Forum PAK SIJI DIY Dorong Pendidikan Antikorupsi sebagai Budaya
Seminar bertajuk “Dari Diskusi ke Aksi: Merencanakan Bersama Program Pendidikan Antikorupsi sebagai Pondasi Integritas” digelar di Gedung Rektorat ISI
Parlinka Project Amikom Yogyakarta sosialisasikan pola asuh positif bagi orang tua di SMPN 1 Turi Sleman untuk hadapi tantangan remaja era digital. /Istimewa.
JOGJA—Perkembangan teknologi digital, perubahan pola pergaulan, serta meningkatnya kasus perundungan menjadikan masa remaja sebagai fase yang penuh tantangan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Di tengah kondisi tersebut, kemampuan orang tua dalam menerapkan pola asuh yang tepat menjadi faktor penting dalam membentuk karakter, kesehatan mental, serta perilaku sosial remaja.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta menggagas Parlinka Project, sebuah program sosialisasi parenting yang bertujuan membekali orang tua dengan pemahaman pola asuh positif. Kegiatan ini mengusung tema “Sosialisasi Pola Asuh Positif bagi Orang Tua dalam Menghadapi Tantangan Remaja Masa Kini” dan dilaksanakan pada Senin (16/12/2024) di SMP Negeri 1 Turi, Sleman.
Kegiatan ini dihadiri oleh para orang tua siswa, pihak sekolah, serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Perwakilan Kemdikbudristek yang hadir adalah Supratiningsih, S.Pd.
Ketua pelaksana Parlinka Project, Maria Kristiani Anjani, menjelaskan bahwa berbagai persoalan remaja saat ini, termasuk perundungan dan konflik sosial, tidak dapat dilepaskan dari pola komunikasi di dalam keluarga. Menurutnya, orang tua sering kali belum menyadari bahwa perubahan perilaku anak merupakan sinyal yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
“Remaja masa kini menghadapi tekanan yang kompleks, mulai dari pengaruh media sosial hingga lingkungan pergaulan. Orang tua perlu dibekali pemahaman agar mampu mendampingi anak dengan cara yang tepat,” ujarnya.
Parlinka Project dirancang sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi orang tua agar dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak remaja. Melalui pendekatan pola asuh positif, orang tua diajak untuk mengembangkan komunikasi yang terbuka, empatik, dan saling menghargai di dalam keluarga.
Materi utama dalam kegiatan ini disampaikan oleh Rahmad Rizaldi sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Rahmad Rizaldi menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling berpengaruh dalam pembentukan karakter anak.
“Perundungan sering kali berawal dari minimnya komunikasi di rumah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ketika anak tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, tekanan emosional dapat muncul dalam bentuk perilaku agresif maupun penarikan diri. Oleh karena itu, kehadiran orang tua secara emosional menjadi kebutuhan utama bagi remaja.
“Anak harus merasa rumah adalah tempat paling aman untuk bercerita, tanpa takut disalahkan atau dihakimi,” katanya.
Selain pemaparan materi, kegiatan Parlinka Project juga diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan para orang tua siswa. Diskusi berlangsung aktif, dengan berbagai pertanyaan seputar pengaruh media sosial, cara membangun kedekatan emosional dengan remaja, serta langkah konkret yang dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan Kemdikbudristek, Supratiningsih, S.Pd., menyampaikan bahwa keterlibatan orang tua memiliki peran krusial dalam mendukung keberhasilan pendidikan dan pembentukan karakter anak. Ia menilai kegiatan sosialisasi seperti Parlinka Project sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak.
Kepala SMP Negeri 1 Turi, Hospita Henny Koerniati, S.Pd., M.Pd., turut mengapresiasi pelaksanaan Parlinka Project. Menurutnya, sinergi antara sekolah, orang tua, mahasiswa, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan remaja masa kini.
“Kegiatan ini sangat membantu sekolah dalam membangun kerja sama yang lebih erat dengan orang tua. Ketika semua pihak berjalan bersama, anak akan merasa lebih aman dan didukung,” tuturnya.
Melalui Parlinka Project yang mengusung tagline “Didik dengan Hati, Bimbing dengan Aksi”, para mahasiswa berharap orang tua dapat menerapkan pola asuh positif secara berkelanjutan serta lebih siap mendampingi remaja menghadapi tantangan masa kini. Program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan edukatif sesaat, tetapi juga mampu mendorong perubahan pola pikir orang tua dalam membangun keluarga yang komunikatif, suportif, dan bebas dari perundungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seminar bertajuk “Dari Diskusi ke Aksi: Merencanakan Bersama Program Pendidikan Antikorupsi sebagai Pondasi Integritas” digelar di Gedung Rektorat ISI
BGN menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak membagikan susu formula untuk bayi usia 0-6 bulan dan tetap mengutamakan ASI eksklusif.
Catcrs menggandeng market maker dan broker institusional untuk memperkuat likuiditas dan stabilitas perdagangan aset digital.
Arema FC menang 3-1 atas PSIM Yogyakarta di laga terakhir BRI Super League 2026. Joel Vinicius cetak gol cepat menit ke-2.
Operasi gabungan di Bantul mengamankan 2.060 batang rokok ilegal tanpa pita cukai di Pleret dan Banguntapan.
Komisi Yudisial memantau sidang dugaan pembunuhan mahasiswi di Pantai Nipah, NTB, untuk memastikan hakim menjalankan kode etik.