Ini Jadwal dan Tipsnya
Advertisement
Advertisement



