Advertisement
Tanpa Botol Plastik, Kemendikdasmen Terapkan Green Meeting
Foto ilustrasi pemilahan sampah botol plastik / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menerapkan konsep green meeting dengan menghapus penggunaan air minum dalam kemasan plastik pada setiap rapat internal sebagai bagian dari dukungan terhadap gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Advertisement
Kebijakan green meeting tersebut dijalankan dengan mengganti air minum kemasan plastik menggunakan dispenser serta mewajibkan pegawai membawa botol minum atau tumbler pribadi dalam setiap kegiatan rapat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya mulai mengurangi pemakaian air minum dalam kemasan pada setiap kegiatan rapat internal guna meminimalisasi produksi sampah plastik.
BACA JUGA
“Yang lain-lain, yang baru secara penyelenggaraan, kami tidak ada minuman yang di dalam botol plastik. Jadi, kami mulai menyelenggarakan green meeting, tidak ada lagi minuman dalam kemasan plastik. Ini langsung menjawab apa yang menjadi arahan Pak Presiden terkait gerakan ASRI,” kata Mendikdasmen Mu'ti di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Selasa (10/2/2026).
Ia mengimbau seluruh pegawai di lingkungan Kemendikdasmen membawa tumbler masing-masing karena fasilitas dispenser air minum telah disediakan dalam setiap rapat sebagai bagian dari budaya green meeting.
“Kami mulai membangun budaya bersih, sadar lingkungan dan juga mengurangi konsumsi yang menimbulkan banyak sampah. Salah satunya adalah sampah dari botol-botol plastik,” ujarnya.
Sebelumnya, pada Senin (9/2/2026), Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, juga mengajak satuan pendidikan memperkuat pendidikan karakter terkait perubahan iklim dengan memperkenalkan budaya green time kepada murid untuk mengurangi screen time.
“Kami berkepentingan agar anak mulai bergeser dari screen time ke green time, dari melihat layar menjadi melihat realitas kehidupan yang sebenarnya. Menjadi aktivitas yang mengeksplorasi kondisi lingkungan sekitar," kata Pratikno.
Menurut Pratikno, disrupsi akibat perubahan iklim (climate change) telah berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya hingga politik, sehingga murid perlu dibekali pemahaman tentang langkah menekan dampak tersebut sebagai persiapan masa depan.
Ia menyebut budaya screen time murid yang dapat mencapai hingga sembilan jam perlu dialihkan menjadi green time melalui aktivitas yang mengeksplorasi lingkungan sekitar, termasuk memilah sampah dan menghabiskan bekal makanan.
“Jadi, kami ingin mengajak Bapak-Ibu Kepala Dinas, Kepala Sekolah menjadi orkestrator untuk membangun SDM unggul, mengajak semua pihak untuk bergabung, membuat sekolah sebagai media pembelajaran SDM unggul dan tangguh, sehat fisik, sehat mental, sehat sosial mampu menghadapi disrupsi perubahan iklim,” katanya.
Penerapan green meeting di Kemendikdasmen dan dorongan green time di satuan pendidikan tersebut menjadi bagian dari penguatan gerakan ASRI, sekaligus membangun budaya sadar lingkungan sejak ruang rapat hingga ruang kelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




