Kemensos Libatkan 902 Taruna TNI dan Akpol untuk Sekolah Rakyat
Kemensos menerjunkan 902 taruna Akademi TNI dan Akpol mendampingi siswa Sekolah Rakyat saat MPLS untuk memperkuat karakter dan disiplin.
Coffee Morning Lecturer bertajuk Prospek dan Tantangan Penerapan Hydropower di Indonesia yang digelar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII). /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Wilayah Sungai Serayu Opak memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan guna menghasilkan energi baru dan terbarukan atau EBT. Potensi renewable energy itu dapat berbentuk bentuk potensi PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro).
Isu ini dibahas dalam diskusi Coffee Morning Lecturer bertajuk Prospek dan Tantangan Penerapan Hydropower di Indonesia yang digelar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (2/3/2023).
BACA JUGA : Pohon Lamtoro Bisa Diolah Jadi Sumber Energi Baru
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perencanaan dan Program Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Shakti Rahadiansyah menyatakan Kawasan sungai Serayu Opak memang memiliki banyak potensi. Bahkan izin penggunaan air di Indonesia setengah di antaranya berasal dari Jogja dalam hal ini Sungai Serayu Opak yang berafa di bawah kendali BBWSSO.
“Kalau misalnya ada 10.000 izin terkait air, dari Jogja ada 5.000. Izin penggunana air untuk wilayah serayu opak ini cukup tinggi,” katanya.
Ia membeberkan sejumlah potensi aliran sungai yang dapat dimanfaatkan untuk PLTA dan PLTMH di antaranya Klawing Serayu dengan potensi 14,1 megawatt, Karangsembung 19 megawatt, Bogowonto 2 tercatat 5 megawatt dan Bogowonto 3 juga 5 megawatt.
BACA JUGA : Dukung Energi Terbarukan, 2 Perusahaan Besar DIY
“Potensi keempatnya ini sangat besar dan sampai saat ini belum dibangun pemanfaatan energinya. Seandainya ada yang bisa memanfaatkan tentu akan kami persilahakan,” katanya.
Selain itu ada bendungan yang juga berpotensi untuk dikembangkan dan menghasilkan energi. Terdiri atas Bendungan gerak Serayu yang diperkirakan mampu menghasilkan energi 5 megawatt, Waduk Bener sebanyak 6 megawatt dan Waduk Lintang diprediksi mampu hasilkan 5 megawatt.
“Kalau yang eksisting sudah berjalan itu Wadaslintang, Sempor dan Mrica,” katanya.
Dekan FTSP UII Ilya Fajar Maharika mengatakan UII sebagai lembaga Pendidikan tinggi akan terus berupaya memproduksi ilmu pengetahuan, terutama yang sesuai dengan fakultasnya di bidang perencanaan dan sipil. Melalui diskusi tersebut secara perlahan dapat diungkap bahwa Kawasan Serayu Opak ternyata memiliki potensi energi yang sangat besar. Sifatnya energinya pun terbarukan sehingga bisa menjadi alternatif ke depan.
BACA JUGA : Energi Terbarukan Sulit Dikembangkan di DIY, Ini Penyebabnya
“Ada beberapa hal, kita peru integrasi keilmuan tugas perguruan salah satu perlu integrasi kebijakan. Pertemuan itu berusaha mengubah sudut pandang memproduksi pengetahuan harus tetao berjalan karena itu tugas utama perguruan tinggi. Tetapi membumikan konteks problem yang ada di masyarakat jadi kewajiban harus dilakukan. Maka kami gelar diskusi dengan tema yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemensos menerjunkan 902 taruna Akademi TNI dan Akpol mendampingi siswa Sekolah Rakyat saat MPLS untuk memperkuat karakter dan disiplin.
Kasus HIV/AIDS di Gunungkidul bertambah 36 hingga Mei 2026. Dinkes mencatat 372 pasien rutin berobat, termasuk 13 anak.
Survei LKPI mencatat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,3% pada semester I 2026.
Program Listrik Desa ditargetkan diluncurkan pada Agustus 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut jadwal peresmian masih difinalisasi.
Dewas KPK mengkaji dugaan pelanggaran etik Staf Administrasi KPK Setya Budi Dias dalam kasus dugaan pemerasan terhadap Bupati Pemalang.
Qatar akan mengirim delegasi seni ke Jogja pada Desember 2026 untuk memperingati 50 tahun hubungan Indonesia-Qatar sekaligus membahas kerja sama budaya